Tribunnews WIKI
Profil Iwa Koesoemasoemantri - Pahlawan Nasional
TRIBUN-VIDEO.COM - Iwa Koesoemasoemantri merupakan pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Ciamis pada 31 Mei 1899.
Meninggal di usia 77 tahun pada 27 November 1971.
Dikenal sebagai seorang politisi nasional, pengacara dan pejuang hak-hak buruh atau pekerja.
Selain itu, Iwa juga pernah menjadi menteri pada kepemimpinan Presiden Soekarno.
Pendidikan
Iwa merupakan anak dari Raden Wiramantri yang merupakan Kepala Sekolah Rendah dan kemudian menjadi pemilik sekolah (school opziener) yang berada di Ciamis.
Lahir dari keluarga yang bergerak di dunia pendidikan, membuat Iwa dapat merasakan pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS).
HIS merupakan sekolah dasar untuk anak pribumi namun dengan bahasa pengantar Belanda.
Iwa juga pernah melanjutkan pendidikan selama satu tahun di sekolah calon ambtenaar (pegawai pemerintah) yang berada di Bandung.
Namun Iwa memutuskan untuk keluar dari sekolah tersebut dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Hukum yang berada di Batavia.
Kemudian setelah menyelesaikan pendidikannya, Iwa bekerja di kantor Pengadilan Negeri yang berada di Bandung sebelum dipindah ke Surabaya lalu Jakarta.
Kemudian pada 1922, Iwa melanjutkan pendidikan hukum di Univesritas Leiden, Belanda.
Ketika kuliah di Belanda, Iwa aktif di Indische Vereeniging yang berubah menjadi Indonesische Vereeniging.
Kemudian nama tersebut berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Iwa juga pernah menjadi ketua organisasi tersebut pada 1923-1924 dan menjalankan organisasinya dengan prinsip nonkooperasi.
Karier
Pada 1925 Iwa pergi ke Rusia dan belajar di Universitas Komunis Kaum Tertindas dari Timur di Moskow.
Iwa juga pernah menikah dengan perempuan yang berasal dari Rusia bernama Anna Inova.
Dari pernikahan tersebut, Iwa dikaruniai seorang anak bernama Sumira Dingli.
Selama di Rusia, Iwa menulis buku berjudul 'The Peasant Movement in Indonesia' yang menceritakan tentang petani Indonesia.
Pada 1927, Iwa kembali ke Indonesia tanpa membawa istri dan anaknya karena pada saat itu kebijakan pemerintah setempat tidak boleh ke luar negeri tanpa alasan yang kuat.
Selang beberapa tahun kemudian, Iwa menikah dengan Kuraesin Argawinata dan dikaruniai enam orang anak, lima putri dan satu putra.
Setelah kembali ke Indonesia, Iwa bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Iwa juga membuka kantor pengacara di Medan yang terkenal sebagai pengacara kaum buruh.
Iwa pernah menjadi penasihat Persatuan Sopir dan Pekerja Bengkel (Persatuan Motoris Indonesia), Ketua Pekerja Opium Regie Bond luar Jawa dan Madura (ORBLOM), dan penasihat sebuah organisasi kepanduan Indesisch National Padvinders Organisatie (INPO).
Iwa juga mendirikan sebuah surat kabar bernama Matahari Terbit.
Surat kabar tersebut mangaspirasi hak-hak pekerja dan juga mengkritik perkebunan milik pemerintah Belanda.
Selain itu, Iwa juga menjadi pemimpin surat kabar Mata Hari Indonesia.
Tulisan Iwa yang banyak menyalahkan pemerintah Belanda, membuat Iwa akhirnya ditangkap pada 1929 dan dipenjara selama setahun.
Setelah itu, Iwa dipindahkan ke penjara Glodok dan penjara Struis-Wyck di Jakarta.
Setelah lebih dari 10 tahun, Iwa kemudian di buang ke Banda Neira Maluku bersama keluarganya.
Peran
Iwa akhirnya dibebaskan setelah Jepang datang.
Iwa bahkan sempat diangkat menjadi Hakim Keizei Hooin (pengadilan kepolisian) Makassar.
Iwa kemudian kembali membuka praktik di Jakarta dan diangkat menjadi satu di antara anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Iwa memiliki pandangan bahwa UUD 1945 merupakan peraturan yang lahir secara darurat dan kemungkinan dapat diperbaiki.
Iwa mengusulkan adanya pasal yang mengatur perubahan UUD 1945 yang disambut oleh Soepomo.
Setelah melewati perundingan, akhirnya terdapat kesepakatan dan muncul pasal 37 UUD 1945 yang dapat mengatur cara untuk mengubah konstitusi.
Setelah Indonesia merdeka, Iwa mengabdi kepada negara dengan menjadi Menteri Sosial di kabinet pertama.
Namun kemudian Iwa ditangkap bersama Mohammad Yamin, Soebardjo, dan Tan Malaka.
Mereka ditangkap dan dituduh terlibat dalam peristiwa kudeta 3 Juli 1946.
Setelah bebas, Iwa dipercaya Presiden Soekarno menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada kabinet Ali Sastroamidjojo (1953-1955).
Tuduhan komunis dan kudeta menyebabkan Iwa memilih mundur sebagai Menteri Pertahanan.
Iwa kemudian menjadi rektor pertama Universitas Padjajaran pada 1957.
Pada 1961 Iwa menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. (4)
Penghargaan
Iwa ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RI No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002. (5)
(TribunnewsWiki/Sekar)
Artikel Ini Telah Tayang di tribunnewswiki.com dengan judul : 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Iwa Koesoemasoemantri
ARTIKEL POPULER:
Baca: Profil Prof. Dr. Ir. Herman Johannes - Pahlawan Nasional
Baca: Profil Maskoen Soemadiredja - Pahlawan Nasional di Bidang Politik
Baca: Profil Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono - Pahlawan Nasional
TONTON JUGA:
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
LIVE UPDATE
Menuju Gelar Pahlawan Nasional 2026, Nama H AS Hanandjoeddin Kembali Diperjuangkan TP2GD Belitung
Selasa, 27 Januari 2026
Local Experience
Oto Iskandar Di Nata, Pahlawan Nasional asal Bandung, Dijuluki Si Jalak Harupat Simbol Keberanian
Rabu, 3 Desember 2025
Terkini Nasional
Momen Hangat Keluarga Cendana Gelar Syukuran atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Soeharto
Senin, 17 November 2025
Terkini Nasional
Siap Diperiksa Polisi, Ribka Tjiptaning Siap Buktikan Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan Nasional
Senin, 17 November 2025
Tribunnews Update
Ribka Tjiptaning PDIP Siap Diperiksa Polisi, Buktikan Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan Nasional
Minggu, 16 November 2025
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.