Tribunnews Update

Peristiwa Sejarah Pembantaian di Desa Rawagede, Rawamerta, Karawang, Jawa Barat

Jumat, 16 Agustus 2019 15:37 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Pada 1947 tentara Belanda kembali datang ke Indonesia dan berhasil menguasai wilayah Jawa Barat.

Belanda membawa misi untuk membersihkan unit pasukan bersenjata Indonesia dan laskar-laskar pemuda yang melakukan perlawanan dengan Belanda.

Pasukan Belanda yang ikut ambil bagian dalam operasi adalah Detasemen 3-9 RI, pasukan para 1E, 12 Genie veld compagnie dan Depot Speciaale Troepen (DST) berjumlah total sekitar 130.000 tentara.

Pasukan tersebut bertujuan untuk memburu Kapten Lukas Kustaryo yang selalu berhasil menyerang pos-pos dan patroli militer Belanda.

Belanda yang mencurigai adanya gerakan pejuang di daerah Rawagede mulai mengirimkan mata-mata untuk melakukan penyelidikan.

Pada kenyataannya di desa Rawagede, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang terdapat Markas Gabungan Pejuang (MGP) oleh para pejuang dan laskar pemuda.

Mengetahui hal tersebut para pemimpin MGP menutup seluruh akses jalan menuju desa Rawagede dan melakukan patroli penjagaan setiap malam.

Kemudian seorang intel Belanda berkebangsaan Indonesia berhasil ditangkap oleh anggota MGP Rawagede, namun berhasil kabur.

Intel tersebut memberikan informasi kepada Belanda bahwa di MGP Rawagede terdapat Lukas Kustaryo dan pasukan.

Mengetahui hal tersebut Belanda segera menyusun rencana penyerangan ke Rawagede.

Namun seorang kepala desa yang menyamar, Saukim mengetahui rencana tersebut dan segera memberikan informasi melalui surat kepada MGP Rawagede.

Isi surat tersebut adalah informasi bahwa Belanda pada 9 Desember 1947 akan melakukan penyerbuan masif ke Kampung Rawagede.

Setelah mendapat informasi dari Saukim, seluruh pimpinan dan anggota MGP mencoba meloloskan diri dan keluar dari Rawagede.

Pembantaian

Setelah mendapatkan informasi dari Saukim, sebagian pejuang berhasil keluar dari Rawagede untuk menyelamatkan diri.

Namun karena hujan lebat, sebagian pejuang tidak dapat meninggalkan Rawagede.

Pada Selasa, 9 Desember 1947, pukul 04.00 WIB militer Belanda tiba dan mengepung desa Rawagede.

Semua penduduk yang hendak pergi keluar desa untuk bertani atau berdagang diperintahkan untuk kembali ke rumah.

Belanda melakukan penggeledahan, namun tidak menemukan Lukas Kustaryo dan pejuang lainnya.

Kemudian pasukan Belanda memaksa seluruh penduduk keluar rumah dan dikumpulkan di tempat yang lapang.

Penduduk yang bersembunyi dan berusaha melarikan diri ditembak ditempat oleh Belanda.

Setelah sampai di tanah lapang, penduduk laki-laki di atas 15 tahun diperintahkan untuk berdiri berjejer untuk diinterogasi tentang keberadaan para pejuang.

Namun karena bungkam, semua penduduk laki-laki dibantai menggunakan senapan mesin.

Aksi tersebut mengakibatkan 431 orang penduduk Rawagede tewas, kecuali wanita dan anak-anak.

Setelah tentara Belanda meninggalkan Rawagede, para wanita menguburkan mayat-mayat dengan peralatan seadanya.

Karena tidak dapat menggali lubang yang dalam, mayat-mayat tersebut dikuburkan di kedalaman 50 cm sehingga menimbulkan bau busuk.

Belanda masih melanjutkan misi pencarian Lukas Kustaryo bahkan menambah personil sebanyak 9 truk.

Tentara Belanda juga mendapatkan bantuan dari pribumi pengkhianat yang menunjukkan tempat-tempat persembunyian para pejuang.

Belanda juga membantai penumpang Kereta Api jurusan Karawang-Rengasdengklok yang terjebak di Stasiun Rawagede.

Para penumpang diperintahkan untuk baris jongkok di jalan Kereta Api dan kemudian ditembak.

Akibat kejadian tersebut, 62 orang tewas dibantai.

Permohonan Maaf

Pada 14 September 2011, akhirnya pengadilan sipil Den Haag dipimpin oleh DA Schreudermenjatuhkan vonis pada Belanda untuk bertanggung jawab atas kejadian di Rawagede.

Upaya pencarian keadilan bagi janda korban pembantaian Rawagede didampingi oleh seorang pengacara dan guru besar Hukum Humaniter Internasional serta penggagas Yayasan Belanda Nuhanovic Foundation, Liesbeth Zegveld.

Putusan pengadilan mewajibkan pemerintah Belanda akan melakukan permintaan maaf secara terbuka pada 9 Desember 2011.

Selain itu Belanda juga diwajibkan memberikan kompensasi sebesar 20 ribu Euro atau setara Rp244 juta.

Permintaan maaf tersebut dilakukan dan diwakili oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan.

Sebanyak enam janda korban tragedi Rawagede menerima kompensasi dari pemerintah Belanda.

Pemberian kompensasi dilakukan secara simbolik di Monumen Perjuangan Rawagede, di Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Pembantaian Rawagede

ARTIKEL POPULER:

Baca: Kodam III Siliwangi Gelar Teatrikal Pertempuran Palagan Ambarawa

Baca: Serangan Umum Surakarta, Serangan Perpisahan Slamet Riyadi

Baca: Serangan Umum 1 Maret 1949, Pertempuran yang Buktikan pada Dunia Masih Eksisnya Republik Indonesia

TONTON JUGA:

Editor: Alfin Wahyu Yulianto
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
Tags
   #TRIBUNNEWS UPDATE   #Karawang   #sejarah
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved