Profil

Taman Sari Yogyakarta, Kemegahan Taman Raja dari Masa Lalu

Jumat, 14 Juni 2019 08:06 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM – Taman Sari berarti taman yang indah. Taman Sari juga sering dijuluki sebagai Water Casteel karena kolam-kolam dan unsur air yang mengelilinginya.

Selain itu, ada juga yang menjuluki Taman Sari sebagai The Fragrant Garden karena pohon-pohon dan bunga yang harum di kebun-kebun sekitar bangunan.

Taman Sari dibangun secara bertahap pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwoni I pada tahun 1758 M.

Awal pembangunan ini ditandai dengan adanya candra sengkala “Catur Naga Rasa Tunggal” yang menunjukkan tahun 1684 tahun Jawa.

Sengkalan yang berarti “empat naga satu rasa” ini terdapat di permukaan Gapura Panggung. Sedangkan bagian-bagian penting dari komplek Taman Sari diselesaikan pada tahun 1765 M.

Hal ini ditandai dengan candra sengkala “Lajering Sekar Sinesep Peksi” yang menunjukkan tahun 1691 Jawa.

Adapun sengkalan yang memiliki arti “kuntum bunga dihisap burung” ini dapat ditemui di gapura Agung dan ornamen beberapa dinding bangunan.

Taman Sari dibangun di atas tanah seluas lebih dari 10 hektar dimana terdapat 57 bangunan di dalamnya.

Bangunan-bangunan tersebut ada yang berbentuk Gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.

Desain yang dimiliki Taman Sari merupakan gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono I, sedangkan gambar teknisnya dikerjakan oleh seorang berkebangsaan Portugis yang diduga datang dari wilayah Gowa, Sulawesi bernama Demang Tegis.

Sedangkan pimpinan proyek pembangunan Taman Sari dipegang oleh Tumenggung Mangundipuro yang kemudian digantikan oleh pangeran Notokusumo.

Desain bangunan ini merupakan gaya arsitektur baru yang merupakan campuran arsitektur Jawa dan Portugis.

Taman Sari dibangun di atas sebuah mata air yang bernama Umbul Pacethokan.

Di komplek Taman Sari, terdapat dua buah danau buatan yang disebut sebagai segaran atau samudera.

Satu danau berada di sisi timur dengan pulau buatan di tengahnya yang bernama Pulo Gedhong. Sedangkan satu danau lagi berada di sisi barat dengan pulau buatan juga di tengahnya yang bernama Pulo Kenanga.

Kedua segaran ini dihubungkan dengan sebuah kanal yang memotong lorong penghubung Plataran Magangan dan Plataran Kamandhungan Kidul.

Kebun berisi aneka tanaman buah tumbuh rimbun mengapit kanal tersebut.

Selain berfungsi sebagai tempat rekreasi, Taman Sari juga memiliki fungsi pertahanan dan fungsi religi.

Fungsi pertahanan tampak pada tembok keliling yang tebal dan tinggi, gerbang yang dilengkapi tempat penjagaan, dan bastion atau tulak bala sebagai tempat menaruh persenjataan.

Selain itu terdapat beberapa urung-urung atau jalan bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain.

Juga posisi bangunan Pulo Kenanga yang tinggi, diduga difungsikan sebagai tempat peninjauan apabila musuh datang.

Sedangkan Fungsi religi ditunjukkan dari adanya bangunan Sumur Gumuling dan Pulo Panembung.

Sumur Gumuling yang berbentuk melingkar difungsikan sebagai masjid, sedang Pulo Panembung digunakan oleh Sultan sebagai tempat untuk bermeditasi.

Kedua bangunan ini berada di tengah kolam Segaran, tampak menyembul di tengah bentangan air yang luas.

Pada awal pembangunannya, Pesanggrahan Tamansari menghadap ke barat, sehingga lorong bagian depan (gledegan) terletak di sebelah selatan Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari).

Adapun segarannya memiliki lorong depan lurus ke utara sampai di Plengkung Jagasura (Plengkung Ngasem).

Sebagai tempat wisata, kini pintu masuk ke kompleks ini berubah ke arah timur menggunakan pintu yang dahulunya merupakan pintu belakang.

Namun pada tahun 1867, di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi peristiwa gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan di Yogyakarta.

Kompleks bangunan Taman Sari mengalami kerusakan yang cukup parah dan menjadi terbengkalai.

Hal ini menyebabkan banyak penduduk membangun hunian di antara bekas kebun dan puing bangunan.

Renovasi secara serius dimulai semenjak 1977. Beberapa bangunan yang tertimbun dibongkar. Namun hanya sedikit sekali bagian dari bangunan Taman Sari yang bisa diselamatkan.

Gempa besar terjadi lagi di wilayah Yogyakarta pada tahun 2006. Gempa tektonik yang berkekuatan 5,9 SR ini sekali lagi membawa kerusakan pada Taman Sari.

Proses renovasi dan revitalisasi kembali dilakukan, beberapa bangunan diperbaiki, diperkuat, dan dilapis ulang.

Tamansari yang sempat tinggal reruntuhan kini mulai bersolek.

Walau terhimpit rumah-rumah penduduk, sisa-sisanya menanti dikunjungi wisatawan yang ingin mengintip kemegahan taman raja dari masa lalu. (1)

(TribunnewsWIKI/Widi)

ARTIKEL POPULER

Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan dari HP Melalui Aplikasi BPJSTKU, Bisa Kapan Pun dan di Mana Pun

Cara Cek Nomor Telkomsel di HP

Cara Cek Nomor Indosat di HP

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Sumber: Tribunnews.com
Tags
   #Profil   #Taman Sari   #Yogyakarta
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved