Tribunnews WIKI

Profil Adnan Kapau Gani - Pahlawan Nasional

Kamis, 1 Agustus 2019 16:54 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COMAdnan Kapau Gani atau sering disingkat AK Gani merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

AK Gani dikenal sebagai politikus yang cerdas dan andal semasa hidupnya.

AK Gani juga termasuk saksi hidup sekaligus bagian dari segelintir kecil para pelaku sejarah yang merasakan langsung pahit getir duia politik Indonesia sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Karena jasa-jasanya, AK Gani dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 068/TK/Tahun 2007 pada 6 November 2007.

Kehidupan Pribadi

AK Gani lahir di Sumatera Barat pada 16 September 1905.

Ayahnya adalah seorang guru, sehingga sangat memerhatikan pendidikan AK Gani.

AK Gani menikah dengan seorang perempuan bernama Masturah.

AK Gani menghembuskan napas terakhir pada 23 Desember 1968 dan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Bugit Siguntang, Palembang.

Ia meninggalkan seorang istri tanpa anak.

Riwayat Pendidikan

Memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai guru, membuat pendidikan AK Gani sangat diperhatikan.

AK Gani menempuh pendidikan formal pertamanya di Europeesche Lagere School (ELS) sekolah setingkat SD di Bukittinggi.

AK Gani kemudian pindah ke Palembang mengikuti kepindahan ayahnya yang berprofesi sebagai guru.

Tamat dari ELS, AK Gani melanjutkan pendidikan di School Tot Opleiding Voor Inlandsche (STOVIA) sekolah dokter pribumi di Jakarta.

Karena sekolah tersebut ditutup pemerintah, maka AK Gani pindah ke Algemeene Middelbare School (AMS).

Lulus dari AMS, AK Gani kemudin kuliah di Geneeskundige Hoge School (GHS) yaitu Sekolah Tinggi Kedokteran.

Kuliah di GHS diselesaikan pada tahun 1940 dengan memperoleh gelar dokter, sesudah itu AK Gani membuka praktik sebagai dokter di Palembang.

Riwayat Karier

Sejak masih sekolah di Jakarta, AK Gani dikenal aktif di berbagai organisasi dan politik.

AK Gani banyak menghabiskan masa mudanya dengan mengikuti kegiatan sosial seperti perkumpulan Jong Java dan Jong Sumatera.

Sosok AK Gani juga dikenal sebagai seorang pengusaha ulung dengan beraneka ragam barang dagangan mulai dari buku bekas hingga rumah kost.

AK Gani turut membantu terselenggaranya Kongres Pemuda pada Oktober 1928.

Sesudah itu AK Gani diangkat sebagai anggota komisi yang bertugas melakukan fungsi berbagai organisasi pemuda yang akhirnya melahirkan Indonesia Muda pada awal tahun 1930.

Di Indonesia Muda, AK Gani diangkat sebagai anggota Dewan Eksekutif.

Kegiatan dalam dunia politik dimulai AK Gani sebagai anggota Partai Indonesia (Partindo).

Pada Mei 1937, setelah Partindo bubar, dengan beberapa temannya AK Gani mendirikan partai baru yakni Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang langsung diketuainya.

Pada 1939, AK Gani ikut mensponsori lahirnya Gabungan Politik Indonesia (Gapi) yang merupakan federasi partai-partai politik dan terkenal dengan aksi ”Indonesia Berparlemen”.

Dalam kepengurusan Gapi, AK Gani duduk sebagai wakil Gerindo.

Pada masa pendudukan Jepang, AK Gani sempat dipenjara selama satu tahun akibat sikap politiknya yang menentang fasisme.

Ia dibebaskan berkat campur tangan Ir Soekarno.

Jepang kemudian mengangkatnya menjadi anggota Sumatra Chuo Sangi In (semacam dewan perwakilan) yang didirikan pada Maret 1945.

Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dengan cepat diketahui di Palembang.

Setelah berakhirnya masa penjajahan Jepang, AK Gani juga ikut serta di beberapa organisasi dan lembaga yang mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia.

Gani memiliki peran sebagai Ketua Badan Kebaktian Rakyat Palembang dan Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Daerah Palembang.

AK Gani menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih dan membacakan teks proklamasi di Palembang.

Setelah masa proklamasi, AK Gani diberi mandat menjadi kepala pemerintahan Indonesia untuk keresidenan Palembang Sumatera Barat, dan dirinya berhasil menyusun badan-badan pemerintahan RI di seluruh Sumatra Selatan dalam waktu singkat pada 23 Agustus 1945.

Pada kegiatan politik, selain aktif pada kegiatan Partindo, AK Gani juga yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) di Palembang.

AK Gani terpilih menjadi ketua umum PNI pada tahun 1947.

Akan tetapi, Gani memiliki kendala untuk tidak bisa meninggalkan Palembang untuk memimpin PNI di Yogyakarta, sehingga Gani akhirnya hanya menjadi ketua PNI Sumatra Selatan.

Selain itu, pemerintah pusat mengangkat AK Gani sebagai koordinator pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatra.

Dalam jabatan tersebut, ia membentuk Komandemen Sumatra dan mengangkat Suharjo Harjowardoyo sebagai panglima dengan pangkat mayor jenderal.

Dalam penyempurnaan organisasi TKR yang kemudian menjadi TRI dan akhirnya TNI, AK Gani pernah pula menduduki jabatan sebagai Komandan Sub-Komandemen Sumatra Selatan.

Pada waktu Provinsi Sumatra dipecah menjadi tiga subprovinsi, ia pun diangkat sebagai Gubernur Muda Sub-Provinsi Sumatra Selatan.

Selain memegang berbagai kepemimpinan di Sumatra Selatan pada masa-masa awal revolusi, AK Gani juga aktif mengadakan perdagangan barter (yang oleh Belanda disebut penyeludupan) dengan luar negeri, terutama dengan Singapura dan Malaysia.

Dari hasil barter itu, AK Gani berhasil memasukkan berbagai keperluan pemerintah, terutama senjata.

Dalam melakukan barter ini ia bekerja sama dengan beberapa orang pedagang Tionghoa.

Kiprah AK Gani dalam pemerintahan pusat dimulai sebagai Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III (Oktober 1946 – Juni 1947).

Atas prakarsanya, pada Januari 1947 dibentuk Planning Board (Dewan Perancang) yang bertugas menyusun rencana pembangunan ekonomi.

Planning Board yang langsung dipimpinnya ini kemudian dikembangkan menjadi Panitia Pemikir Siasat Ekonomi di bawah pimpinan Wakil Presiden Hatta, sedangkan AK Gani diangkat sebagai Wakil Ketua.

Jabatan sebagai Menteri Kemakmuran tetap dipegang AK Gani dalam Kabinet Amir Syarifuddin, di samping jabatanya sebagai Wakil Perdana Menteri.

Selain itu, AK Gani juga berperan aktif dalam perundingan dengan Belanda yang akhirnya melahirkan Perjanjian Linggajati.

Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua, Gani memimpin perjuangan gerilya sebagai Gubernur Militer Daerah Istimewa Sumatra Selatan (DMISS).

Ia merupakan satu-satunya gubernur militer di Sumatra yang banyak berkomunikasi dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berpusat di Sumatra Barat.

Sebagai penghargaan atas jasanya memimpin perjuangan gerilya ini, pada Februari 1950 Dewan Perwakilan Rakyat Sumatra Selatan menganugerahinya gelar Pemimpin Agung Gerilya disertai sebuah medali emas.

Medali yang merupakan kebanggaannya ini kemudian dijualnya untuk membantu menyekolahkan anak-anak mantan pejuang.

Keikutsertaan terakhir AK Gani di bidang pemerintahan ialah sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Ali Sastromijoyo I.

Sesudah itu ia diangkat menjadi anggota Kontituante sebagai wakil PNI, dan akhirnya menjadi anggota MPRS.

Selain itu, AK Gani juga memegang berbagai jabatan di Sumatra Selatan sambil membuka praktik sebagai dokter.

AK Gani meninggal dunia di Palembang pada tanggal 23 Desember 1968 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ksatria, Bukit Siguntang, Palembang.

Penghargaan tertinggi yang diterimanya dari pemerintah ialah Bintang Mahaputra Adipradana pada tanggal 7 Agustus 1995.

Penghargaan lain ialah Bintang Gerilya (17 Agustus 1958), Lencana Gerakan Operasi Militer I dan II.

Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama rumah sakit Kasdam II/Sriwijaya, yaitu RS Dokter AK Gani.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

ARTIKEL POPULER:

Profil Halim Perdanakusuma - Pahlawan Nasional

Profil Sayuti Melik - Pahlawan Nasional

Pangeran Antasari - Pahlawan Nasional

TONTON JUGA:

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
Tags
   #Adnan Kapau Gani   #RS AK Gani
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved