Tribunnews WIKI

Plengkung Nirbaya, Bagian dari Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta

Minggu, 7 Juli 2019 17:36 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM – Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading merupakan bagian dari Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta yang dibangun pada 1782 Masehi.

Plengkung Nirbaya dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi.

Nama Plengkung Nirbaya diambil dari kata “Nir” dan “Baya”.

“Nir” berarti tidak ada, sedangkan “baya” berarti bahaya, sehingga secara harfiah, nirbaya berarti tidak ada bahaya yang mengancam.

Pada masa kerajaan Mataram, Plengkung Nirbaya ini digunakan sebagai pintu keluar ketika ada Raja Kraton Ngayogyakarta yang mangkat atau wafat.

Plengkung Nirbaya menjadi satu-satunya pintu keluar bagi jenazah raja sebelum dimakamkan di Makam Raja-raja di Imogiri, Bantul.

Karena itu, raja yang masih hidup tidak diperkenankan untuk melewati Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading ini.

Dulunya di sekitar benteng keraton terdapat sebuah parit yang berfungsi sebagai pertahanan kerajaan.

Parit ini memiliki lebar sekitar 10 meter dengan kedalamam tiga meter.

Namun saat ini parit itu sudah tidak berbekas dan sudah berganti menjadi jalan.

Bahkan pada 1935, parit tersebut sudah tidak ada.

Zaman dulu, di Plengkung Nirbaya dan empat plengkung lainnya terdapat sebuah jembatan gantung.

Jembatan gantung ini dapat ditarik dan menjadi pintu pelapis plengkung ketika ada musuh datang.

Namun jembatan gantung tersebut saat ini juga sudah tidak tersisa.

Plengkung Nirbaya pernah mengalami perbaikan.

Perbaikan tersebut dilakukan pada 1986 dengan tujuan untuk menjaga bentuk asli Plengkung Nirbaya.

Kepala Dinas Kepurbakalaan di masa Belanda, Bosch, secara periodik selalu menjalin komunikasi dengan Patih Danureja VIII sebagai raja saat itu.

Bosch pernah mengirim surat kepada Gubernur J. Bijvelt supaya Plengkung Nirbaya dan Tarunasura tidak dibongkar sepert Plengkung Jagasura Ngasem dan Jagabaya di sebelah barat Taman Sari.

Surat tertanggal 2 Maret 1935 itu kemudian ditanggapi Oleh Gubernur J. Bijvelt dan kemudian diteruskan kepada Patih Danureja VIII pada 13 Maret 1935.

Sampai saat ini, Plengkung Nirbaya masih berdiri kokoh dan biasa dijadikan sebagai spot swafoto bagi para pengunjung.

Spesifikasi

Plengkung Nirbaya dibangun menggunakan batu bata yang dilapisi semen dengan ketebalan sekitar 55 cm dengan longkahan selebar 2,4 meter yang diurug dengan tanah hasil galian.

Tinggi urugan yakni 3,7 meter dari permukaan awal tanah.

Pengunjung yang datang bisa naik ke Plengkung Nirbaya melalui tangga yang berada di sebelah barat dan timur plengkung.

Di sekitar Plengkung Gading, terdapat sirine yang dibangun pada 1930.

Zaman dulu, sirine ini digunakan untuk memberi peringatan dini adanya bahaya udara yang dioperasikan oleh Lucht Bescherming Dienst (LBD).

Sekarang, sirine tersebut hanya dibunyikan pada momen-momen tertentu saja seperti saat 17 Agustus sebagai peringatan detik-detik proklamasi dan ketika Bulan Ramadan sebagai peringatan untuk berbuka puasa.

Pada malam hari, perpaduan bangunan kuno dan pencahayaan dari lampu-lampu di sekitarnya, Plengkung Nirbaya akan tampak lebih indah sehingga biasa digunakan oleh para pengunjung untuk berswafoto.

Jadi Perhatian Publik

Pada 2017 silam, sebuah video yang memperlihatkan dua orang remaja laki-laki dan perempuan di atas Plengkung Nirbaya beredar di media sosial.

Remaja laki-laki di video tersebut terlihat menginjak bagian sisi Plengkung Nirbaya dengan pose yang dinilai kurang sopan.

Tidak hanya itu, si laki-laki juga turun tidak melalui tangga yang disediakan.

Diketahui, dua orang dalam video tersebut tengah syuting untuk sebuah acara reality show.

Aksi dua orang pemuda itu pun mendapat dari putri keraton, GKR Bendara.

GKR meminta supaya mereka menjaga sopan santun ketika berada di situs bersejarah Keraton Yogyakarta itu.

Karena ramai kecaman, beberapa hari kemudian pembawa acara reality show yang berjudul “Katakan Putus”, Komo Ricky kemudian meminta maaf lewat akun media sosialnya.

Jauh sebelum itu, foto dua orang anak remaja yang tengah berada di atas Plengkung Nirbaya demi sebuah foto juga sempat beredar di media sosial.

Selain berbahaya, tindakan tersebut juga dinilai tidak menghargai bangunan bersejarah.

Akses

Plengkung Nirbaya merupakan satu di antara pintu keluar Keraton Yogyakarta.

Letaknya hanya sekitar 300 meter di sebelah selatan dari Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Plengkung Nirbaya terletak 3,8 km dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan sekitar 5 km dari Stasiun Lempuyangan.

Tempat ini terbuka setiap hari untuk umum.

Tidak ada tiket masuk atau gratis jika pengunjung hendak ke Plengkung Nirbaya.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Plengkung Nirbaya

ARTIKEL POPULER:

VIRAL OF THE DAY: Netizen Berduka atas Meninggalnya Sutopo Purwo, #RIPSutopo Jadi Tending Topic

Breaking News: Thoriq Pendaki Gunung Piramid Akhirnya Ditemukan, Begini Kondisinya

Perjuangan Menemukan Thoriq, Dari Menelusuri Tebing hingga Tercium Bau Menyengat

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Tribunnews WIKI   #Yogyakarta   #Travel
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved