TRIBUNWIKI

Profil Jenderal Soedirman - Pahlawan Nasional Republik Indonesia

Kamis, 23 Mei 2019 07:37 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM – Sejak kecil Raden Soedirman (selanjutnya Sudirman) lebih banyak tinggal bersama pamannya ketimbang bersama orangtuanya. Masalah ekonomi menjadi alasan utama Sudirman tinggal bersama pamannya, Raden Cokrosunaryo yang saat itu adalah seorang camat. (1)

Sudirman mulai mengenyam bangku sekolah ketika ia berusia 7 tahun. Ia dimasukkan ke Hollandsche Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk pribumi pada masa kolonial Belanda.

Lulus dari HIS, Sudirman kemudian pindah ke sekolah menengah milik Taman Siswa. Namun hanya satu tahun karena sekolah milik Taman Siswa itu dianggap liar oleh Belanda dan akhirnya dilarang.

Sudriman kemudian pindah ke MULO, setingkat SMP Wiworotomo. Di Wiworotomo, Sudirman banyak belajar ilmu agama dari Raden Muhammad Kholil. Ia terkenal sangat taat beragama, bahkan teman-temannya menjulukinya sebagai “Haji”.

Ia juga aktif berorganisasi, ia menjadi salah satu pendiri organisasi kepemudaan, seperti pramuka di bawah naungan Muhammadiyah, Hisbul Wathan (HW).

Meski prestasi akademiknya biasa saja, namun Sudirman terkenal sangat disiplin, hal ini tidak lepas dari didikan sang paman.

Pernah dalam sebuah acara jambore yang diadakan oleh HW di lereng Gunung Slamet yang sangat dingin, semua peserta jambore tidak tahan dengan hawa dingin yang menyengat itu. Semua bermalam di rumah-rumah penduduk setempat, kecuali satu orang, Sudirman. (2)

Pada 1934, sang paman yang mengasuhnya meninggal dunia. Hal ini membuat perekonomian keluarganya semakin payah. Beruntung Sudirman tetap diizinkan sekolah di Wiworotomo sampai ia tamat pada 1935 tanpa membayar tagihan sekolah.

Lulus dari MULO Wiworotomo, Sudirman kemudian melanjutkan ke Kweekschool, sekolah calon guru milik Muhammadiyah di Solo. Namun karena kendala biaya, ia hanya bertahan setahun dan kemudian pulang ke Cilacap, Jawa Tengah.

Pulang ke Cilacap, Sudirman menjadi guru di HIS Muhammadiyah sekaligus menjadi anggota organisasi tersebut. Ia kemudian diangkat menjadi kepala sekolah di sekolah tersebut.

Pada 1943, Sudirman menjalani pendidikan militer Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor yang diselenggarakan oleh Jepang.

Riwayat Karier

- Guru di HIS Muhammadiyah Cilacap

- Anggota Syu Sangikai (semacam DPR di Banyumas) (1942 – 1944)

- Komandan Batalyon Kroya, Cilacap

- Panglima Divisi V Banyumas, dengan pangkat Kolonel (1945)

- Panglima Besar TKR, dengan pangkat Jenderal (1945 – 1959)

Selama bekerja menjadi guru di Cilacap, perhatiannya terhadap masalah-masalah sosial ekonomi masuarakata mulai tumbuh.

Dengan beberapa temannya, ia mendirikan koperasi yang langsung dipimpinnya sendiri.

Tujuan koperasi ini untuk membantu masyarakat Cilacap dari kesulitan ekonomi di masa itu. Ia juga aktif membina Badan Pengurus Makanan Rakyat yang dibentuk Jepang untuk mengumpulkan bahan makanan bagi keperluan perang.

Namun Sudirman justru menganjurkan kepada rakyat supaya mereka menyembunyikan sebagian hasil panen mereka agar mereka tidak kelaparan.

Atas perhatiannya kepada masalah sosial masyarakat, ia kemudian diangakat menjadi anggota Syu Sangikai, semacam DPR di Banyumas. Tugasnya semakin bertambah ketika ia diangakat menjadi anggota Jawa Hokokai untuk Karesidenan Banyumas. (3)

Pada 1943, jepang mendirikan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Tujuannya untuk membantu menghalau invasi sekutu. Dengan demikian, para pemuda Indonesia memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan militer.

Sudirman bergabung dengan PETA pada 1944, setelah dua tahun menjadi dewan karesidenan atau Syu Sangikai. (4)

Lulus dari PETA, Sudirman ditugaskan di Kroya sebagai Daidanco atau Komandan Batalyon. Setiap kesatuan PETA dipimpin oleh perwira Indonesia, adapaun orang-orang Jepang dalam kesatuan itu hanya menjadi pelatih.

Sudirman kerap melancarkan protes terhadap pelatihnya karena sering bertindak di luar batas. Karena itu, ia dicurigai sebagai orang yang berbahaya.

Bersama dengan beberapa orang perwira lainnya, pada Juli 1945 Sudirman diperintahkan ke Bogor untuk mendapatkan pendidikan lebih intensif. Namun sebenarnya ada tujuan Jepang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggap berbahaya itu.

Beruntung rencana itu tak sempat direalisasikan, Jepang keburu menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.

Pada 17 Agustus 1945, Sudirman memberanikan diri kabur dari penahanan untuk bertemu dengan Sukarno.

Sehari pasca kemerdekaan Indonesia, Jepang membubarkan kesatuan PETA. Senjata mereka kemudian dilucuti.

Sudirman mengumpulkan kembali bekas anak buahnya di PETA dan mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR) daerah Banyumas setelah resmi didirikan oleh pemerintah pada 23 Agustus 1945.

Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mengumumkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). BKR yang sudah berdiri lebih dulu akhirnya meleburkan diri dengan TKR.

Sudirman dipilih sebagai Komandan Resimen, lalu Kepala Staf Umum TKR, Letnan Jenderal Urip Sumoharjo kemudian mengangkat Sudirman sebagai Komandan Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.

Pada November 1945, ketika suasana semakin genting, para komandan TKR melakukan rapat di Yogyakarta. Sasat itu TKR belum memiliki panglimanya. Maka ditunjuklah Sudirman sebagai panglima TKR.

Namun pemerintah belum memberikan persetujuan.

Hingga Sudirman diharuskan berangkat ke front Ambarawa menghadapi pasukan sekutu setelah Letnan Kolonel Isdiman, Kepala Staf Sivisi V gugur dalam pertempuran itu.

Pada 12 Desember 1945 pukul 04.30 pagi, Sudirman memimpin serangan serentak terhadap sekutu. Pertempuran berlangsung sampai 15 Desember. Pasukan sekutu di Ambarawa yang diserang dari segala penjuru akhirnya dapat dipukul mundur ke Semarang.

Atas prestasinya, pemerintah Indonesia akhirnya memberikan persetujuan atas pengangkatan Sudirman sebagai Panglima TKR.

Bersama Urip, pensiunan Mayor KNIL, Sudirman kemudian mulai menata organisasi tantara yang masih semrawut.

Pada 1 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian diubah lagi pada 24 Januari menjadi Tentara Republik Indonesia.

Pada Mei 1946, Sudirman terpilih lagi menjadi Panglima TRI. Pada 3 Juni 1947, presiden mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia yang merupakan gabungan dari TRI dan badan-badan perjuangan rakyat lainnya. (5)

Pada 21 Juli 1947, Belanda melancarkan agresi militer. Dewan Keamanan PBB ikut campur dalam masalah itu, dibentuklah Komisi Tiga Negara. Untuk menyelesaikan masalah tersebut lahirlah Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948.

Kecewa dengan hasil perjanjian, Urip mengundurkan diri sebagai Kepala Staf Angkatan Perang.

Pada 1948, posisi Sudirman hampir dijatuhkan oleh golongan kiri di bawah kabinet Amir Syarifuddin karena tidak suka dengan peran yang terlalu besar.

Namun kabinet Amir Syarifudin kemudian jatuh karena beberapa partai besar tidak setuju dengan kebijakannya menerima perjanjian Renville.

Kemudian kabinet baru di bawah Mohammad Hatta dibentuk, hal ini membuat posisi Sudirman sebagai Panglima Angkatan Perang kembali aman.

