Ruang Perpustakaan SMPN 7 Kotabaru Jadi Ruang Kelas, Dinding Tripleks Jadi Sekat

Rabu, 31 Juli 2019 18:46 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM - Keterbatasan ruang kelas yang terjadi di SMPN 7 Kotabaru memaksa guru-guru di sekolah setempat untuk memanfaatkan ruang perpustakaan menjadi tempat pembelajaran berlangsung.

Tidak itu saja, teras ruang belajar di SMPN setempat juga disulap menjadi sebuah musala.

Ruangan perpustakaan ini telah lama dijadikan ruang kelas lantaran di Sekolah yang berada di Desa Hilir Muara Kecamatan Pulau Laut Utara Kabupaten Kotabaru memang telah sejak lama kekurangan ruangan belajar.

Perpustakaan yang dijadikan ruang kelas itu kini ditempati oleh siswa kelas VIII dan IX.

Kedua kelas itu, hanya disekat papan triplek setinggi 2 meter yang tentu saja membuat siswa tidak fokus selama pembelajaran berlangsung.

Bangunan sekolah ini memang masih terbilang baru karena baru dibangun sejak 2017 lalu pindahan dari sekolah Satu Atap dengan SD Hilir. Dimana SMPN ini merupakan relokasi yang sudah berdiri sejak 2009 lalu di sekolah asal.

Kini, sekolah ini memiliki 86 siswa. Terdiri dari kelas VII sebanyak 38 siswa, kelas VIII sebanyak 26 siswa dan kelas IX sebanyak 22 siswa.

Dengan jumlah siswa tersebut, siswa di sekolah ini juga tidak leluasa melaksanakan upacara bendera setiap senin karena sekolah ini tidak memiliki halaman. Mereka memanfaatkan jalan sempit di depan ruang kelas dan berdiri 1 tiang bendera dari tiang bambu kering.

Menurut siswa di sekolah ini, mereka sering kebisingan saat belajar. Apalagi bila satu ruangan ribut, suaranya pasti terdengar dan tidak fokus belajar lantaran bising.

Begitu juga dengan guru yang mengajar di ruangan itu.

"Mengajarnya sering tidak fokus karena bising. Begitu juga anak-anak, tidak bisa konsentrasi. Kurang kondusif, satu ruangan dibagi dua, dengn sekat seadanya. Kalau dua guru mengajar masing-masing kelas pasti berisik ngajarnya. Tidak bisa maksimal, " kata Norhana, satu di antara guru di SMPN 7 Kotabaru.

Sementara itu, Kepala SMPN 7 Kotabaru Nor Anisah, mengatakan begitulah kondisi sekolahnya yang masih serba kekurangan.

Ruang kelas terpaksa dibagi agar aktivitas belajar tetap berjalan dengan lancar.

Begitu juga musolla yang menggunakan teras depan ruangan kelas VII dan saat belajar bimtek keagamaan juga menggunakan teras depan kantor.

"Begitulah kondisi sekolah kami. Masih banyak kekurangan dan kami juga baru dapat bantuan komputer sekitar 22 unit. Cuma bingung karena belum ada ruangan untuk ruang lab komputer, " katanya.

Harapan mereka, agar segera mendapat bantuan ruangan dan yang penting sepertinya memang ruang komputer. Sebab saat ini belajarnya masih sulit dan hanya menggunakan laptop guru untuk belajar TI.

"Ini harapan kami agar dapat bangunan baru tahun ini atau tahun depan. Sehingga aktivitas belajar bisa semakin lancar, " katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kotabaru, Selamet Riyadi, saat ditemui mengatakan saat ini sudah mengetahui kondisi tersebut.

Dia menegaskan bukannya tidak perhatian melainkan sangat memperhatikan, hanya saja anggarandaerah terbatas.

"Kami sangat memperhatikan, tapi tidak serta merta membangunkan. Apalagi saat ini kita belum melakukan penyusunan anggaran 2020, ini masih pembahasan. SMPN 7 terus diperhatikan dan kami berkomitmen, apalagi sekolah yang ada dilingkungan perkotaan, " katanya.

Dia tidak bisa memastikan apakah dapat bantuan atau tidak, namun dia akan mengusahakan untuk membantu ruangan lagi dan halamannya.

Menurutnya, dua hal itu yang penting saat ini diperhatikan dan sekolah itu juga rutin mendapatkan bantuan hingga saat ini.

"Itu adalah sekolah relokasi, kalau kami sudah relokasi, tidak mungkin kami diam saja. Artinya dengan relokasi itu kami sudah memikirkan untuk pengembangan, hanya saja harus bertahap menyesuaikan anggaran. Komitmen kami pasti akan bantu, " katanya. (Banjarmasinpost.co.id/man hidayat)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Banjarmasin Post
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved