Tribunnews Update
Nilai Rupiah Tertekan, Bimbim Slank Sebut Krisis 1998 Tak Terulang jika Kritik Tetap Didengar
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menembus angka di atas Rp 18 ribu memicu kekhawatiran luas di berbagai sektor, tak terkecuali bagi industri musik.
Drummer band legendaris Slank, Bimbim, merasakan dampak nyata dari depresiasi mata uang ini terhadap operasional band maupun kebutuhan rumah tangganya.
Ditemui di markas Slank, Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026), Bimbim mengungkapkan bahwa hampir seluruh komponen penunjang profesinya sebagai musisi bergantung pada barang impor.
"Pasti semua kena dampak, termasuk alat musik. Senar, stick drum, dan kebutuhan lainnya yang impor semua naik harganya. Jadi ya, kita menjerit lah dolar naik," ujar pria bernama asli Bimo Setiawan Almachzumi ini.
Tidak hanya di sektor pekerjaan, Bimbim juga merasakan kenaikan harga barang kebutuhan pokok impor yang dikonsumsi keluarganya. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli rupiah tengah melemah drastis.
"Anak-anak kan suka belanja bahan-bahan impor, begitu lihat harganya, ya terasa sekali kalau rupiah sedang tidak ada harganya," tambah pria berusia 59 tahun tersebut.
Meski terdampak secara ekonomi, Bimbim memastikan band Slank tidak akan menaikkan tarif honor mereka untuk pertunjukan off-air sebagai bentuk empati kepada penyelenggara acara.
"Nggak mungkin menaikkan honor. Kasihan pihak yang ingin mengundang Slank," tegasnya.
Di tengah desas-desus mengenai potensi kerusuhan sosial serupa tahun 1998 akibat kondisi ekonomi yang sulit, Bimbim memberikan pandangan berbeda.
Ia meyakini bahwa gejolak sosial dapat diredam selama pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat untuk berekspresi.
"Selama seni, budaya, lagu, dan kebebasan berekspresi tidak dibungkam, saya rasa itu masih bisa menjadi katup penyeimbang untuk menenangkan masyarakat," jelas Bimbim.
Namun, ia mengingatkan pemerintah, bahwa jika ruang aspirasi masyarakat dibatasi dan musisi dilarang mengkritik melalui karya, maka potensi ledakan dinamika sosial akan semakin besar.
"Kalau dulu kami sampai menarik bendera setengah tiang karena merasa dibungkam. Tapi kalau sekarang, selama kami masih bisa mengkritik lewat karya dan tidak harus teriak-teriak di jalan, situasi masih terjaga. Tapi kalau dilarang dan dibungkam, mungkin bisa meledak," pungkas Bimbim.
Bimbim berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan ekonomi agar stabilitas nasional tetap terjaga dan beban masyarakat tidak semakin berat.(Wartakotalive.com)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Rupiah Kian Loyo, Bimbim Slank Yakin Momen 1998 Tak Terulang Jika Kritik Tak Dibungkam
Video Production: bima berseri
Sumber: Tribunnews.com
Konflik Timur Tengah
AS & Iran Bentrok Lagi di Hormuz! CENTCOM Umumkan 2 Drone Teheran Ditembak Jatuh
5 jam lalu
Tribunnews Update
Ruben Onsu Tak Hadiri Ultah Thalia-Thania, Hanya Unggah Foto Lawas Anak-anak yang Bikin Haru
6 jam lalu
Tribunnews Update
Kebanjiran Job saat Piala Dunia, Ibnu Jamil Rela Ubah Pola Tidur demi Jaga Performa
6 jam lalu
Tribunnews Update
Sebelum Menikah dengan Justin Hubner, Jennifer Coppen Nikmati Momen Sahabat yang Sangat Istimewa
6 jam lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.