20 Tahun Ledakan Bom Bunuh Diri JW Marriott Pakai TNT, Banyak Korban Tertancap Beling & Terbakar
TRIBUN-VIDEO.COM - Hotel JW Marriott Jakarta mencatatkan kenangan kelam pada 2003.
Peristiwa ledakan bom di hotel JW Marriott di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 4 Agustus tersebut menyisakan duka mendalam bagi korban, dan juga catatan hitam bagi BNPT.
Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani.
Bom yang meledak tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang.
Mobil yang dikendarai pelaku diduga memuat enam jiriken berisi bahan kimia berbahaya.
Dua jeriken berisi bahan peledak yang terdiri dari trinitrotoluena (TNT), Research and Development Explosive (RDX), Teril, dan sedikit High Melting Explosive (HMX).
Baca: Jejak Teror Bom Bunuh Diri JW Marriot dan Ritz-Carlton 2009 di Jakarta, Meledak hampir Bersamaan
Sedangkan empat jeriken lainnya berisi bensin bercampur minyak tanah.
Ledakan pada 4 Agustus 2003 menghancurkan restoran tempat berkumpulkan para ekspatriat dan sejumlah orang Indonesia yang berpunya.
Terlebih saat bom meledak, restoran tersebut dalam kondisi ramai oleh para tamu yang sedang makan siang.
Media mencatat, ledakan juga merusak lantai dasar bangunan hotel.
Pascainsiden, Hotel JW Marriott ditutup selama 5 pekan.
Bom di Hotel JW Marriott 2003 dipicu melalui sebuah telepon seluler yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).
Kepala Kepolisian RI saat itu, Jenderal Polisi Da'i Bachtiar, mengatakan bahwa ledakan bom mirip dengan ledakan bom di Bali, yang terjadi satu tahun sebelumnya dan menewaskan 202 orang.
Lokasi dipilih karena hotel tersebut identik dengan barat. Banyak pula turis yang menginap di sana.
Setelah itu, negara-negara lain meminta warganya untuk menghindari hotel internasional di Jakarta.
Sejumlah saksi mata yang ditemui di sekitar lokasi kejadian dan di rumah sakit mengisahkan bahwa ledakan saat itu sangat kuat.
Ruangan gelap gulita dan dipenuhi asap serta debu.
Plafon jatuh di lantai, seakan langit runtuh.
Kaca-kaca jendela pecah.
Serpihannya bertebaran dan berserakan di mana-mana.
Air dari sprinkler otomatis keluar, menyebabkan seisi ruangan basah.
Listrik pun padam.
Salah satu korban bom JW Marriott, Deni Purwanto mengaku jaraknya dengan pelaku pengeboman sangat dekat, hanya 7 meter.
Saat ledakan terjadi, dirinya terpental jauh.
Bahkan untuk bernapas saja ia kesusahan, ditambah kondisi gelap.
Istri Deni Purwanto saat mendapatkan kabar langsung berlari ke IGD.
Dilihatnya ada nama suaminya di daftar nomor empat sebagai korban ledakan bom JW Marriott.
Ketika melihat kondisi suaminya di RS, ia tak bisa lagi berkata-kata.
Kepala Deni penuh pecahan kaca akibat ledakan dan belum sempat dibersihkan oleh petugas.
Urat Deni pun sempat putus.
Penyintas ledakan bom JW Marriott, Tita Apriyantini kala itu berada di dalam restoran Salendra ketika peristiwa naas terjadi.
Tita menggambarkan kondisi TKP yang sangat gelap.
Bahkan cahaya hanya terlihat dari tubuh korban yang mengalami luka bakar.
Terdengar ledakan beberapa kali setelah ledakan pertama.
Tita juga melihat bola-bola api berterbangan di restoran.
Semua orang panik menyelamatkan diri mereka.
Bahkan rambut Tita sempat terbakar dan kepalanya terluka akibat ledakan itu.
Wakil Presiden Indonesia kala itu, Hamzah Has mengatakan, serangan teror diduga ditujukan pada kepentingan Amerika Serikat.
Sebab JW Marriott adalah jaringan hotel milik Negeri Paman Sam.
Baca: Sosok Upik Lawanga Perakit Bom Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Divonis Penjara Seumur Hidup
Sementara, Menteri Pertahanan RI, Matori Abdul Jalil mengatakan, ledakan di Hotel JW Marriott adalah teror bom.
Sebagai informasi, Hotel JW Marriott berlokasi di kawasan segitiga emas, dekat dengan kompleks pejabat di Jalan Denpasar dan kompleks kedutaan besar (kedubes) asing.
Di Menara Rajawali samping JW Marriott misalnya, terdapat kantor Kedubes Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Peru.
Sekitar 200 meter dari Marriott juga terdapat Kedubes China.
Pada 17 Juli 2009 hotel JW Marriott bersama dengan hotel Ritz-Carlton kembali diguncang bom, menewaskan 9 orang dan melukai 53 orang.
Pada 14 Januari 2021, orang yang disebut bertanggung jawab atas peristiwa bom JW Marriot adalah Noordin M Top.
Ia merupakan warga negara Malaysia yang menyelundup masuk ke Indonesia pada 2002.
Noordin tewas dalam penyergapan di Jebres, Solo, Jawa Tengah pada 16 September 2009 bersama dua orang lainnya yang masuk dalam daftar pencarian orang Mabes Polri.(*)
# BNPT # Bom JW Marriott # Hotel JW Marriott
Reporter: sara dita
Video Production: Ika Vidya Lestari
Sumber: Tribunnews.com
Tribunnews Update
Friderica Widyasari Istri Kepala BNPT Diangkat Jadi Ketua dan Wakil Ketua OJK Gantikan Mahendra
Minggu, 1 Februari 2026
Tribunnews Update
Pesan Eks Kepala BNPT Berpengaruh Besar terhadap Redanya Dendam Zulia Mahendra soal Kematian Amrozi
Senin, 18 Agustus 2025
TRIBUN-VIDEO UPDATE
Fakta Video Hotel JW Marriott Medan Banjir 1 Lantai, Tamu Jemur Baju, Manajemen Beri Klarifikasi
Kamis, 13 Februari 2025
Tribunnews Update
Presiden Jokowi Lantik Gus Ipul Jadi Mensos Gantikan Risma, Irjen Eddy Hartono Sebagai Kepala BNPT
Rabu, 11 September 2024
Live Update
Kesaksian Korban Selamat Ledakan Bom JW Marriott 2003, Tak Curiga hingga Alami Luka Bakar 42 Persen
Rabu, 9 Agustus 2023
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.