Sudirman kembali diuji dengan penyakit paru-paru yang ia derita. Satu paru-parunya ternyata tidak dapat berfungsi lagi dan harus diistirahatkan. Saat itu juga, PKI melakukan pemberontakan di Madiun.

Hubungan Indonesia dan Belanda juga semakin buruk. Perjanjian demi perjanjian yang merupakan lajutan Perjanjian Renville menemui jalan buntu.

Karena Belanda diprediksi akan melancarkan agresi militer keduanya, Sudirman diperintahkan oleh beberapa perwira Angkatan Perang untuk menyingkir ke luar kota demi kesehatannya.

Namun Sudirman menolak. Ia bahkan mengumumkan untuk memimpin kembali Angkatan Perang pada 18 Desember 1948. Dan seperti yang sudah diprediksi, pada 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer yang kedua kalinya.

Pasukan Belanda diterjunkan di Lapangan Terbang Maguwoharjo, Yogyakarta. Mereka kemudian bergerak menuju Kota Yogyakarta.

Ia pun datang menemui Sukarno di Istana untuk meminta instruksi. Sukarno meminta kepada Sudirman supaya ia tetap di dalam kota mengingat kondisinya yang masih sakit.

Namun Sudirman menolak. Ia menulis perintah harian untuk disiarkan lewat radio. Intinya, ia menginstruksikan supaya semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda.

Siang itu juga, Sudirman meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya. Tujuannya ke Kediri, Jawa Timur.

Dalam keadaan sakit, beberapa kali ia harus ditandu oleh prajuritnya. Beberapa kali ia juga jatuh pingsan karena persediaan obat telah habis. (6)

Namun sampai Kediri, ternyata situasi di sana sudah tidak aman. Sudirman kembali bergerilya ke Jawa tengah, menempuh jalan mengelilingi Gunung WIlis.

Sudirman akhirnya menetap di Desa Solo daerah Surakarta pada April 1949. Komunikasi dengan para pemimpin gerilya pun kembali dapat dilakukan.

Akibat gerilya yang dipimpin Jenderal Sudirman, Belanda menjadi kewalahan karena terjadi serangan di mana-mana. Posisi Belanda mulai tertekan, terutama setelah serangan 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto.

Karena terdesak, Belanda akhirnya bersedia berunding. Tanggal 7 Mei 1949 Roem – Royen Statement ditandatangani. Ibukota Yogyakarta kembali diserahkan ke Indonesia.

Setelah dibujuk cukup lama, Sudirman akhirnya bersedia kembali ke Yogyakarta. Ia dibutuhkan dalam perundingan militer bersama Belanda meski awalnya menolak karena merasa pasukanny masih mampu mengalahkan pasukan Belanda.

Namun sampai Yogyakarta, paru-parunya yang sebelah telah terserang lagi dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit.

Pada 1 Agustus 1949, ia sempat menulis surat untuk Presiden Sukarno yang berisi pengunduran dirinya dari jabatannya sebagao Panglima Besar dan dari dinas ketentaraan. Namun surat itu tidak jadi disampaikan setelah mempertimbangkan akibatnya.

Saat upacara kedaulatan yang secara resmi mengakhiri perang kemerdekaan berlangsung pada 27 Desember 1949, Sudirman yang telah memberikan andil sangat banyak harus beristirahat di Magelang, Jawa Tengah.

Kesehatannya semakin memburuk. Pada 29 januari pukul 18.30, diusianya yang masih 34 tahun, Sudirman menghembuskan napas terakhir.

Jenazahnya dimakamkan keesokan harinya di Makam Taman Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, di samping makam Urip Sumohardjo.

Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 314 tahun 1964 tanggal 10 Desember 1964.

Penghargaan

Pahlawan Nasional Indonesoa (1964)

Jenderal Besar Anumerta Bintang Lima (1997)

(TribunnewsWIKI/Widi)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul TRIBUNNEWSWIKI: Jenderal Soedirman

ARTIKEL POPULER:

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Cara Mudah Membuat QR Code Lokasi untuk Undangan Pernikahan via Smartphone (Android/iOS)

Polisi Tangkap 12 Tersangka Baru Kerusuhan 22 Mei, Total 257 Tersangka

TONTON JUGA:

Editor: fajri digit sholikhawan
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved