Jumat, 10 April 2026

Tribunnews WIKI

Tari Beksan Wanara, Tarian Klasik Keraton Yogyakarta yang Sering Disebut Tari Kethekan

Selasa, 23 Juli 2019 11:04 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Beksan Wanara yang sering disebut tari kethekan merupakan tarian klasik Keraton Yogyakarta.

Beksan dalam Bahasa Jawa berarti tarian, sedangkan Wanara dalam bahasa Sansekerta berarti masusia berekor monyet.

Tarian Beksan Wanara berdasarkan perang tanding antara sugriwa dan subali pada cerita Ramayana.

Tarian tersebut menceritakan keduanya bertarung di depan Gua Kiskendo karena adanya kesalah pahaman.

Legenda Subali dan Sugriwa

Kisah Subali dan Sugriwa yang diutus dewa untuk menyelamatkan dewi Tara dari cengkeraman Mahesasura dan Lembusura yang divisualisasaikan melalui tarian.

Subali dan Sugriwa sendiri merupakan manusia setengah kera.

Untuk menghadapi Mahesasura dan Lembusura yang terkenal akan kesaktiannya, para dewa memberikan Aji Pancasona kepada Subali untuk menyelamatkan Dewi Tara.

Dewi Tara sendiri merupakan putri dari Dewa Indra.

Akhirnya Subali dan Sugriwa berangkat ke Kiskendo, sebuah gua yang menjadi kerajaan Mahesasura dan Lembusura.

Karena hanya Subali yang memiliki kekuatan Aji Pancasona, dirinya menyuruh sang adik, Sugriwa untuk menunggu di luar gua.

Subali berpesan pada Sugriwa, jika dari dalam gua mengalir darah merah maka Subali telah mengalahkan musuh-musuhnya.

Namun jika yang keluar adalah darah putih, berarti Subali telah kalah dan Sugriwa harus menutup pintu gua dengan batu.

Sugriwa menunggu hingga 30 hari dan membaui anyir darah yang angat menyengat.

Dirinya menganggap kakaknya telah mati sehingga dia menutup pintu gua dengan batu, lalu kembali ke Kiskindha.

Para petinggi kera meminta Sugriwa menjadi raja untuk menggantikan Subali yang dikabarkan telah mati.

Namun ternyata Subali tidak mati dan menganggap Sugriwa berhianat.

Subali tidak mau mendengarkan alasan Sugriwa sehingga terjadilah pertarungan atara keduanya.

Sugriwa yang kalah memilih untuk melarikan diri.

Para manusia kera yang tidak mau tunduk dibawah perintah Subali akan diusir, dan isteri Sugriwa dipaksa menjadi isterinya.

Flash Mop Beksan Wanara

Di Jalan Malioboro saat ini memang terdapat tradisi baru yang diadakan setiap Selasa Wage (penanggalan Jawa).

Semua pedagang yang ada di jalan tersebut akan menutup lapak dagangan mereka, lalu digantikan dengan acara bersih-bersih di sepanjang jalan Malioboro.

Flash Mop Beksan Wanara atau tari kethekan merupakan tarian klasik keratin Yogyakarta namun dipadukan dengan gaya modern street art.

Tarian kethekan modern tersebut dilakukan sejumlah anak muda di Jalan Malioboro, Yogyakarta saat uji coba Padestrian.

Penampilan tersebut mengundang perhatian masyarakat dan wisatawan asing yang berada di situ.

Koreografer untuk flash mop Beksan Wanara tersebut adalah Pulung Jati Ronggomurti.

Flash Mop Beksan Wanara diistilahkan sebagai tradisi, keseharian yang bercampur dengan zaman modern.

Hal tersebut sebagai metode untuk mengenalkan ke kaum milenial melalui pendekatan kesenian.

Busana yang dikenakan para pemuda tersebut bukanlah busana tradisional seperti yang didapati pada cerita Wayang.

Melainkan pakaian kasual namun gerakan tariannya tetap memakai tarian tradisional.

Komposisi Flash Mop Beksan Wanara telah disusun ulang karena melibatkan penari dengan jumlah banyak serta arah hadap non konvensional tidak tapal kuda atau harus menghadap penonton.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Saradita Oktaviani)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tari Beksan Wanara

ARTIKEL POPULER:

Dewi Lestari - Penulis Filosofi Kopi & Perahu Kertas

Plengkung Nirbaya, Bagian dari Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta

Taman Sari Yogyakarta, Kemegahan Taman Raja dari Masa Lalu

TONTON JUGA:

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved