Liputan Khusus
Kisah Mantan Napi, Belajar Olah Bambu Jadi Beragam Miniatur di Dalam Penjara
TRIBUN-VIDEO.COM - Berawal dari mantan narapidana, seorang lelaki bangkit dan kini bisa membuat kerajinan dari bambu yang bernilai ekonomis.
Lelaki ini bernama Budi Hartanto, tinggal di kota Padang.
Kota Padang sendiri merupakan ibu kota dari Sumatera Barat.
Disaat cuaca sedang terik sekitar pukul 11.12 WIB, pria ini tengah sibuk meraut bambu menjadi bagian kecil seperti lidi.
Setiap hari, ketika suasana hatinya sedang baik.
Ia dengan sabar mengolah bambu menjadi sebuah karya pada sebuah gang yang berlokasi di Jalan Klenteng, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.
Dari kreasi bambu tersebut, kini pria tersebut dapat menghasilkan karya yang punya nilai ekonomis.
Walau memiliki tato pada tubuhnya, Budi Hartanto sangat ramah dan suka tersenyum.
Susah hidupnya pernah menjalani masa tahanan selama 5 tahun akibat perbuatan yang dilakukannya sendiri.
Namun pada masa kelam tersebut iya mengembangkan dirinya dalam mengolah bambu.
Diceritakannya, pada tahun 1948 dirinya dijatuhi hukuman sehingga dijebloskan ke dalam Lapas Semarang.
“Masuk penjara selama 5 tahun,” katanya dengan enteng.
5 tahun di dalam Lembaga Pemasyarakatan, ia bertemu macam-macam orang.
Salah satu narapidana yang menjadi teman dekatnya dan mengajarkannya mengolah bambu.
Dengan kondisi yang sudah tidak muda lagi, dengan sangat tenang dan penuh kesabaran.
Ia duduk menikmati harinya dengan merangkai sebuah menara.
Lima tahun berada di dalam penjara di Semarang.
Budi Hartanto banyak belajar sehingga memperbaiki diri dan menambah ilmu pengetahuannya.
Bertemu seorang teman yang telah mengajarkannya.
Baca: Sosok Wali Kota Padang Kedua yang Legendaris, Bagindo Aziz Chan dan Rumah Masa Kecilnya
Ilmu tersebut tidak disia-siakannya.
Walaupun awalnya tidak begitu tertarik sehingga akhirnya iseng melihat temannya membuat sebuah miniatur dari bambu.
Akhirnya memilih ikut untuk belajar.
Dari dalam Lapas itulah keahlian didapatkannya sampai saat ini.
Hasil karyanya sudah banyak terjual dan pembelinya bisa siapa saja.
Asal suka karyanya, miniatur pun dijual.
Ada pula yang sudah menawar, walaupun masih sedang kerjakannya.
Tidak hanya itu, ada pula yang hanya sekedar bertanya.
Hal itu dikarenakan membuatnya tepat berada di pinggir jalan, dan ada saja yang datang singgah sekedar melihat proses pembuatan atau membelinya.
Selain membuat miniatur menara, juga dibuat miniatur rumah adat Minangkabau dan kapal layar.
Budi Hartanto hanya memakai bahan utama dari bambu dan juga triplek sebagai alas berdirinya menara.
Bahan utama yang dipersiapkannya adalah mencari persediaan bambu yang akan digunakan.
Setelah bambu tersedia, Budi Hartanto memotong bambu tersebut hingga menjadi bagian.
Setelah semua bagian terpotong, pembuluh tersebut diraut hingga jadi seperti lidi.
Menurutnya, bagian yang sulit atau kau yang paling lama adalah meraut bambu hingga menjadi bagian yang kecil untuk bahan utama dalam pembuatan miniatur.
Baca: Nelayan Pariaman Ingin Oknum yang Gunakan Bom Ditangkap, Berharap Kelestarian Laut demi Anak Cucu
Setelah itu dipersiapkan papan triplek sebagai alas agar menara berdiri dengan kokoh.
Potongan kecil bambu ini disatukan dengan menggunakan lem kayu.
Selanjutnya dibutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk menyelesaikannya.
Untuk merapikan bagian sisa-sisa dari bambu yang sudah di tempelkan menggunakan lem kayu, masih diperlukan waktu setidaknya 3 minggu.
Ketika kemauannya sedang tinggi, Budi Hartanto dapat menyelesaikan miniatur bambu ini kurang lebih selama satu minggu penuh.
Dalam pembuatannya juga tidak menggunakan cetakan atau sketsa.
Budihartanto hanya mengandalkan instingnya sehingga dapat menyelesaikan miniatur ini.
Dari awal pengerjaan sampai selesai, tidak ada campur tangan orang lain yang membantu dalam proses pembuatannya.
(*)
Baca: Kisah Penambang Pasir di Sungai Batang Kuranji, Demi Memenuhi Kehidupan Sehari-hari
Baca: Kisah Zainal, Bertahan Hidup di Derasnya Arus Sungai Batang Kuranji
Sumber: Tribun Padang
Local Experience
Sago Park di Lima Puluh Kota Hadirkan Rumah Etnika dari Beton dan Kayu, dipenuhi Perabot Antik
Jumat, 27 Maret 2026
Local Experience
Kelok Sembilan di Lima Puluh Kota, Jalan Ikonik 9 Tikungan Diapit Tebing dan Perbukitan Hijau
Jumat, 27 Maret 2026
Local Experience
Menjelajah Keindahan Pulau Awera, Surga Bawah Laut di Mentawai
Jumat, 27 Maret 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.