Tribunnews WIKI

Profil Wikana - Tokoh Nasional

Rabu, 14 Agustus 2019 10:46 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Wikana merupakan seorang tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Bersama para pemuda lain seperti Sukarni dan Chaerul Saleh yang tergabung dalam Menteng 31, Wikana turut terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok untuk mengamankan Soekarno dan Hatta.

Mereka menjemput secara paksa Soekarno dan Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok, Jawa Barat pada Kamis, 16 Agustus 1945 dini hari.

Mereka mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pascakekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Wikana juga mengatur keperluan pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia di rumah Bung Karno di Pegangsaan 56.

Tidak hanya itu, Wikana juga membujuk kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan proklamasi.

Meski memiliki andil besar dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia, sampai sekarang Wikana belum juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Namanya juga tidak populer di kalangan deretan pejuang, bahkan terkesan dihilangkan dari sejarah.

Pada masa awal kemerdekaan, Wikana sebenarnya cukup disegani di kalangan kaum pergerakan, hingga Sjahrir pun mengangkatnya menjadi Menteri Negara Urusan Pemuda.

Kehidupan Pribadi

Wikana lahir di tanah Sunda, tepatnya di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada 16 Oktober 1914.

Ayahnya adalah seorang priayi dari Demak, Jawa Barat, yaitu Raden Haji Soelaiman.

Wikana merupakan anak ke-14 dari 16 bersaudara.

Salah seorang kakanya, Winanta merupakan tokoh pemimpin PKI di era 1920-an.

Namun akibat pemberontakan PKI yang gagal pada 1926/1927, Winanta kemudian dibuang ke Boven Digul.

Winanta itulah yang mengajarkan banyak hal kepada Wikana tentang politik.

Menjelang peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, Wikana yang saat itu merupakan serang tokoh PKI pergi ke Peking untuk menghadiri hari Nasional China pada 1 Oktober 1965.

Ketika kembali ke tanah air pada 10 Oktober 1965, pascameletusnya G30S, Wikana langsung diringkus oleh tentara.

Meski sempat dilepaskan, namun pada Juni 1966 Wikana kembali ditangkap oleh tentara.

Sejak saat itu ia tidak kembali lagi sampai sekarang, bahkan keluarganya tidak mengetahui keberadaannya.

Wikana sempat menikah dengan Asminah binti Oesman di Kemayoran pada 1940.

Dari hasil pernikahannya, Wikana dan Asminah dikaruniai enam anak, yaitu Lenina Soewarti Wiasti Wikana Putri, Temo Zein Karmawan Soekana Pria (alm.), Tati Sawitri Apramata, Kania Kingkin Pratapa, Rani Sadakarana, dan Remondi Sitakodana.

Pendidikan dan Karier

Wikana menempuh pendidikan formal pertamanya di Europeesche Lagere School (ELS).

Tamat dari ELS, Wikana kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Dari MULO, Wikana lulus pada 1932 dan langsung terjung ke gelanggan politik mengikuti jejak abangnya, Winanta.

Di awal karier politiknya, Wikana tergabung dalam Partai Indonesia (Partindo).

Wikana juga sempat menjadi anak didik Soekarno, ia sering menulis di koran yang diasuh oleh Bung Karno, Fikiran Rakjat.

Pada 1937, beberapa petinggi Partindo dan aktivis komunis berkolaborasi membentuk organisasi bernama Partai Gerakan Indonesia (Gerindo) yang berhaluan kiri dan sangat anti-fasis.

Wikana kemudian bergabung dengan Gerindo dan dipercaya sebagai Ketua Barisan Pemuda Gerindo.

Karena saat itu aktivis komunis masih menjadi buruan Belanda, PKI kemudian bergerak secara ilegal.

Meski demikian mereka masih menerbitkan koran Menara Merah.

Wikana ditunjuk menjadi agen penyebaran Menara Merah di Jawa Barat di bawah koordinasi tokoh PKI, Pamoedji.

Juni 1940, koran gelap tersebut tercium oleh Belanda.

Sebanyak satu juta eksemplar disita oleh pemerintah kolonial serta sejumlah aktivis ditangkap karena dianggap menyebarkan koran terlarang.

Beberapa aktivis yang ditangkap di antaranya Wikana, Adam Malik, dan Pandu Kartawiguna dan baru keluar penjara setelah Jepang menduduki Indonesia pada 1942.

Ketika masa pendudukan Jepang, Wikana bekerja di grup Kaigun atau angkatan laut Jepang bersama Ahmad Subardjo, pentolan Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Untuk menyembunyikan identitasnya, Wikana menggunakan nama samara Raden Sunoto.

Untuk bisa menyaingi angkatan darat Jepang, Kaigun juga membentuk institut politik bernama Indonesia Merdeka yang dipimpin Wikana.

Kegiatannya berupa pendidikan politik bagi para pemuda.

Antara 11 dan 12 Agustus 1945, para pemuda mendengar kabar kekalahan Jepang dari pekerja Indonesia di radio militer Jepang.

15 Agustus 1945, di Asrama Badan Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperki) di Tjikini 71 terjadi pertemuan atas inisiatif DN Aidit.

Setelah pertemuan itu, Aidit kemudian menghubungi WIkana untuk menghadiri pertemuan yang lebih besar di belakang Institut Bakteriologi Pegangsaan.

Dalam pertemuan itu, hadir juga Chaerul Saleh, Aidit, Djohar Nur, Pardjono, Armansjah, Suroto Kunto, Subadio, Sudewo, dan beberapa tokoh lain.

Mereka memutuskan untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Wikana, Aidit, Subadio, dan Suroto Kunto kemudian diutus untuk menemui Soekarno.

Sebagai juru bicara, Wikana kemudian menyampaikan hasil rapat bahwa Bung Karno harus segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945.

Namun Bung Karno tidak bisa mengambil keputusan sendiri hingga harus melakukan perundingan dengan pemimpin lainnya termasuk Bung Hatta.

Namun hasil perundingan ternyata mengecewakan kaum muda, golongan tua mengaku tidak bisa melangkahi Jepang.

Wikana dan Aidit pun pulang tanpa hasil.

Para pemuda mengadakan pertemuan yang lebih besar dan memutuskan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia tetap dilaksanakan meski tanpa para tokoh di golongan tua, melainkan langsung oleh Rakyat Indonesia.

Untuk mencegah reaksi Jepang, mereka bersepakat untuk mengamankan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat yang merupakan pusat gerakan anti-fasis.

Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.

Namun Wikana tidak ikut dalam rombongan yang membawa Soekarno ke Rengasdengklok

Ia menggelar pertemuan di rumahnya di Jalan Garuda 60 dengan sejumlah pemuda seperti AM Hanadie, Aidit, Pardjono, Djohar Nur, dan lain-lain untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Namun akhirnya golongan muda mencapai kesepakatan dengan Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Setelah Kemerdekaan

Tidak lama pasca-proklamasi kemerdekaan, dibentuk partai mehara sebagai alat pemersatu bangsa dengan nama Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

27 Agustus 1945, nama Wikana tercantum dalam kepengurusan PNI.

Namun karena ide partai negara ditolak banyak pihak, PNI kemudian tidak bertahan lama.

Para pemuda kemudian bersepakat membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) di markas Menteng 31 pada 1 September 1945 dengan Wikana sebagai ketuanya.

API berperan penting dalam aksi-aksi perebutan perusahaan Belanda di masa awal revolusi, di antaranya mereka melakukan perebutan Perusahaan Jawatan Kereta Api.

Dalam Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta pada 10 sampai 11 November 1945, tujuh organisasi pemuda sepakat melebur membentuk Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), termasuk API.

Wikana kemudian terpilih menjai salah seorang wakil ketua.

Wikana kemudian ditunjuk oleh Sutan Sjahrir sebagai Menteri Negara Urusan Kepemudaan dalam Kabinet Sjahrir II dan III.

Juni 1945, Kabinet Sjahrir jatuh karena mosi tidak percaya dari sayap kiri.

Amir Sjarifuddin, seorang tokoh PKI kemudian ditunjuk untuk membentuk kabinetnya.

Wikana kembali ditunjuk menjadi Menteri Negara, namun pada Kabinet Amir yang kedua Wikana menduduki posisi Menteri Pemuda.

Namun kabinet Amir pun jatuh karena perjanjian renville dan maneuver sayap kanan.

Jatuhnya kabinet Amir ini sekaligus ,emamdao berakhirnya pemerintahan sayap kiri di Indonesia.

Kaum kiri kemudian bernaung di bawah Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan semakin mengambil jarak dengan pemerintah.

Pada akhir Februari 1948, Bung Hatta memulai pukulannya terhadap kaum kiri.

Saat itu keluarkan Penetapan Presiden No. 9 tahun 1948, yang di dalamnya mengatur soal reorganisasi tentara.

Disusul Penetapan Presiden No.14 tahun 1948 tentang rasionalisasi tentara.

Kebijakan reorganisasi dan rasionalisasi (Rera) Bung Hatta itu dianggap oleh kaum kiri sebagai “red drive proposal”-nya imperialisme AS.

Pada kenyataannya, Rera ini memang melucuti laskar-laskar rakyat, terutama laskar kiri.

Peristiwa inilah yang berujung pada Peristiwa Madiun 1948.

Pascaperistiwa Madiun, Wikana sempat menghilang selama dua tahun.

Pada 1953, Wikana sempat menjadi anggota Konstituante.

Pada kongres PKI ke-4 tahun 1954, Wikana masuk CC-PKI.

Wikana juga sempat menjadi anggota DPA pada 1963, lalu, pada 1965, ia menjadi anggota MPRS.

Wikana pernah tinggal di Jalan Dempo, Matraman Plantsoen.

Ketika G30S meletus, Wikana sedang berada di Beijing untuk menghadiri hari Nasional China.

Ketika pulang dari Beijing pada 10 Oktober 1965, Wikana kemudian ditangkap oleh tentara dan kemudian menggiringnya ke KODAM Jaya.

Dia sempat dibebaskan, namun pada Juni 1966 ia dibawa lagi oleh tentara dan saat itu tidak pernah kembali lagi.

Wikana memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa tanpa Wikana Proklamasi Indonesia tidak akan berjalan lancar.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: 17 AGUSTUS – Serial Tokoh Nasional : Wikana

ARTIKEL POPULER:

Baca: Profil Maria Ulfah - Tokoh Nasional

Baca: Profil Mr Assaat - Tokoh Nasional

Baca: Profil KH Maimun Zubair (Mbah Moen) - Tokoh Agama dan Politisi

TONTON JUGA:

Editor: Alfin Wahyu Yulianto
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved