Minggu, 12 April 2026

BI Surakarta Sosialisasi Uang Baru untuk Tuna Netra

Rabu, 20 September 2017 19:08 WIB
Tribun Jogja

TRIBUN-VIDEO.COM - Bank Indonesia (BI) cabang Surakarta menyosialisasikan pecahan baru rupiah kepada penyandang tuna netra. Sosialisasi dilakukan di gedung Loka Bina Karya (LBK) Klaten, Rabu (20/9).

Sosialisasi digelar untuk mengenalkan wajah baru rupiah. Terutama untuk mengenalkan ciri uang asli cetakan BI

Pecahan baru rupiah disebut memiliki ciri khas lebih mudah dikenali penyandang tuna netra. Pasalnya pecahan baru dilengkapi dengan instrumen pengenal nominal yang lebih sederhana.

Instrumen tersebut dinilai memudahkan penyandang tuna netra untuk mengenali pecahan baru rupiah. Dengan demikian, diharapkan penyandang tuna netra lebih aman dan mudah dalam menggunakan uang.

Di antaranya dengan instrumen raba. Pada pecahan baru, rupiah menggunakan pasangan garis timbul pada tepi lembarannya.

"Untuk menghitung nominal, tinggal dihitung jumlah garisnya. Semakin sedikit garisnya, nominalnya semakin besar," ungkap Zaki, fasilitator sosialisasi pecahan baru rupiah.

Blind code atau tanda khusus yang ada pada pecahan baru rupiah dibuat bagi penyandang tuna netra agar lebih mudah menggunakan uang. Berbeda dengan pecahan sebelumnya yang sulit dikenali.

"Untuk mengetahui nominal, cukup diraba tepinya. Nominal paling besar, Rp 100.000, ditandai dengan sepasang garis timbul. Semakin kecil, jumlah garisnya lebih banyak," ungkap Natia Zacky, fasilitator sosialisasi pecahan baru rupiah.

Nominal rupiah pada pecahan lama ditandai dengan simbol. Meski sudah ada simbolnya, namun penyandang tuna netra masih kesulitan untuk mengenali pecahan rupiah. Itupun tidak semua nominal memiliki simbol ini, hanya ada pada pecahan besar mulai Rp 20.000 hingga Rp Rp100.000.

"Untuk uang emisi 2016, blind code ada di semua pecahan," paparnya.

Bagi penyandang tuna netra, adanya sejumlah instrumen penanda pada pecahan baru rupiah sangat memudahkan. Pasalnya bagi tuna netra yang lebih mengandalkan rabaan lebih cepat membedakan nominal rupiah yang digunakannya.

Seperti yang diakui Eko Suwasto, pengajar braille Loka Bina Karya (LBK) Klaten. Menurutnya pada pecahan baru, terdapat blind code di semua nominal selain perbedaan ukuran tiap nominal yang sering menjadi patokan bagi tuna netra.

"Kalau uang lama, untuk membedakannya biasanya menggunakan ukuran karena banyak yang tidak terlalu kenal simbolnya. Tapi repotnya kalau dapat uang dengan ukuran yang sama, tidak bisa membedakan berapa nominalnya," ujarnya di sela sosialisasi pecahan baru rupiah dari Perwakilan BI Surakarta.

Namun pada pecahan baru, tuna netra cukup meraba tepi uang dan mengenali nominal dari jumlah pasangan garis. Untuk nominal rupiah paling Rp 100.000 memiliki sepasang garis, untuk Rp 50.000 terdapat dua pasang garis, Rp 20.000 tiga pasang garis, Rp 10.000 empat pasang garis, Rp 5.000 lima pasang garis, Rp 2.000 enam pasang garis, dan Rp 1.000 tujuh pasang garis.

"Bagi tuna netra tidak harus menghitung jumlah garisnya, cukup diraba urut paling ujung, kalau ada garis lagi berarti nominalnya lebih kecil," ungkapnya.(*)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Tribun Jogja

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved