Tribunnews WIKI

Al Qaeda, Organisasi Paramiliter Fundamentalis Islam Sunni yang Didirikan oleh Osama bin Laden

Jumat, 13 September 2019 19:17 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Al Qaeda merupakan organisasi paramiliter fundamentalis Islam Sunni.

Tujuan utamanya adalah mengurangi pengaruh luar terhadap kepentingan Islam.

Al-Qaeda digolongkan sebagai organisasi teroris internasional oleh beberapa negara.

Yakni Amerika Serikat, Uni Eropa, PBB, Britania Raya, Kanada, Australia, dan beberapa negara lain.

Al Qaeda didirikan oleh Osama bin Laden, Abdullah Azzam serta beberapa sukarelawan Arab lainnya.

Mereka berupaya menggalang kekuatan untuk mengusir Uni Soviet pada Perang Afghanistan.

Sejarah

Sejarah munculnya Al Qaeda bisa ditelusuri sejak masa pendudukan Afganistan oleh militer Uni Soviet pada tahun 1980 - 1988.

Saat itu, Uni Soviet yang dibantu oleh pemerintah Afganistan terlibat konflik bersenjata melawan milisi-milisi lokal yang enggan diperintah oleh rezim komunis setempat.

Situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh AS untuk memberikan bantuan pelatihan dan persenjataan kepada milisi-milisi yang bersangkutan agar mereka bisa memerangi pasukan Soviet.

Sebagian dari mereka nantinya ada yang menjadi simpatisan Al Qaeda sehingga muncullah opini kalau intelijen AS membantu menciptakan Al Qaeda secara tidak langsung.

Perang Soviet di Afganistan juga memancing masuknya para relawan dari luar Afganistan untuk ikut berperang bersama-sama dengan milisi lokal Afganistan atas dasar solidaritas agama.

Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan "mujahidin".

Satu dari sekian banyak mujahidin tersebut adalah Osama Bin Laden yang berasal dari Arab Saudi.

Dengan bermodalkan jaringan koneksi dan kekayaan pribadinya yang berasal dari perusahaan konstruksi milik keluarganya, Osama mendirikan kamp-kamp militer untuk merekrut, melatih, dan mempersenjatai para mujahidin asing yang hendak diterjunkan di Afganistan.

Menjelang berakhirnya Perang Soviet-Afganistan, Osama melakukan pertemuan dengan sejumlah mujahidin lain untuk membahas rencana mereka selepas perang.

Berdasarkan hasil pertemuan yang berlangsung pada tahun 1988 tersebut, mereka kemudian sepakat untuk membentuk kelompok baru yang fokusnya adalah memperluas area operasi perjuangan bersenjata mereka ke luar Afganistan.

Pertemuan itu pula yang disebut-sebut menjadi cikal-bakal lahirnya Al Qaeda.

Tahun 1988, pasukan terakhir Uni Soviet di Afganistan ditarik mundur sehingga perang Soviet di Afganistan pun menemui akhirnya. Berakhirnya perang lalu dimanfaatkan oleh Osama untuk kembali ke Arab Saudi pada tahun 1989.

Setahun kemudian, Irak melakukan invasi militer ke Kuwait sekaligus melahirkan kekhawatiran di Arab Saudi kalau militer Irak akan melanjutkan operasi militernya ke wilayah Saudi.

Osama lantas mencoba memberikan solusi dengan cara menyiapkan mujahidin-mujahidin pengikutnya untuk berhadap-hadapan dengan pasukan Irak jika militer Irak benar-benar menyerbu wilayah Saudi.

Alih-alih menerima tawaran Osama, pemerintah Saudi lebih memilih untuk bekerja sama dengan AS dan membiarkan pasukan koalisi pimpinan AS memanfaatkan wilayah Saudi sebagai markas untuk menggempur Irak.

Keputusan tersebut langsung menyulut kemarahan Osama yang memiliki sentimen kebencian tersendiri kepada AS dan enggan melihat keterlibatan pasukan non-Muslim dalam melindungi wilayah Saudi.

Ketika Osama menyampaikan rasa tidak setujunya dengan menghujat pemerintah Saudi secara terang-terangan, pemerintah Saudi lantas meresponnya dengan cara mengusir Osama keluar negeri pada tahun 1991.

Pergerakan

Terusir dari Saudi, Osama lalu menjadikan Sudan sebagai markas baru kelompoknya.

Di sinilah, Al Qaeda mulai merumuskan rencananya untuk melakukan aksi-aksi penyerangan di wilayah lain.

Tanggal 26 Februari 1993 contohnya, Al Qaeda meledakkan bom seberat 500 kg di halaman parkir gedung WTC.

2 tahun kemudian, Al Qaeda melakukan percobaan pembunuhan yang gagal kepada presiden Mesir, Husni Mubarak.

Masih di tahun yang sama, Al Qaeda juga meledakkan bom di Riyadh, ibukota Arab Saudi.

Tahun 1996, sebagai akibat dari meningkatnya tekanan dunia internasional atas aksi-aksi Al Qaeda, pemerintah Sudan akhirnya mendeportasi Osama keluar negeri.

Terbuang dari Sudan, Osama kemudian bertolak ke tanah kelahiran Al Qaeda yang tidak lain merupakan Afganistan dan kini sedang diperintah oleh kelompok Taliban yang memiliki kesamaan ideologi dengan Al Qaeda.

Afganistan pun kini menjadi markas baru Al Qaeda untuk melatih dan merekrut para mujahidin asing.

Pada periode yang sama, Al Qaeda juga melebarkan sayapnya ke tanah Eropa dengan memanfaatkan mujahidin-mujahidin asing yang terlibat dalam konflik di Bosnia dan Kosovo.

Bulan Januari 2000, sejumlah anggota Al Qaeda dan kelompok militan Asia Tenggara "Jemaah Islamiyah" (JI) melakukan pertemuan rahasia di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tidak diketahui detail persis isi pertemuan tersebut.

Namun pertemuan tersebut diduga ada hubungannya dengan rencana JI untuk melakukan aksi-aksi penyerangan di kawasan Asia Tenggara pada tahun-tahun berikutnya.

Salah satu contoh aksi tersebut adalah peristiwa Bom Bali I pada tahun 2002 yang menewaskan ratusan warga asing.

Masih di tahun yang sama, aparat Indonesia juga sempat menahan salah satu anggota Al Qaeda yang bernama Omar Al-Farouq.

Peristiwa 11 September 2001

Tanggal 11 September 2001, terjadi peristiwa fenomenal yang menjadi tonggak meledaknya popularitas Al Qaeda.

Sejumlah pesawat penumpang yang dibajak oleh anggota Al Qaeda menabrakkan diri ke gedung Pentagon dan menara kembar WTC.

Sesudah melakukan investigasi, aparat AS menyimpulkan kalau Al Qaeda adalah dalang di balik peristiwa tersebut.

Osama selaku pemimpin Al Qaeda sendiri awalnya tidak mengakui keterlibatan Al Qaeda dalam peristiwa 11 September walaupun ia menyatakan suka citanya atas peristiwa tersebut.

Baru pada tahun 2004, Osama mengakui kalau insiden 11 September memang dilakukan oleh Al Qaeda.

Karena rezim Taliban di Afganistan menolak menyerahkan Osama ke AS, AS dan sekutunya kemudian melancarkan invasi militer ke Afganistan pada bulan Oktober 2001.

Hanya dalam waktu singkat, pasukan koalisi pimpinan AS berhasil menggulingkan rezim Taliban dan menguasai kota-kota penting di Afganistan.

Namun pasukan koalisi masih belum berhasil menemukan Osama.

Invasi tersebut juga gagal menamatkan Al Qaeda karena kelompok yang bersangkutan mengungsi ke luar Afganistan dan terus melanjutkan aktivitasnya secara sembunyi-sembunyi.

Kelompok Cabang

Invasi pasukan koalisi ke Afganistan juga berdampak pada berubahnya metode perjuangan Al Qaeda.

Kelompok yang bersangkutan kini lebih jarang menampakkan diri dan membiarkan kelompok-kelompok cabangnya di berbagai belahan dunia untuk beroperasi di daerahnya masing-masing.

Kelompok-kelompok cabang Al Qaeda sendiri banyak yang aslinya merupakan kelompok pejuang domestik yang kemudian menyatakan kesetiaannya kepada pemimpin Al Qaeda sambil tetap melanjutkan aktivitasnya secara mandiri.

Dengan kata lain, selain sebatas memberikan masukan dan pidato penyemangat dari jauh, pemimpin Al Qaeda tidak ikut terlibat dalam penentuan kebijakan kelompok-kelompok cabangnya

Contoh dari kelompok cabang Al Qaeda yang lahir dari proses macam itu adalah "Al Qaeda in the Islamic Maghreb" (Al QaedaIM) yang area operasinya berada di Gurun Sahara bagian barat.

Awalnya Al QaedaIM lahir pada tahun 1998 dengan menyandang nama GSPC sebagai 1 dari sekian banyak kelompok yang terlibat dalam perang sipil Aljazair.

Lalu pada tahun 2007, pemimpin GSPC mengganti nama kelompoknya menjadi Al QaedaIM sebagai bentuk pernyataan kesetiaan kepada Osama.

4 tahun kemudian, jumlah kelompok cabang Al Qaeda di Sahara bertambah setelah sebagian anggota Al QaedaIM membentuk kelompok baru yang bernama MOJWA / MUJAO untuk melibatkan diri dalam konflik Mali utara.

Kasus serupa juga bisa dijumpai di Somalia, tepatnya pada kelompok Al-Shabaab.

Al-Shabaab awalnya merupakan kelompok Islamis lokal yang terbentuk pada tahun 2006 dengan fokus mengubah Somalia menjadi negara Islam.

4 tahun berlalu, Al-Shabaab menjelma menjadi kelompok cabang Al Qaeda yang baru menyusul keluarnya video pernyataan kesetiaan dari pemimpin Al-Shabaab kepada Al Qaeda.

Kalau di Irak, proses pembentukan macam itu bisa dilihat pada kelompok JTJ yang terbentuk pada tahun 2003.

JTJ nantinya mendeklarasikan kesetiaannya kepada Al Qaeda pada tahun 2004 dan menelurkan kelompok cabang baru di Suriah yang bernama "Jabhat Al-Nusra" pada tahun 2012.

Kembali ke Al Qaeda selaku organisasi intinya.

Pada tahun 2011, pasukan AS akhirnya berhasil menemukan lokasi persembunyian Osama di Abbottabad (Pakistan) dan membunuhnya di tempat.

Peristiwa pembunuhan Osama sempat memanaskan hubungan antara Pakistan dengan AS karena pemerintah Pakistan menganggap tindakan AS melakukan operasi militer di tanah Pakistan tanpa izin sebagai bentuk pelanggaran kedaulatan.

Bagi Al Qaeda sendiri, tewasnya Osama dianggap tidak banyak berpengaruh karena kelompok tersebut langsung mengangkat Ayman Al-Zawahiri sebagai pemimpin barunya.

Waktu berlalu, sistem desentralistik yang digunakan oleh Al Qaeda untuk melakukan perjuangan global mulai menjadi bumerang.

Pada tahun 2013, kelompok ISI yang selama ini bertindak sebagai perpanjangan tangan Al Qaeda di Irak melakukan peleburan paksa dengan kelompok Jabhat Al-Nusra di Suriah untuk membentuk kelompok baru yang bernama ISIS / ISIL.

Ketika pemimpin Al Qaeda dan Al-Nusra menolak upaya peleburan tersebut, pertikaian pun pecah antara pasukan ISIS melawan pasukan Al-Nusra.

Dikombinasikan dengan sikap tidak setuju Zawahiri terhadap metode perjuangan ISIS yang dianggap terlalu sadis dan kelewat batas, Zawahiri secara resmi tidak lagi mengakui ISIS sebagai kelompok cabang Al Qaeda pada awal tahun 2014.

Al Qaeda sudah bermutasi dari serangkaian ide ekstremis menjadi serumpun gagasan dan praktik yang menyebar melalui pelbagai kelompok dan jaringan sosial, dengan kampanye-kampanye kekerasan yang membahayakan keamanan internasional.

Apa yang dilakukan ISIS tidak terlepas dari kepentingan global pelbagai negara besar dan negara-negara Timur Tengah dalam rangka merombak lanskap geopolitik di Timur Tengah.

Dan yang lebih penting lagi: hadirnya para sukarelawan dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jerman, Perancis, yang membantu para anggota ISIS.

Ancaman permanen Al Qaeda, ISIS, dan beberapa kelompok terkait kini tak bisa dianggap isapan jempol semata.

Mereka memiliki kemampuan finansial dan logistik untuk mendesain, mendanai, memfasilitasi atau melaksanakan serangan teroris.

Melalui perencanaan jangka menengah dan panjang, Al Qaeda menyasar kombatan-kombatan asing agar terlibat dengan gerakan Al Qaeda.

Sementara itu, banyak militan Al Qaeda melakukan diaspora, berpindah kelompok atau mendirikan kelompok baru di Semenanjung Arab dan di Afrika (contoh teranyar adalah al-Shabaab).

Tokoh-tokoh veteran Al Qaeda membawa pelbagai keterampilan, kemampuan, dan jaringan sosial ke kelompok-kelompok ini, sampai ke Indonesia.

Situasi pasca konflik di Irak dan Suriah hanya akan mendorong mereka menyebar ke pelbagai penjuru dunia, sebagaimana perang Afganistan dan Uni Soviet mendorong diaspora kombatan di banyak tempat, dari Aljazair hingga Filipina, lengkap dengan jaringan, gagasan, dan kecakapan di lapangan.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul: Al Qaeda

ARTIKEL POPULER:

Baca: Profil Osama Bin Laden - Pendiri Al Qaeda

Baca: World Organization of the Scout Movement, Organisasi yang Menaungi Kegiatan Kepramukaan Seluruh Duni

Baca: Nahdlatul Ulama, Organisasi Islam yang Bergerak di Bidang Keagamaan, Pendidikan, Sosial, dan Ekonomi

TONTON JUGA:

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
Tags
   #Al Qaeda   #terorisme
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved