Jumat, 4 April 2025

Nasional

DERITA MANTAN Karyawan Hibisc seusai Tak Dapat Kompensasi: H-3 Mau Lebaran, Tak Punya Apa-apa

Jumat, 28 Maret 2025 17:05 WIB
Kompas.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.

TRIBUN-VIDEO.COM - Suasana tegang sempat terjadi saat puluhan mantan pegawai Hibisc Fantasy mendatangi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Kamis (27/3/2025).

Mereka menagih janji kompensasi atas pembongkaran tempat mereka bekerja, yang sebelumnya telah disampaikan Dedi Mulyadi.

Namun, bukannya mendapatkan kepastian, mereka justru mendapat respons tak terduga dari sang gubernur.

Baca: Murka Gubernur Dedi Mulyadi Semprot Belasan Karyawan Hibisc Fantasy Bogor saat Tagih Janji Gaji

Ketika itu, Dedi Mulyadi baru saja meninjau lokasi bekas bangunan Hibisc yang kini telah rata dengan tanah di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Saat hendak meninggalkan tempat tersebut, dua perwakilan eks pegawai, Sabila dan Septian, menghampiri mobilnya untuk menanyakan kompensasi yang dijanjikan. Namun, emosi Dedi tiba-tiba tersulut.

"Dengerin dulu, bukan urusan videonya (janji kompensasi). Saya membantu kompensasi Anda yang nganggur di sini, tetapi saya minta tanggung jawab moral Anda, bantu nanam pohon di sini," kata Dedi dengan nada tinggi, sambil menunjuk ke arah mereka.

Sabila dan Septian hanya terdiam, merasa kecewa karena keinginan mereka untuk mendapat kepastian justru berujung pada permintaan lain yang tak pernah disampaikan sebelumnya.

Baca: Kelakar Dedi Mulyadi Enaknya Jadi Gubernur Berstatus Duda: Pulang Jam Berapa Pun Tak Ada yang Nunggu

Septian mengungkapkan bahwa sebanyak 207 pekerja kehilangan mata pencaharian akibat pembongkaran tersebut.

Mereka datang bukan untuk menuntut lebih, melainkan hanya ingin kepastian atas janji yang telah diberikan sebelumnya.

"Hari ini kami ke sini untuk menagih janji itu, tetapi (dibalas) argumennya malah penanaman pohon. Jadi, kami harus terlibat dulu dalam penanaman, baru dapat kompensasi katanya. Coba kalau dari awal ada pernyataan seperti itu, mungkin kami juga langsung ikut nanam," ujar Septian.

Baca: Dedi Mulyadi Marah hingga Melotot saat Ditagih Janji Gaji oleh Karyawan Hibisc Fantasy: Anda Berdosa

Menurutnya, sejak awal tidak ada persyaratan untuk ikut menanam pohon sebagai bagian dari proses mendapatkan kompensasi.

Selama ini, pekerjaan menanam pohon hanya dilakukan oleh pekerja proyek atau beberapa eks pegawai Hibisc yang masih terlibat. Ia pun menyesalkan perubahan sikap Dedi.

"Kemarin kami sudah kesulitan mencari informasi mengenai kompensasi ini. Dana ini kami ambil ke siapa? Mekanismenya bagaimana? Ditransfer atau tunai? Kami bertanya ke anggota dewan, tidak ada data. Bertanya ke kepala desa, juga tidak ada data. Lalu kami harus bertanya ke siapa lagi? Sedangkan manajemen sudah bubar sejak 9 Maret, begitu Hibisc tutup," ungkapnya.

Bagi mereka, janji Dedi pada 27 Maret adalah harapan besar di tengah ketidakpastian.

"Sekarang tinggal tiga hari lagi Lebaran, kami nggak punya apa-apa, nganggur, lalu tiba-tiba ada pernyataan begitu (tentang harus ikut menanam pohon)."

Meski begitu, Septian menegaskan bahwa mereka tidak menolak bekerja, bahkan bersedia jika sejak awal diajak terlibat dalam program penanaman pohon.

"Kami menagih yang dijanjikan. Kalau dari awal ada ajakan untuk menanam, pasti kami ikut. Tapi yang dijanjikan ini kompensasi," ujarnya. (*)

BACA ARTIKEL SELENGKAPNYA

Editor: Rekarinta Vintoko
Video Production: Roni Yoga Irawan
Sumber: Kompas.com

Video TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved