Tribunnews WIKI
Profil Abdul Kadir - Pahlawan Nasional Asal Kalimantan
TRIBUN-VIDEO.COM - Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan lahir pada tahun 1771 di Sintang, Kalimantan Barat.
Abdul Kadir terlahir dari keluarga bangsawan kerajaan Sintang dari pasangan Oerip dan Siti Safriyah.
Pada tahun 1845, Abdul Kadir ditunjuk sebagai pemimpin wilayah Melawai dalam kekuasaan Kerajaan Sintang menggantikan sang ayah yang meninggal dunia.
Usia Abdul Kadir saat dinobatkan sebagai Raja Melawai telah menginjak 74 tahun.
Nama Abdul Kadir setelah penobatan berubah menjadi Abdul Kadir Raden Tumenggung.
Pada Biografi abdul Kadir dijelaskan, posisinya sebagai Raja Melawai sangat membuatnya berada pada posisi dilematis.
Satu sisi Ia harus tunduk kepada pemerintahan Raja Sintang yang telah tunduk kepada penjajah Belanda, namun di relung batinnya sangat menolak untuk bekerjasama dengan Belanda.
Masa Muda
Abdul Kadir merupakan putra sulung Oerip dari perkawinan dengan Siti Syarifah.
Sejak remaja Abdul Kadir sudah ditandai sebagai abdi kerajaan Sintang.
Abdul Kadir telah berkali-kali mendapat tugas untuk mengamankan kerajaan dari gangguan pengacau, perampok, maupun tugas mendamaikan suku-suku Dayak yang sedang bermusuhan.
Pada tahun 1845 Abdul Kadir diangkat sebagai Menteri Hulubalang Kerajaan Sintang dan menggantikan ayahnya yang wafat.
Pada saat itu Abdul Kadir mendapat gelar Raden Tumenggung.
Perjuangan
Dalam kedudukannya sebagai Kepala Pemerintahan Melawi dan Hulubalang Kerajaan Sintang, ditemukan bukti-bukti hubungan Raden Tumenggung Setia Pahlawan dengan para pimpinan perlawanan rakyat di Sintang.
Ketaatan dan penghormatan rakyat Melawi yang besar terhadap Abdul Kadir Gelar Raden Tumenggung Setia sangat mengkhawatirkan Pemerintah Belanda karena dianggap membahayakan posisi Belanda dalam upaya menanamkan kekuasaannya di Melawi.
Oleh karena itu pihak Belanda berusaha menguasai Raden Tumenggung dengan cara memberikan “Tanda Jasa / Penghargaan“ berupa uang pada saat situasi sulit.
Pada tanggal 27 Maret 1866 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menetapkan pemberian tanda jasa berupa uang.
Namun ternyata penghargaan tersebut tidak berhasil merubah sikap anti Belanda pada dirinya. Perlawanan rakyat masih terus berlangsung.
Pada tahun 1866 Panembahan Sintang mengukuhkan gelar kepada Abdul Kadir menjadi Raden Tumenggung Setia Pahlawan dengan Melawi sebagai wilayah pemerintahan dan Nanga Pinoh sebagai ibukotanya.
Pada tahun 1868 pihak Raden Tumenggung melibatkan diri dalam persiapan perang.
Pada tahun 1869, Raden Tumenggung Setia Pahlawan menyelenggarakan pertemuan di Kerueng dengan para pimpinan perlawanan Kawasan Melawi dan keputusan yang dihasilkan dari pertemuan itu antara lain :
- Perlawanan berkelanjutan akan dilaksanakan dengan kegiatan pertempuran yang berkesinambungan pada setiap ada peluang di setiap waktu pada setiap tempat.
- Merekrut rakyat untuk dilatih dan diikutsertakan dalam perlawanan.
- Membangun sistim perlawanan yang dapat digerakan sesuai dengan situasi.
Pada tahun 1871 Laskar perlawanan menyerang konsentrasi pasukan Belanda di Selik (Wilayah Batu Butong) tempat persediaan persenjataan, amunisi dan perbekalan pasukan Belanda dihancurkan, serta sejumlah serdadu dibinasakan.
Pada tahun 1871 sampai 1873, untuk mencairkan suasana yang agak membeku dari kegiatan konfrontasi, agar perang tetap marak, maka Laskar Perlawanan melancarkan serangan melalui aksi-aksi terbatas di sekitar / di luar benteng-benteng Belanda, sambil melaksanakan sabotase, penghadangan atau serangan hit and run terus menerus di berbagai tempat dan kesempatan.
Pada tahun 1875, pasukan Belanda menyerang ke Pusat Perlawanan di Natai Mangguk Liang, dalam serangan ini Belanda menangkap Raden Tumenggung Setia Pahlawan dan merampas barang-barang berharga.
Sistem perlawanan yang dikembangkan oleh Raden Tumenggung Setia Pahlawan telah menjadi model perlawanan rakyat terhadap Belanda di Shitang hingga tahun 1913.
Pada tahun 1875 Raden Tumenggung Setia Pahlawan wafat sebagai tahanan Belanda di Benteng Saka Dua, dan jenazahnya dimakamkan di Tajong Sukadua-Nanga Pinoh Kalimantan Barat.
Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara Pemerintah RI menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden No. 114/TK/1999 tanggal 13 Oktober 1999.
Karier
Berikut karier yang pernah diraih oleh Abdul Kadir:
- Pada tahun 1845, Abdul Kadir menggantikan ayahnya menjadi Raja Melawi, bergelar Raden Tumenggung
- Pada tahun 1868-1875 Abdul Kadir Memimpin rakyat Melawi untuk melawan Belanda
Penghargaan
Berikut penghargaan yang pernah diraih oleh Abdul Kadir:
- 1886: Gelar Setia Pahlawan dari pemerintah Belanda
- 1999: Gelar Pahlawan Nasional RI dengan SK Presiden Republik Indonesia No 114/TK/Tahun 1999.
(Tribunnewswiki/Wiene)
ARTIKEL POPULER:
Baca: Pangeran Antasari - Pahlawan Nasional
Baca: Profil Nyi Ageng Serang - Pahlawan Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Baca: Profil Raden Dewi Sartika - Pendiri Sekolah Isteri dan Pahlawan Nasional
TONTON JUGA:
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
Local Experience
Pangeran Diponegoro Dianugerahi Gelar Pahlawan dan Dikenang sebagai Simbol Perlawanan Bangsa
Jumat, 10 April 2026
LIVE UPDATE
Menuju Gelar Pahlawan Nasional 2026, Nama H AS Hanandjoeddin Kembali Diperjuangkan TP2GD Belitung
Selasa, 27 Januari 2026
Local Experience
Oto Iskandar Di Nata, Pahlawan Nasional asal Bandung, Dijuluki Si Jalak Harupat Simbol Keberanian
Rabu, 3 Desember 2025
Terkini Nasional
Momen Hangat Keluarga Cendana Gelar Syukuran atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Soeharto
Senin, 17 November 2025
Terkini Nasional
Siap Diperiksa Polisi, Ribka Tjiptaning Siap Buktikan Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan Nasional
Senin, 17 November 2025
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.