Terkini Nasional
Tanggapan Pihak Kemenko Marves soal Prediksi Data Kematian Covid-19 yang Bisa Saja Lebih Tinggi
TRIBUN-VIDEO.COM - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, ikut menyoroti terkait keputusan pemerintah menghapus angka kematian dari indikator penanganan Covid-19.
Adapun, dihapuskannya angka kematian Covid-19 lantaran ditemukan adanya input data akumulasi selama beberapa minggu ke belakang.
Sehingga, hal itu menimbulkan distorsi atau bias dalam penilaian terhadap level PPKM di suatu daerah.
Baca: Kemenkes Sebutkan Data Kematian, 94 Persen Pasien Positif Covid-19 yang Meninggal Belum Divaksin
Menanggapi hal ini, Dicky menyebut penumpukkan laporan data memang menjadi hal yang sangat wajar terjadi.
Bahkan, tidak hanya di Indonesia, banyak negara lain juga mengalami hal serupa.
"Memang itu kendala yang sangat wajar dialami, bahkan bukan hanya di Indonesia saja."
"Di negara maju, yang dilaporkan bisa dua kali lebih rendah dari data yang ada," kata Dicky, dikutip dari tayangan Youtube tvOne, Kamis (12/8/2021).
Sehingga, Dicky memprediksi setelah angka kematian Covid-19 diperbaiki, angka yang muncul bisa jauh lebih tinggi.
Terlebih, positivity rate di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan standar dari WHO.
"Yang dilaporkan memang belum yang mendekati sebenarnya, kalau dibawah (dari angka yang dilaporkan saat ini, red) tentu tidak."
"Pasti diatasnya, karena positivity rate kita tinggi untuk kasus aktifnya," ujar Dicky.
Baca: Luhut Resmi Umumkan PPKM Diperpanjang hingga 16 Agustus, Sebut Terjadi Penurunan Kasus 59,6 Persen
Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Jodi Mahardi mengaku tak masalah dengan prediksi tersebut.
Menurutnya, tujuan pemerintah memperbaiki data kematian Covid-19 adalah untuk mencari keakuratan data.
"Tidak ada masalah kalau ternyata ditemukan datanya lebih besar, karena kita memang tujuannya mencari akurasi."
Baca: Gibran Targetkan Vaksinasi Covid-19 di Solo Tembus 80 Persen: Sebelum Menko Luhut Datang Lagi
"Jadi kita tidak mau terjadi distorsi atau bias dalam analisis (penanganan Covid-19)."
"Jadi kalau memang ditemukan angkanya lebih besar tidak apa-apa, tapi kita ingin angka yang akurat," jelas Jodi. (*)
Baca juga berita terkait di sini
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tanggapan Pemerintah soal Prediksi Data Kematian Covid Bisa Jauh Lebih Tinggi setelah Diperbaiki
# Epidemiolog # Griffith University # Dicky Budiman # Covid-19 # Data kematian
Sumber: Tribunnews.com
Jangan Anggap Enteng Super Flu! Anak-anak & Orang Tua Berisiko Tinggi | ON FOCUS
Senin, 5 Januari 2026
Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Ahli Ingatkan Bahaya Kesehatan
Senin, 20 Oktober 2025
Live Update
Pedagang Mulai Putar Otak seusai Lapak Pakaian di Pasar Sentral Pekkabata Sepi Pembeli Pasca-Covid
Sabtu, 19 Juli 2025
Tribunnews Update
1 Kasus Covid-19 Ditemukan di Yogyakarta, Aktifkan Sistem Kewaspadaan Warga Diminta Pakai Masker
Kamis, 12 Juni 2025
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.