Kuliner

Kue Putu Jajanan Tradisional yang Mulai Sulit Ditemukan

Minggu, 24 Maret 2019 19:48 WIB
Tribun Padang

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Nadia Nazar

TRIBUN-VIDEO.COM, PADANG - Kue putu, jajanan tradisional Indonesia yang melegenda dan tetap bertahan hingga sekarang.

Meskipun saat ini sulit ditemukan, namun peminat dari jajanan legendaris ini cukup banyak sampai kini.

Bagi masyarakat Kota Padang yang sedang merindukan jajanan tradisional ini bisa menemukan Kue Putu ini di Simpang Masjid Baiturrahman Jati, Jalan Jati IV No 2, Padang.

Yazi Wirza Ikhsan (26), menjual jajanan tradisional ini dengan dua jenis yaitu Kue Putu Bambu dan Kue Putu Mayang.

"Gaada beda, bahannya sama, bentuk dan cara penyajiannya saja yang beda," jelasnya saat ditemui TribunPadang.com, Selasa (19/3/2019).

Yazi mengatakan bahan yang digunakan saat membuat kue putu adalah tepung beras.

"Tepung beras direndam, paginya digiling ke pasar. Setelah dari pasar dikukus lagi sampai matang," kata Yazi.

Untuk penyajian kue putu bambu, Yazi mengatakan saat tepung beras kasar tersebut telah jadi, kemudian diberi air dan sedikit garam biar rasanya lebih gurih.

Cara membuatnya pun unik.

Campuran tepung beras tersebut dimasukkan ke dalam potongan bambu yang berbentuk tabung kemudian diisi dengan irisan gula merah kemudian dikukus dengan cara menaruhnya diatas uap panas.

Lalu, Yazi menjelaskan hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit, kue putu yang telah diuapi ini telah siap untuk disajikan.

Nantinya saat di makan, adonan tersebut akan bercampur manis berpadu didalam mulut.

Saat digigit, campuran antara tepung beras dan gula merah akan meleleh.

Sedangkan untuk Kue Putu Mayang, Yazi mengatakan adonannya sudah jadi dari rumah.

"Tepung beras di masak dengan air panas, dibentuk dengan menggunakan cetakan mie," jelas pria asal Bukittinggi ini.

"Kue putu ini dimakan pake kelapa dan gula merah yang sudah cair, tapi biasanya orang Medan pake gula pasir," tutur Yazi lagi.

Kemudian kue putu yang telah jadi ditaruh di atas plastik mika bening.

"Kalau ada yg gamau, dilapisi pake daun pisang juga bisa," tambahnya.

Yazi mengatakan peminat Kue Putu Bambu lebih banyak disukai konsumen dibandingkan dengan Kue Putu Mayang.

Dalam sehari Yazi bisa menjual 150 Kue Putu Bambu, sedangkan untuk Kue Putu Mayang hanya 50 pcs.

"Kadang ada yang sekali beli langsung 50 buah, tapi kalau biasanya konsumen beli 5-10 buah," ujar Yazi.

Cukup siapkan Rp 2 ribu untuk satu potongnya, camilan ini cukup nikmat untuk menemani sore hari Tribunners.

Yazi mengatakan ia mulai berjualan dari pukul 16.00 hingga pukul 22.00 WIB.

"Kecuali Hari Minggu, gak berjualan, libur," tambahnya.

Ditemui TribunPadang.com, Yusuf sedang membeli jajanan tradisional ini.

Ia mengatakan anaknya menyukai Kue Putu Mayang.

"Kue kaya gini sekarang agak susah dicari di sini," tuturnya.

Lalu, pria asal Medan ini bercerita kalau di kampung halamannya orang-orang berjualan kue putu dengan dipikul keliling kampung.

"Kalau di Medan makannya pakai gula pasir, Kalau di sini lebih banyak milih gula merah," tutupnya. (TribunPadang.com/Nadia Nazar)

ARTIKEL POPULER:

Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Video Detik-detik Personel Band Seventeen Diterjang Tsunami di Banten saat Tampil, 2 Orang Meninggal

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Muhammad Eka Putra
Sumber: Tribun Padang
Tags
   #kuliner   #Kue Putu   #Jajanan Tradisional
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved