Terkini Daerah

Saat Para Pejabat Datang di Pernikahan Sejoli 'Manusia Langka' di Bali

Sabtu, 16 Maret 2019 21:27 WIB
Tribun Bali

TRIBUN-VIDEO.COM - Tamu undangan yang menghadiri pawiwahan I Ketut Budiarsa (35) dan Ida Ayu Ketut Kenari (38) tak tanggung-tanggung.

Mulai dari istri Kapolda Bali, Barbara Golose dan istri Wali Kota Denpasar, Ida Ayu Selly D Mantra, hadir dalam prosesi pernikahannya.

Siapa Budiarsa sehingga didatangi tokoh penting di Bali?

Duasa nganten pada Sasih Kedasa seusai Hari Raya Nyepi tidak disia-siakan Budiarsa, warga Banjar/Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar, untuk meminang kekasihnya, Dayu Kenari, asal Banjar Geria, Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem.

Sejoli ini menikah dengan sistem ‘kawin lari’ pada Kamis (14/3/2019).

Pernikahan keduanya menarik perhatian publik karena Budiarsa bukan sosok yang biasa.

Bahkan ia disebut sebagai manusia langka!

Budiarsa adalah satu dari Tree Brothers +1, yang menggemparkan dunia keilmuan osteogenesis imperfecta di kancah internasional.

Dengan penyakit yang mematikan dan tidak ada obatnya, Budiarsa masih bisa hidup dengan umur yang relatif lama.

Hal ini membuat dirinya dan dua saudaranya yang memiliki kondisi sama, dibuatkan laboratorium khusus di Belanda oleh Profesor Pals.

Di laboratorium inilah, sejumlah unsur tubuh Budiarsa diteliti untuk mencari formula agar penderita osteogenesis imperfecta di dunia, memiliki usia yang relatif panjang seperti Tree Brothers +1.

Ditemui di rumahnya, Jumat (15/3/2019), Budiarsa tampak bersemangat menceritakan perjalanan hidupnya yang sulit, hingga sampai bisa meminang seorang Dayu dari Karangasem, yang kondisinya juga tak normal.

Sejak usia dua tahun, Dayu Kenari mengalami polio, sehingga saat ini semua aktivitasnya juga harus memakai alat bantu seperti halnya Budiarsa.

Duduk di atas kursi roda, dengan tubuh yang relatif kecil lantaran semua tulangnya telah patah, Budiarsa bersyukur upacara pernikahannya bisa berjalan lancar.

Hal tersebut atas bantuan keluarga dan sejumlah relawan.

Meskipun dalam kondisi difabel, rentetan pernikahannya sama seperti orang normal.

Mulai dari prewedding, ritual ala Hindu, resepsi, bahkan ia juga diberikan voucher bulan madu di sebuah hotel di Ubud.

Namun karena kondisi fisik kedua calon pengantin tak normal, prosesi prewedding yang mengambil lokasi di tiga tempat, memakan waktu tiga hari.

“Sesi fotonya tiga lokasi, di Kebun Raya Bedugul, Pantai Melasti, dan Desa Wisata Penglipuran. Karena kondisi kami seperti ini, dan jaraknya jauh, satu lokasi satu hari, sehingga sesi foto menghabiskan waktu tiga hari. Pemotretannya gratis karena ada yang membantu, cuma pakaiannya saja yang sewa,” ujarnya.

Dalam pernikahan ini, Budiarsa menghabiskan biaya sekitar Rp 50 juta.

Terkait tamu undangan, Budiarsa mengatakan hanya menyebarkan 120 undangan.

Namun yang hadir mencapai 1.000 orang, termasuk istri Kapolda Bali, istri Wali Kota Denpasar, dan pejabat-pejabat di Kabupaten Gianyar.

“Saya sebar undangan hanya 120 lembar, tapi lewat Facebook, WhatsApp juga, sehingga yang hadir sampai 1.000 orang,” ujarnya.

Lalu bagaimana kisahnya, sampai ia menemukan belahan hati?

Budiarsa mengatakan, hal tersebut terjadi saat dirinya mengelola sebuah yayasan difabel yang tak mau dia sebutkan namanya.

Lantaran terus bertemu setiap hari, dan melihat karakter Dayu Kenari yang penyabar, rasa cintanya pun tumbuh.

“Kami pacaran selama 6 tahun. Dalam masa pacaran, tidak ada keromantisan. Tapi, kalau satu pihak tidak ada atau tidak bertemu karena sakit, rasa kehilangan sangat besar. Dengan pertimbangan matang, akhirnya kami pun memutuskan untuk menikah,” ujarnya semringah.

Dengan kondisi yang tidak normal, kata Budiarsa, banyak pihak yang berpikir bahwa pernikahan itu mustahil.

“Kalau lama pacaran, kami takut akan terlambat mengambil keputusan. Kami coba berpikir positif, mudah-mudahan Tuhan memberikan kami jalan. Kehidupan ini adalah drama, salah satu drama terbesar adalah pernikahan. Kami yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik,” ujarnya.

Lalu, bagaimana dengan statusnya di banjar atau desa adat?

Budiarsa mengatakan, prajuru adat setempat telah memberikannya keringanan.

Ia diperbolehkan tidak mengikuti kegiatan yang membutuhkan tenaga fisik.

“Prajuru adat memberikan kami keringanan dalam tenaga. Tapi kalau ada peturunan, kami wajib mengikuti,” katanya.

Terkait kondisi fisiknya saat ini, Budiarsa menceritakan hal ini tidak terjadi saat ia baru lahir.

“Saat lahir saya normal, tapi usai dua tahun tubuh ini mulai panas dingin, dan tulang patah. Sempat menjalani operasi tahun 1989, dan menginap di RSUP Sanglah selama enam bulan karena saya dijadikan bahan penelitian. Tapi hasil operasinya cuma bertahan selama 1,5 tahun,” ujarnya.

Hingga saat ini tulang-tulang di tubuh Budiarsa hampir semuanya telah patah.

Namun entah karena apa, Budiarsa saat ini tak mengalami sakit apapun saat tulangnya patah.

Dia juga mengaku heran, lantaran setiap tulang yang patah ini, tiba-tiba mengecil lalu hilang di dalam tubuhnya.

“Sekarang, kalau patah saya tidak mengalami sakit apapun. Meskipun semuanya telah patah, tapi masih bisa digerakkan, karena patahan itu tidak mempengaruhi saraf,” tuturnya.

Menurut dia, banyak ahli yang mengatakan osteogenesis imperfecta disebabkan faktor genetik.

Namun kata dia, leluhurnya tak ada yang mengalami hal serupa.

Dari enam bersaudara, hanya dirinya dan dua saudaranya yang mengalami kondisi seperti itu.

Selain itu, banyak ahli yang mengatakan, orang yang kondisi seperti ini tidak bisa hidup lama.

Namun ia dan saudaranya mematahkan asumsi tersebut.

Hal ini pula yang membuat dirinya dan dua saudaranya, menjadi pembahasan dunia medis internasional.

“Bahkan ada Profesor asal Belanda, yang membuat laboratoium khusus untuk meneliti kami. Katanya mau mencari obat, supaya orang dengan kondisi sama seperti kami, minimal bisa hidup lebih lama seperti kami. Profesor itu juga tiap tahun memesan lukisan karya saya untuk dijual di Belanda,” ujarnya.

Satu lukisan ukuran 100 cm x 150 cm biasanya dibanderol Rp 10 juta sampai Rp 15 juta.

Inilah yang dipakai Budiarsa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (Tribun-bali.com / I Wayan Eri Gunarta)

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Pejabat Penting Hadiri Pernikahan 'Manusia Langka', Menikah Setelah 6 Tahun Pacaran

ARTIKEL POPULER

Baca: Cara Edit Foto Promosi Produk yang Instagramable dengan Adobe Spark

Baca: Cara Aktifkan Fitur Kontrol Orangtua di Google Play Store

Baca: Cara Terjemahkan Teks dari Kamera atau Foto

 

TONTON JUGA:

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Teta Dian Wijayanto
Sumber: Tribun Bali
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved