Kuliner

Kopi Ronggeng Khas Pekalongan, Ada Sejak Era Kolonial dengan Gula Aren sebagai Cemilannya

Kamis, 7 Februari 2019 07:35 WIB
Tribun Jateng

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUN-VIDEO.COM, PEKALONGAN - Kopi ronggeng, demikian sebutan minuman khas masyarakat Desa Kutorojo Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan.

Wanginya seduhan kopi dipadukan gula aren membuat para pecinta kopi lokal maupun luar daerah Pekalongan kerapkali memburunya.

Terlebih ketika dinikmati bersama pisang bakar, dimana mereka juga menyebutnya suguhan Majapahit.

Konon, kopi ronggeng merupakan minuman yang sudah ada sejak era kolonial.

Masyarakat kala itu meminumnya sembari menyaksikan tari ronggeng asal Desa Kutorojo.

Budi Setiawan (30) pemilik kedai kopi di desa setempat menuturkan, biji yang digunakan untuk membuat kopi ronggeng merupakan biji kopi robusta lokal.

“Biji kopi ronggeng ditanam di hutan tanpa pupuk dan gula aren yang digunakan juga buatan dari Desa Kutorojo,” jelasnya, Selasa (5/2/2019).

Ia menceritakan, kopi ronggeng sudah ada sejak dahulu, dimana masyarakat menikmati kopi sembari menonton pertunjukan ronggeng.

“Walaupun sama-sama robusta tetapi biji kopinya berbeda. Karena saat diseduh aromanya sangat tajam dan wangi,” paparnya.

Dalam penyajian, diterangkan Budi, kopi yang sudah ditumbuk halus direbus menggunakan air hingga mendidih.

“Cara penyajian dari dahulu hingga sekarang masih sama. Gula aren juga tidak langsung dicampur dan disajikan di samping kopi. Jadi bersamaan meminum kopi gula aren tersebut sembari dicemil,” katanya.

Budi menerangkan, peminat kopi ronggeng sangat banyak dan terkadang para petani kewalahan memenuhi pesanan.

“Petani kopi di desa bisa panen 2 kali dalam setahun. Namun hasilnya tak seberapa dibandingkan jumlah pemesannya,” tuturnya.

Ia menambahkan petani kopi di Desa Kutorojo sekali panen bisa memperoleh 30 ton buah kopi.

“Jumlah tersebut masih berupa biji kopi mentah setelah diproses, berat akan menjadi separohnya atau sekitar 15 ton,” ujarnya.

Harga untuk 150 gram kopi ronggeng hanya Rp 20 ribu.

“Petih merah itu wajib, dari nenek moyang kami hingga kini metode tersebut terus diterapkan. Selain itu kami menyangrai biji kopi masih menggunakan tembikar tanpa bantuan alat modern,” tambahnya. (*)

ARTIKEL POPULER:

Ditanya Pilih Jokowi atau Prabowo, Begini Jawaban dan Saran Cak Nun

Benarkah Mie Ayam Tugu Lilin Pajang Solo Pakai Pesugihan Pocong? Yuk Mampir ke Warungnya

Video Detik-detik Personel Band Seventeen Diterjang Tsunami di Banten saat Tampil, 2 Orang Meninggal

Editor: Radifan Setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Tags
   #Ronggeng   #Pekalongan   #kuliner
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved