Kamis, 21 Mei 2026

Terkini Nasional

Kondisi Psikologis pasca-Pembunuhan Brigadir J, Istri Ferdy Sambo Berpotensi Alami PTSD

Rabu, 17 Agustus 2022 11:14 WIB
Tribunnews.com

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUN-VIDEO.COM - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Susilaningtias mengatakan, Putri Candrawathi berpotensi mengalami kecemasan atau pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Hal itu didasari hasil pemeriksaan psikologis yang dilakukan oleh LPSK, Selasa (9/8/20222).

Diketahui, Putri Candrawathi merupakan saksi kunci untuk mengetahui motif pembunuhan Brigadir J.

Irjen Ferdy Sambo, suami Putri, sudah ditetapkan sebagai tersangka otak pembunuhan tersebut.

Yang bersangkutan mengklaim Brigadir J melakukan hal yang melukai martabat istrinya di Magelang.

Pertanyaannya, apa itu PTSD?

Menurut Psikolog & Grafolog, Joice Manurung menyebutkan pada Buku oleh American Psychiatric Association, DSM 5, PTSD terjadi karena paparan sifat langsung atau tidak langsung dari sebuah peristiwa yang bersifat traumatis.

Baca: Kamaruddin Ungkap Motif Lain Pembunuhan Brigadir J, Sebut Rahasia Ferdy Sambo Bocor ke Putri

Peristiwa ini biasanya diikuti oleh empat kategori. Pertama, munculnya instruksi yaitu pikiran yang menganggu, berkaitan dengan traumatik.

"Misalnya tiba-tiba keingat, ingin mengakhiri hidup," ungkap Joice saat diwawancarai Tribunnews, Selasa (16/8/2022).

Kedua, adanya upaya untuk menghindari semua hal yang berhubungan dengan peristiwa traumatik.

Contohnya, orang ini tidak mau membicarakan soal peristiwa terkait.

Bahkan tidak mau datang ke tempat kejadian atau sekadar lewat. Bahkan pada kasus tertentu, saat kehilangan seseorang yang sangat berarti, ia tidak mau mencium baunya dari baju tersebut.

Ketiga ada perubahan negatif pada suasana hati dan pikirannya. Hal ini bisa dilihat dari kondisi emosi yang berubah. Cenderung menarik diri dan lebih pasif,

Keempat, ada perubahan minat, reaksi energi dan aktivitas. Secara fisik pun orang yang mengalami PTSD tidak terlihat aktif.

"Itulah mengapa orang yang alami PTSD kecenderungan untuk diam, tidak ingin melakukan apa-apa. Tidak melakukan hal yang biasa dia lakukan, terganggu pola makannya, terganggu pola tidurnya," papar Joice lagi.

Lebih lanjut, Joice pun menyebutkan jika PTSD haris ditegakkan dalam sebuah diagnosis. Harus ada alat pengukuran psikologi yang diberikan.

Tidak bisa dilihat dari gejala perilaku atau perubahan perilaku saja. Harus dibuat alat ukur khusus.

Dan biasanya, diperlukan observasi dan pengamatan dalam perubahan perilaku. Minimal, ada perubahan satu bulan terus menerus seperti itu.

Baca: Deretan Usaha Ferdy Sambo Agar LPSK Lindungi Putri, Beri Amplop dan Libatkan AKBP Jerry Siagian

"Pagi siang malam, perilakunya hampir mirip seperti itu. Setelah pengukuran itu, dilihat lagi kalau individu itu tidak bisa melakukan aktivitas yang umum dilakukan," kata Joice lagi.

Contoh sudah tidak bisa kerja dengan normal, tidak dapat berkonsentrasi belajar hingga membatasi untuk berinteraksi dengan orang-orang.

Bahkan orang PTSD menarik diri dari komunitas atau orang-orang terdekat. Dan ia cenderung untuk memilih berdiam diri.

Selain itu Joice pun mengatakan jika perlu dipahami, perubahan perilaku dalam menegakkan diagnosis tidak berlaku pada beberapa hal tertentu.

Baca: Tanggapan Polda Metro Jaya soal Dugaan Perwira Desak LPSK Kabulkan Permohonan Perlindungan Putri

Seperti, orang tersebut tidak sedang dalam penggunaan obat teralaran, karena bisa jadi perilaku yang ditunjukkan serupa. Kedua, tidak berhubungan dengan kondisi medis yang dialami.

"Misalnya dia mengkonsumsi obat medis tertentu, mengalami gangguan fisik tertentu di otak, atau mengalami trauma fisik. Seperti kecelakaan, benturan, kalau itu terjadi tidak bisa dibilang PTSD secara murni," tegas Joice.

Ia pun menegaskan kembali jika PTSD dan semua gangguan mental, tidak boleh diberikan label sendiri bahwq mengalami gangguan cemas. Tanpa ada pengukuran atau diagnostik secara psikologis atau psikatri.

"Kita tidak boleh cocokin gejala. Kalau ketakutan, tidak bisa tidur, gak mau makan, dicocokin dengan yang ada internet, kemudian kita liat orang, oh saya begitu juga. Itu tidak boleh karena treatmennya bisa berbeda," pungkasnya.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Memahami Psikologis Putri Candrawathi Usai Pembunuhan Brigadir J di Rumah Dinas Ferdy Sambo

# Ferdy Sambo # Brigadir J # Putri Candrawathi # LPSK # Magelang

Editor: Fitriana SekarAyu
Video Production: Lulu Adzizah F
Sumber: Tribunnews.com

Tags
   #Ferdy Sambo   #Brigadir J   #Putri Candrawathi   #LPSK   #Magelang

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved