Kamis, 30 April 2026

Tribunnews WIKI

Bintang - Jadi Pedoman Bagi Nelayan dan Petani

Kamis, 11 Juli 2019 22:47 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Konstelasi dan rasi bintang dapat dilihat lebih jelas pada malam hari, terutama jika berada jauh dari polusi cahaya perkotaan.

Dalam keadaan demikan, galaksi Bima Sakti atau Milky Way dapat terlihat seperti jalur putih menyerupai awan yang membentang kira-kira dari utara ke selatan.

Selain galaksi Bima Sakti, dapat pula terlihat bintang bertebaran.

Pada zaman dahulu bintang digunakan sebagai pedoman arah terutama saat berada di laut.

Bintang juga dijadikan pedoman bagi petani untuk menentukan waktu untuk bercocok tanam.

Catatan tentang konstelasi pada zaman Yunani kuno bisa ditemukan pada karya sastrawan Homerus dan karya Aratus.

Orang Babilonia dan Yunani mengamati adanya konstelasi atau rasi di langit yang kemudian dinamakan zodiak.

Zodiak membagi daerah ekliptika menjadi 12 karena planet dan Matahari berada dalam satu zodiak selama satu bulan, dan satu tahun kemudian planet dan Matahari kembali seperti kedudukan satu tahun sebelumnya.

Bintang

Terdapat dua jenis bintang, yaitu bintang semu dan bintang nyata.

Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain.

Sedangkan bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri.

Secara umum bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri atau bintang nyata.

Menurut ilmu astronomi, bintang adalah semua benda masif, bermassa antara 0,08 hingga 200 massa Matahari yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.

Bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang.

Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari, berjarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus yang berjarak sekitar empat tahun cahaya.

Pada abad ke dua Masehi, Ptolomeus membuat katalog sekitar 1022 buah bintang yang terdapat dalam 48 konstelasi yang diamati di Alexandria.

Karya Ptolomeus terus menjadi rujukan utama hingga sekitar abad ke enam belas, ketika pelaut Eropa mulai berkelana di belahan bumi selatan.

Akhirnya pada 1603 Johann Bayer membuat atlas bintang dengan memasukkan konstelasi baru yang bisa teramati di langit selatan.

Sistem penamaan bintang dalam katalog Bayer masih dipakai sampai sekarang, di mana bintang dalam satu konstelasi diurutkan dari yang paling terang dan pengurutannya mengikuti huruf Yunani, diikuti dengan bentuk genitif bahasa Latin dari nama konstelasi tersebut.

Contohnya, bintang yang paling terang dari rasi Centaurus adalah Alpha Centauri, dan bintang dalam rasi Gemini yang tingkat cahayanya paling terang nomor empat adalah Delta Geminorum.

Pemetaan bintang terus berlanjut , hingga pada 1687 astronom Jerman, Johannes Hevelius membuat sebuah atlas bintang yang dilengkapi dengan beberapa konstelasi yang dapat diamati di belahan bumi utara.

Akhirnya, pada 1930 International Astronomical Union secara resmi menetapkan konstelasi-konstelasi yang terdapat di langit sejumlah 88 buah, di mana satu daerah langit hanya ditempati satu konstelasi atau tidak ada satu konstelasi yang bertumpang tindih dengan konstelasi lainnya.

Bintang bintang tidak memiliki kaitan fisik satu sama lain karena jaraknya yang jauh, meskipun jika dilihat dari bumi terdapat dua bintang tampak berdekatan, sebenarnya bintang tersebut saling berjauhan.

Untuk mencari posisi bintang, astronom lebih banyak menggunakan katalog bintang daripada konstelasi.

Beberapa katalog bintang yang sering dipakai astronom di antarantya ‘Henry-Draper Catalogue’, ‘Smithsonian Astrophysical Observatory’, ‘Bonner-Durchmusterung Catalogue’, ‘Astrographic Catalogue’, dan ‘United States Naval Observatory (USNO)’.

Jarak Bintang

Untuk mengukur jarak bintang, astronom membuat satuan jarak tahun cahaya yaitu jarak yang ditempuh cahaya selama satu tahun.

Cahaya yang merambat dalam ruang hampa memiliki kecepatan 300 ribu kilometer per detik atau sekitar 9,46 Triliun kilometer.

Karena jarak yang sedemikian jauh, astronom sering mengalami kesulitan dalam menentukan jarak bintang.

Astronom tidak dapat menggunakan metode yang dipakai dalam mengukur jarak anggota Tata Surya seperti radar dan pemakaian hukum Kepler.

Sebagai contoh, jika kita memegang sebatang pensil lalu dilihat bergantian menggunakan mata kiri dan mata kanan, pensil yang kita pegang bergerak relatif terhadap benda benda yang berada di belakang pensil.

Hal tersebut merupakan peristiwa yang dinamakan paralaks, yaitu jarak benda yang lebih jauh dilihat dengan cara mengukur sudut pergeseran benda yang lebih jauh relatif seperti pensil yang dipegang.

Prinsip tersebut kemudian dipakai dalam menentukan jarak bintang dari matahari dengan memanfaatkan pergerakan bumi mengelilingi matahari, yang dinamakan paralaks trigonometri.

Misalnya pada suatu saat dalam revolusinya, bumi berada pada kedudukan 1 dan melihat bintang A tampak seolah olah terletak pada posisi B1.

Setengah tahun kemudian, bila bumi berada pada kedudukan 2, bintang A yang sama akan tampak pada kedudukan B2.

Sudut pergeseran posisi bintang A adalah sebesar 2 alfa, dan tangen sudut alfa adalah jarak bumi matahari dibagi jarak bintang yang bersangkutan.

Klasifikasi Bintang

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam tujuh kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi kimia bintang.

Klasifikasi tersebut diberi nama Klasifikasi Harvard, dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada 1920.

Untuk mengingat urutan penggolongan tersebut dapat digunakan frasa ‘Oh Be A Fine Girl, Kiss Me’.

Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik, bintang digolongkan menjadi 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh bilangan 0 hingga sembilan yang mengikuti huruf.

Misalnya bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.

Pada 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya.

Pengklasifikasian tersebut dinamakan Sistem Klasifikasi Yerkes yang membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :

  1. Maha Maharaksasa
  2. I Maharaksasa
  3. II Raksasa-Raksasa Terang
  4. III Raksasa
  5. IV Sub-Raksasa
  6. V Deret Utama (Katai)
  7. VI Sub-Katai
  8. VII Katai Putih

Dengan klasifikasi tersebut, Matahari termasuk sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang.

Terbentuknya Bintang

Bintang terbentuk di dalam awan molekul, yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi.

Awan tersebut terdiri dari Hidrogen, 23–28% Helium dan beberapa persen elemen berat.

Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali matahari.

Ketidakstabilan dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antargalaksi.

Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri tetapi berasal dari runtuhan awan molekul besar yang terpecah menjadi konglomerasi individual.

Ketika mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan molekul mulai runtuh karena gaya gravitasinya sendiri.

Ketika awan molekul runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas padat atau Globula Bok yang bermassa hingga 50 kali Matahari.

Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan, sehingga energi gravitasi diubah menjadi energi panas dan dapat meningkatkan temperatur.

Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta Kelvin, Hidrogen di inti terbakar menjadi Helium dalam suatu reaksi termonuklir.

Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti.

Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini terjadi hingga puluhan juta tahun sebelum protobintang memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama.

Menjelang kematiannya, sebuah bintang dapat meledak.

Ledakan bintang disebut nova, yang berarti ‘baru’, sedangkan ledakan bintang yang besar disebut supernova.

Setelah meledak, materi bintang yang tersisa akan mengerut dan memadat serta gravitasinya menguat sehingga cahaya juga tertarik, kemudian membentuk black hole atau lubang hitam.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bintang

ARTIKEL POPULER:

Cerita Anak Korban Tabrak Lari di Overpass Manahan, Sebelumnya Antar Cari Bus di Terminal Tirtonadi

Video Seorang Ibu Tertabrak Mobil di Overpass Manahan, Pelaku Melarikan Diri

Video Detik-detik Mobil Tabrak Motor di Overpass Manahan, Korbannya Seorang Ibu Tewas di Tempat

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki

Tags
   #Tribunnews WIKI   #bintang

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved