Tribunnews WIKI
Tribunnews WIKI - Suku Tengger
TRIBUN-VIDEO.COM - Suku Tengger adalah suku yang penduduknya bertempat tinggal dan memiliki tradisi yang berkaitan erat dengan Gunung Bromo.
Suku ini memiliki bahasa, kepercayaan dan kebudayaan yang terbilang unik.
Masyarakat tengger yang bermukim di sekitar gunung Bromo terkenal dengan upacara yadnya kasada.
Keunikan lain dari suku ini adalah mempunyai penanggalan sendiri selain penanggalan Masehi.
Ada beberapa pendapat mengenai asal-usul nama Tengger.
Ada yang berpendapat bahwa Tengger mempunyai arti 'pegunungan yang menjadi tempat tinggal mereka'.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata Tengger berasal dari kata tenggering budi luhur yang mempunyai arti berbudi pekerti luhur.
Sejarah
Suku ini merupakan keturunan dari penduduk Kerajaan Majapahit.
Pada abad ke-16, Kerajaan Majapahit mendapat serangan dari Kerajaan Islam yang dipimpin oleh Raden Patah.
Karena kekalahan Majapahit, para penduduk lalu mengungsi ke Pulau Bali dan sebagian ada yang mengungsi ke kawasan pegunungan di Jawa Timur.
Para pengungsi yang mengungsi ke pegunungan Jawa timur ini mulai menutup diri dari dunia luar.
Orang-orang yang mengungsi inilah yang nantinya menjadi cikal bakal Suku Tengger.
Leluhur mereka adalah Roro Anteng anak dari Raja Majapahit dan Joko Seger anak dari seorang Brahmana.
Roro Anteng dan Joko Seger menikah dan mereka juga ikut mengungsi di daerah pegunungan Jawa Timur.
Dalam pengungsian itu, Roro Anteng dan Joko Seger menjadi pemimpin.
Keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger inilah yang nantinya akan menjadi Suku Tengger yang tinggal di sekitar Gunung Bromo.
Kehidupan masyarakat suku ini sangat tertutup, mereka tidak tersentuh oleh dunia luar selama bertahun-tahun.
Walaupun tidak mengenal dunia luar, suku ini tetap memiliki keunikan dan tradisi seperti halnya dengan suku lain di Indonesia.
Keunikan Suku Tengger
Seperti halnya suku-suku di Indonesia, Suku Tengger juga memiliki tradisi unik yang menjadi ciri khas.
Berikut beberapa tradisi unik Suku Tengger:
Upacara Yadnya Kasada
Upacara ini selalu dinanti-nanti oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Upacara yadnya kasada atau yang sering disebut dengan upacara kasodo hanya dilakukan oleh masyarakat Tengger yang beragama Hindu.
Upacara ini diadakan setiap tanggal 14 bulan kasada atau bulan kesepuluh.
Dalam upacara kasada, masyarakat Tengger memberikan seserahan berupa hewan ternak dan hasil panen seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
Seserahan tersebut lalu dilarung ke kawah Gunung Bromo dengan tujuan meminta keselamatan dan berkah.
Ojung, Ritual Memanggil Hujan
Ojung adalah kesenian Suku Tengger yang hampir mirip dengan orang berkelahi satu lawan satu.
Senjata yang digunakan oleh para peserta adalah rotan.
Peserta yang paling banyak mencambuk berarti menjadi pemenang.
Ojung bukan hanya sekadar kesenian, melainkan juga ritual untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa saat musim kemarau tiba.
Sebelum Ojung dimulai, biasanya ada pagelaran Tari Topeng Kuna dan Tari Rontek Singo Wulung terlebi dahulu.
Tarian ini mengisahkan tentang seorang pahlawan bernama Ju Seng.
Dikisahkan, Ju Seng adalah seorang demang yang sangat gigih dalam mengusir penjajah.
Untuk membiayai perjuangan dalam pengusiran penjajah, Ju Seng sering mengadakan pertunjukan kedua tarian itu.
Setelah pagelaran tarian tersebut selesai dilanjutkan dengan pertandingan antara dua laki-laki.
Pertandingan tersebut diikuti oleh laki-laki berusia 17 sampai 50 tahun.
Karo, Hari Raya Masyarakat Tengger
Bagi suku ini, Karo adalah hari raya terbesar yang paling dinanti-nanti.
Hari Raya Karo biasanya diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi.
Acara Karo meliputi pawai hasil bumi dan kesenian adat seperti pagelaran Tari Sodoran.
Kemudian dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke rumah tetangga dan sanak saudara.
Ritual di Hari Raya Karo dipimpin oleh seorang ratu.
Ratu di sini mempunyai arti seseorang yang memimpin doa.
Uniknya, ratu di sini adalah seorang laki-laki.
Masyarakat Tengger ada yang menyebut ratu dengan sebutan dukun.
Unsur-unsur Kebudayaan Suku Tengger
Berbeda dengan peradaban suku Jawa yang sudah dimasuki oleh ajaran Islam, suku ini masih tetap meyakini kepercayaan leluhurnya dari Kerajaan Majapahit.
Para leluhur Suku Tengger mengungsi dan terisolasi di Pegunungan Tengger.
Kondisi mereka yang tidak tersentuh oleh peradaban luar selama bertahun-tahun itulah yang kemudian berdampak pada kondisi sosial Suku Tengger. (2)
Selain itu bahasa yang mereka gunakan juga berbeda dengan suku Jawa. Suku Tengger menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan dialek Kawi.
Untuk lebih mengetahui tentang suku ini, berikut adalah beberapa unsur kebudayaan Tengger:
Bahasa
Masyarakat Tengger menggunakan bahasa Jawi kuno.
Bahasa tersebut diyakini sebagai dialek pada masa Kerajaan Majapahit.
Bahasa yang digunakan sebagai mantra ditulis dengan huruf Jawa Kawi.
Teknologi
Teknologi Suku Tengger sudah mengalami perkembangan.
Hal tersebut tak lepas dari peran para wisatawan domestik yang mengenalkan beberapa jenis teknologi kepada msyarakat Tengger.
Religi
Sebagian besar masyarakat Tengger memeluk agama Hindu.
Tetapi agama Hindu masyarakat Tengger berbeda dengan agama Hindu di Bali.
Masyarakat Bali memeluk agama Hindu Dharma sedangkan masyarakat Tengger memeluk agama Hindu Mahayana.
Mata Pencaharian
Saat ini sebagian besar masyarakat Tengger bertahan hidup dengan bertani di ladang.
Hasil dari pertaniannya adalah kubis, wortel, kentang, tembakau dan jagung.
Selain menjadi petani, masyarakat Tengger juga ada yang menjadi pemandu wisata Gunung Bromo.
Pengetahuan
Seiring perkembangan zaman yang begitu pesat, di daerah tempat tinggal Suku ini sudah dibangun – bangun sekolah.
Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Tetapi ada juga sebagian orang yang masih percaya dengan mantra-mantra. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Suku Tengger
ARTIKEL POPULER:
VIRAL OF THE DAY: Netizen Berduka atas Meninggalnya Sutopo Purwo, #RIPSutopo Jadi Tending Topic
VIRAL OF THE DAY - Foto Viral Biawak Raksasa Panjat Pagar Rumah
Viral Merpati Jayabaya Seharga Rp 1 Miliar
TONTON JUGA:
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: Tribunnews.com
Local Experience
Nama Tengger dari Roro Anteng dan Joko Seger, Leluhur Suku Tengger yang Diyakini Keturunan Majapahit
Rabu, 1 April 2026
Local Experience
Yadnya Kasada, Ritual Tahunan Suku Tengger, Melarung Sesaji ke Kawah Bromo sebagai Persembahan Suci
Rabu, 1 April 2026
Local Experience
Ada Suku Tengger di Sekitar Bromo Semeru Diyakini Keturunan Majapahit dan Menjaga Tradisi Leluhur
Rabu, 1 April 2026
Local Experience
Nama Tengger dari Roro Anteng dan Joko Seger, Leluhur Suku Tengger yang Diyakini Keturunan Majapahit
Rabu, 1 April 2026
Local Experience
Lautan Pasir Tengger atau Pasir Berbisik jadi Ikon TNBTS dan Daya Tarik Utama Wisata Gunung Bromo
Rabu, 1 April 2026
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.