Selasa, 14 April 2026

Local Experience

Panggung Songgo Buwono, Ikon Keraton Solo Sarat Makna Filosofis

Selasa, 14 April 2026 10:44 WIB
TribunSolo.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Kondisi Panggung Songgo Buwono di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta belakangan jadi sorotan karena berlumut, padahal baru beberapa bulan dibangun.

Namun, kondisi itu disebut masih wajar oleh Kepala Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X, Manggar Sari Ayuati.

Ia menegaskan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi terkait adanya kerusakan pada bangunan bersejarah tersebut setelah proyek revitalisasi selesai dilakukan.

Terkait munculnya lumut di beberapa bagian bangunan, Sari menyebut kondisi tersebut sebagai hal yang wajar, terutama mengingat saat ini masih dalam musim penghujan.

“Hal-hal minor sebenarnya bisa dikomunikasikan dengan kami. Kemarin yang menjadi wacana adalah penambahan karpet di koridor depan yang mengelilingi area, karena terkena panas dan hujan sehingga dikhawatirkan cepat lapuk. Jadi perlu tambahan karpet untuk penahan air. Di lantai atas bagian depan juga ada semacam teras,” tuturnya.

Ia juga memastikan bahwa revitalisasi Panggung Songgo Buwono telah melalui kajian akademik sebelum pelaksanaan proyek.

Menurutnya, pertumbuhan lumut pada dinding bangunan tidak bisa langsung dianggap sebagai indikasi kerusakan.

“Saya kira ini karena musim hujan sudah berlangsung beberapa bulan. Saat saya ke sana, memang ada sedikit lumut, itu wajar karena musim penghujan dan bangunannya berwarna putih bersih,” jelasnya saat dihubungi TribunSolo.com, Senin (6/4/2026).

Sari menambahkan, warna putih pada dinding bangunan membuat lumut yang muncul meski sedikit terlihat lebih mencolok.

Di sisi lain, kondisi Panggung Songgo Buwono pasca revitalisasi turut menuai sorotan dari kubu PB XIV Purboyo.

Kritik ini muncul setelah terlihat adanya lumut pada dinding bangunan.

Juru Bicara PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro, mengungkapkan kecurigaannya terhadap kualitas pengerjaan proyek revitalisasi tersebut.

Ia bahkan menduga pekerjaan dilakukan tanpa melibatkan ahli yang kompeten.

“Waktu hajad dalem Grebeg Syawal atau Poso, saya melihat dari luar temboknya sudah berlumut, baik dari sisi Semorokoto maupun dari dalam. Samping sebelah barat itu. Di situ terlihat tangga kecil. Kami menduga revitalisasi dikerjakan Pak Menteri Kebudayaan asal-asalan, tidak melibatkan ahlinya,” ungkapnya saat dihubungi, Sabtu (4/4/2026).

Selain itu, pihaknya juga mempertanyakan keberadaan kajian akademik yang seharusnya menjadi dasar pelaksanaan revitalisasi.

Hingga kini, menurutnya, kajian tersebut belum dipublikasikan secara terbuka.

Panggung Songgo Buwono merupakan salah satu bangunan ikonik di Keraton Kasunanan Surakarta yang memiliki nilai sejarah dan filosofi tinggi.

Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III sekitar tahun 1777 Masehi (tahun Jawa 1708 Ehe).

Dengan ketinggian mencapai sekitar 30–36 meter, Panggung Songgo Buwono dikenal sebagai salah satu menara tertinggi yang pernah dimiliki kerajaan di Asia Tenggara.

Secara filosofis, bangunan ini mengandung makna nogo muluk tinitan jalmo, yang mencerminkan keyakinan bahwa suatu saat rakyat akan menentukan pemimpinnya sendiri.

Filosofi tersebut dianggap terwujud ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945 dan memasuki era demokrasi.(*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Asal-usul Panggung Songgo Buwono Keraton Solo, Kondisinya Pasca-revitalisasi Disorot Kubu Purboyo.

Program : Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana

#localexperience #sejarah panggungsonggobuwono #keratonsolo #solo #pakubuwono #nogomuluktinitanjalmo #filosofi

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Untung SofaMaulana
Sumber: TribunSolo.com

Tags
   #Keraton Surakarta   #sejarah   #makna   #Filosofi

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved