Tribunnews WIKI

Indische Sociaal Democratische Vereeniging, Organisasi yang Didirikan Sneevliet pada 9 Mei 1914

Rabu, 14 Agustus 2019 10:49 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Indische Sociaal Democratische Vereeniging atau ISDV merupakan sebuah organisasi yang sempat ada di Indonesia.

ISDV merupakan organisasi berpaham sosialisme yang didirikan pada 9 Mei 1914.

Sneevliet merupakan seorang internasionalis berpaham marxisme berkebangsaan Belanda.

Namun seiring berjalannya waktu, ISDV kemudian mengubah haluan politiknya menjadi berpaham komunisme dan mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis Indonesia Hindia pada 23 Mei 1920.

Kemudian pada Desember 1920 diganti lagi namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dengan begitu bisa dikatakan bahwa ISDV merupakan cikal bakal lahirnya PKI di Indonesia.

Latar Belakang

Berdirinya Indische Sociaal Democratische Vereeniging atau ISDV tidak bisa dipisahkan dari sosok bernama Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet.

Dia adalah seorang tokoh berpaham marxisme yang kemudian juga mendirikan ISDV pada 9 Mei 1914 di Surabaya.

Ia pertama datang ke Indonesia yang masa itu masih bernama Hindia Belanda pada Februari 1913 pada usia 30 tahun sebagai seorang staf editor di Soerabaiaasch Handelsblad.

Meski tinggal di tanah rantau, Sneevliet seperti tinggal di kampung halamannya.

Ia bergaul dengan para buruh kereta api yang bergabung dalam Vereniging van Spoor-en Tramweg Personeel (VSTP).

Jiwa kirinya menggelora, oada 9 Mei 1914 Sneevliet dan kawan-kawan sosialisnya berkumpul di Marine Gebouw, Surabaya.

Orang Belanda sosialis selain Sneevliet di antaranya adalah J.A. Brendsteder, H.W. Dekker, dan Piet Bergsma.

Mereka kemudian mendirikan perkumpulan sosialis demokrat Hindia Belanda dan menamainya Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV).

Pergerakan

Ketika awal didirikan, ISDV beranggotakan 85 orang yang terdiri atas dua partai sosialis Belanda.

Ketika awal berdiri, tendensi revolusioner mengendalikan ISDV.

Mereka sangat militant terhadap isu-isu lokal seperti kampanye mendukung seorang jurnalis Indonesia yang diadili karena melanggar hukum pengendalian pers.

Mereka juga mengadakan rapat umum menentang persiapan perang yang akan dilakukan oleh pemerintah Belanda.

Tidak hanya itu, ISDV juga ikut melibatkan diri dalam berbagai pergerakan nasional.

Namun karena pergerakannya dirasa lambat, ISDV kemudian bersekutu dengan Insulinde.

Insulinde sendiri merupakan organisasi kelas menengah namun senang karena menerima bantuan dari ISDV, dan saat itu memang hanya kaum sosialislah yang siap membantu mereka.

Namun konflik di antara kepemimpinan ISDV dan Insulinde mulai muncul, bahkan di dalam tubuh ISDV itu sendiri.

ISDV menegaskan bagwa peruangan melawan penjajah Belanda harus didukung kaum sosialis dan menyatakan bahwa hal ini mencakup perjuangan melawan sistem kapitalis.

Sementara pimpinan kelas menengah Insulinde secara naluriah menolak dengan keras pikiran itu.

Di dalam kubu ISDV sendiri mengalami perpecahan, aluran reformis meninggalkan ISDV pada 1916 dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP).

Dalam waktu dekat, mereka sudah langsung dekat dengan pemimpin kelas menengah nasionalis.

Persekutuan antara ISDV dan Insulinde itu ternyata tidak membuahkan hasil siginifikan seperti yang diharapkan hingga akhirnya persekutuan di antara keduanya bubar.

ISDV kemudian merapat ke Sarekat Islam (SI), organisasi terbesar di Jawa saat itu yang beranggotakan orang-orang Islam.

Sneevliet berhasil menyusup dan menginfiltrasi ke dalam kubu SI dengan cara bertukar keanggotaan antara SI dan ISDV.

Beberapa tahun kemudian, Sneevliet mulai menjadi orang berpengaruh di dalam SI.

Pada 1916, Sneevliet mengangkat pemimpin muda SI yaitu Semaoen dan Darsono menjadi pemimpin ISDV.

Semaoen yang juga masih menjadi anggota SI berhasil mengembangkan keanggotaan SI Semarang dari 1.700 orang menjadi 20.000 orang.

Namun masalah kemudian muncul karena persoalan ideologi.

Karena ISDV memiliki paham marxisme, mereka kemudian menjadi berseberangan dengan Central Sarekat Islam (CSI) yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto.

Di sisi lain, ISDV langsung mendapat simpati dari kaum militan Indonesia karena berani dan berprinsip dalam hal politik lokal.

Meski diserang para pemimpin nasionalis karena banyak yang berketurunan Belanda, hal ini tidak merupakan rintangan dalam perjuangan membangun organisasi revolusioner, dan merebut dukungan massal.

Pada awal kebangkitan gerakan politik massa, ISDV diliputi berbagai kesulitan.

Pada 1915 sampai 1918, Belanda menanggapi gerakan massa yang tumbuh dengan mendirikan Volksraad yang bertujuan membendung militansi massa.

ISDV yang bertentangan dengan pimpinan nasionalis dan ISDP pada awalnya menolak pembentukan badan tersebut.

Namun hal itu kemudian berubah setelah mereka menemukan celah bahwa Volksraad dapat dimanfaatkan sebagai medan propaganda revolusioner.

Ketika terjadi Revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917, ISDV telah bersih dari unsur moderat dan mulai pada sifat komunis.

Kemenangan Bolshevik mendirikan negara komunis mendorong Baars untuk menyerukan negara Hindia Belanda mengikuti jejaknya.

Pada 1917, ISDV memprovokatori angkatan laut Belanda yang berjumlah 3.000 serdadu untuk ikut dalam gerakan demonstrasi ISDV.

Bentrokanpun tak terhindarkan.

Disisi lain, partai moderat mendesak pemerintah agar menggantikan Volksraad dengan parlemen pilihan rakyat.

Krisis ini segera mereda setelah Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat, van Limburg Stirum, bereaksi dengan menjanjikan perubahan yang luas.

Setelah semua kembali normal, pemerintah kolonial mulai mengambil tindakan keras terhadap ISDV.

Anggota militer angkatan laut dihukum berat, sementara Sneevliet diusir dari Hindia Belanda.

Sedangkan Darsono dan Semaun ditangkap, pada fase ini membuat ISDV masuk pada masa Depresi.

Di sisi lain, pada 1918, Darsono yang diangkat menjadi propagandis resmi SI dan Semaun menjadi Komisaris Wilayah Jawa Tengah berusaha meningkatkan pengaruhnya agar SI menjadi organisasi yang lebih radikal.

Social Democratische Arbeideispartij (SDAP) di Belanda kemudian mendeklarasikan diri menjadi Partai Komunis Belanda (CPN).

Para anggota ISDV yang berkebangsaan Eropa kemudian mengusulkan agar ISDV mengikuti jejak itu.

Pada perkembangannya, pada 23 Mei 1920, ISDV mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis Indonesia Hindia.

Sedangkan pada Desember 1920 diubah lagi namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Saat itu, Semaun kemudian didaulat menjadi ketua, Darsono sebagai wakil, Bergsma sebagai sekretaris dan Sugono sebagai anggota pengurus.

Dengan demikian, otomatis ISDV resmi sudah tidak ada atau bisa dikatakan juga memasuki fase berikutnya sebagai PKI.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul: 17 AGUSTUS – Serial Sejarah Nasional : Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV)

ARTIKEL POPULER:

Baca: Peristiwa Rengasdengklok, Soekaro dan Hatta Diculik Para Pemuda untuk Proklamasikan Kemerdekaan

Baca: Dwi Komando Rakyat, Biasa Dikenal dengan Dwikora

Baca: Badan Keamanan Rakyat BKR, Angkatan Bersenjata Pertama Indonesia Setelah Kemerdekaan

TONTON JUGA:

Editor: Alfin Wahyu Yulianto
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved