Kamis, 23 April 2026

HUT ke-77 RI

Sosok Pangeran Diponegoro dan Sejarah Perang Jawa yang Merebut Jawa Tengah & Jawa Timur dari Belanda

Senin, 8 Agustus 2022 12:38 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Pangeran Diponegoro adalah tokoh pahlawan dari Perang Jawa atau Perang Diponegoro.

Pangeran Diponegoro merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo.

Beliau lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta.

Sosok Pangeran Diponegoro dikenal secara luas karena memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa karena terjadi di tanah Jawa.

Perang Jawa menewaskan ratusan ribu rakyat Jawa dan puluhan ribu seradu Belanda.

Berikut ini sejarah Perang Jawa dan peran Pangeran Diponegoro, dikutip dari Kemdikbud dan Gramedia.

Baca: Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat, Pemimpin Kaum Padri untuk Lawan Belanda

Sejarah Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa

Perang Jawa atau Perang Diponegoro merupakan pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara.

Perang Jawa terjadi karena Pangeran Diponegoro tidak menyetujui campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan.

Selain itu, sejak tahun 1821 para petani lokal menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Van der Capellen mengeluarkan dekrit pada tanggal 6 Mei 1823 yang menyatakan semua tanah yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824.

Baca: Jejak Perjalanan Indonesia Meraih Sejarah Kemerdekaan, Sempat Dicengkram Kuku Belanda dan Jepang

Namun, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan Eropa.

Pangeran Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.

Kekecewaan Pangeran Diponegoro juga semakin memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya.

Beliau kemudian bertekad melawan Belanda dan menyatakan sikap perang.

Pelarian Pangeran Diponegoro

Pada tanggal 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah.

Mereka membakar kediaman Pangeran Diponegoro.

Saat itu, Pangeran Diponegoro dan sebagian besar pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di Tegalrejo.

Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo.

Mereka meneruskan perjalanan ke arah selatan hingga keesokan harinya tiba di Goa Selarong, yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.

Pangeran Diponegoro kemudian pindah ke Selarong, sebuah daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya.

Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong sebagai basisnya.

Tepatnya, Pangeran Diponegoro menempati goa sebelah barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaannya.

Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Baca: Mengenal Dr Sahardjo SH, Pahlawan Nasional di Balik Perumusan Pasal UUD 1945

Pecahnya Perang Diponegoro

Penyerangan di Tegalrejo menandai awal perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun.

Pangeran Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi yang menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang.

Beliau mengobarkan semangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati”, yang artinya “sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati”.

Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.

Bahkan Pangeran Diponegoro juga berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya ditakuti oleh penduduk pedesaan.

Perjuangan Pangeran Diponegoro juga dibantu Kyai Mojo yang sekaligus menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.

Dalam Perang Jawa ini, Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubuwono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.

Baca: Sosok Sang Pahlawan Nasional Maskoen Soemadiredja, Pernah Jadi Komisaris & Sekretaris di Bandung

Strategi Perang Pasukan Belanda

Perang Jawa atau Perang Diponegoro ini memakan biaya yang sangat besar.

Dari pihak Diponegoro dan Belanda, masing-masing membangun jalur logistik, memproduksi alat perang, dan mencari informasi terkait perkembangan musuh.

Pada puncak peperangan tahun 1827, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu.

Ini adalah suatu hal yang belum pernah terjadi di wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur, tetapi dijaga oleh puluhan ribu serdadu Belanda.

Perubahan strategi Belanda terjadi ketika Gubernur Jenderal De Kock diangkat menjadi panglima seluruh Hindia Belanda tahun 1827.

Untuk membatasi ruang gerak dan strategi gerilya dari Diponegoro, De Kock menggunakan strategi perbentengan (Benteng Stelsel).

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pangeran Diponegoro dan Sejarah Perang Jawa, Strategi Belanda Merebut Jawa Tengah dan Jawa Timur

# Pangeran Diponegoro # perang jawa # Belanda # Jawa Tengah # Jawa Timur

Editor: Fitriana SekarAyu
Video Production: Rizaldi Augusandita Muhammad
Sumber: Tribunnews.com

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved