Tribunnews WIKI

Mr. Crack, Panggilan BJ Habibie karena Penemuannya

Kamis, 12 September 2019 17:07 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - BJ Habibie merupakan Presiden Ketiga Republik Indonesia.

Selain itu, BJ Habibie sudah identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama pesawat terbang.

Bahkan, kepakaran BJ Habibie telah diakui oleh dunia internasional.

Habibie telah memegang berbgai hak paten terkait dengan pesawat terbang.

Satu di antara capaian besar BJ Habibie adalah teori Crack atau yang juga dikenal dengan Faktor Habibie.

Temuan BJ Habibie tersebut masih digunakan hingga sekarang.

Karena penemuan tersebut memberi dampak yang besar terhadap dunia penerbangan, dunia internasional menjuluki Habibie sebagai Mr Crack.

Hal itu karena kemampuan Habibie dalam menghitung Propagation on Random hingga ke atom-atom material pesawat terbang.

Latar Belakang

Kisah penemuan Teori Crack bermula ketika sering terjadi kecelakaan pesawat pada tahun 1960-an.

Kecelakaan tersebut terjadi lantaran kerusakan kontruksi pesawat kala itu belum bisa dideteksi.

Dari latar belakang inilah BJ Habibie mulai mengembangkan penemuannya.

BJ Habibie memecahkan masalah tersebut dengan menghitung rambatan titik kerusakan yang terjadi pada logam.

Menurut BJ Habibie, seperti manusia, logam juga memiliki titik kelelahan.

Titik yang paling rawan terjadi kerusakan adlaah pada sambungan badan dan sayap pesawat.

Selain itu, kerusakan juga rawan terjadi pada sambungan sayap pesawat dan dudukan mesin pesawat.

Ketika terjadi kerusakan, akan muncul keretakan pada logam atau yang juga dikenal dengan istilah crack.

Terkait hal ini, BJ Habibie mampu menemukan perhitungan yang rinci, bahkan sampai pada perhitungan atom logam.

Fungsi Habibie atau Faktor Habibie

Fungsi Habibie, atau Faktor Habibie, atau dikenal juga dengan teori Habibie merupakan jawaban dari masalah keretakan yang diungkap sebelumnya.

Sebelum titik crack bisa dideteksi, para ahli mengatasi dengan meninggikan faktor keselamatannya (SF).

Hal itu dilakukan dengan meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka teoritisnya.

Sebagai akibatnya, untuk melakukan hal tersebut diperlukan material yang lebih berat.

Untuk pesawat terbang, biasanya digunakan material alumunium yang dikombinasikan dengan baja.

Setelah titik crack bisa dihitung, maka derajat SF bisa diturunkan.

Sebagai contoh, campuran material sayap dan badan pesawat dipilih dari bahan yang lebih ringan.

Porsi baja dikurangi, dan alumunium semakin dominan dalam bodi pesawat.

Terobosan inilah yang kemudian dikenal dengan Faktor Habibie.

Faktor Habibie mampu meringankan bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar (operating empty weight) hingga 10% dari bobot sebelumnya.

Angka tersebut bisa mencapai angka 25% setelah BJ Habibie menyusupkan material komposit dalam pesawat.

Meski beratnya berkurang, maxsimum take off weigh (bobot pesawat ditambah bahan bakar dan penumpang) tidak ikut turun.

Dengan demikian, daya angkut dan daya jelajah pesawat semakin meningkat.

Temuan tersebut mampu meningkatkan kinerja pesawat terbang.

Faktor Habibie juga digunakan untuk pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian pada kerangka pesawat.

Hal itu membuat badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara ketika pesawat melakukan take off.

Selain itu, pada sambungan badan pesawat dengan landing gear jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: Mr Crack (Julukan untuk BJ Habibie)

ARTIKEL POPULER:

Baca: Pesawat R80, Pesawat Indonesia yang Digagas oleh BJ Habibie dan Putranya, Ilham Habibie

Baca: Pesan Terakhir BJ Habibie untuk Melani Subono: Terus Jadi Pemberontak yang Hebat Ya!

Baca: Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun, Sebuah Bentuk Kado kepada Habibie.

TONTON JUGA:

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved