Terkini Metropolitan
Museum Pusaka TMII Gelar Tradisi Jamas Pusaka: Puluhan Keris Dicuci pada Satu Muharam
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUN-VIDEO.COM, MAKASAR - Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur gelar tradisi jamas pusaka, Selasa (10/8/2021).
Dalam rangka memperingati satu Suro atau 1 Muharam 1443 H, Museum Pusaka TMII kembali menggelar prosesi penjamasan benda pusaka.
Penjamasan yang dilakukan merupakan pemandian atau pencucian keris yang ada di Museum Pusaka.
"Ini rangkaian pencucian itu dimulai dari kirab tadi malam. Kemudian penjamasan di Museum Pusaka. Ini berlangsung tiap satu Suro. Keris sendiri di Museum Pusaka ada 4 ribuan ditambah 2 ribu keris lainnya dari perorangan yang dihibahkan ke Museum Pusaka," Kasi Umum Museum Pusaka M Andi Aziz di lokasi.
Baca: VIDEO Melihat Tradisi Jamasan, Mencuci Benda Pusaka Di Bulan Muharram
Lantaran jumlahnya yang ribuan, keris yang dimandikan hanya beberapa saja.
Andi menuturkan sebagian besar keris yang dijamas merupakan keris perwakilan zaman ke zaman.
Adapula keris lainnya yang memang sudah berkarat dan perlu dibersihkan.
"Yang dijamas itu itu keris perwakilan zaman. Ada zaman Budha, zaman Singosari, zaman Mataram, dan lain-lain. Ada juga yang berkarat juga kita bersihkan. Jadi tidak semua keris dimandikan karena jumlahnya memang ribuan," jelasnya.
Proses penjamasan
Diawali dengan kirab, penjamasan pusaka dilakukan pada satu Suro atau 1 Muharam.
Konservator di Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Nasib Hadi Prayitno (52) mengatakan untuk penjamasan sendiri memang tradisi yang sudah dilakukan sejak dulu.
Di mulai dengan merendam keris di air kelapa, lamanya proses jamasan ditentukan dari kondisi keris tersebut.
"Proses jamasan dimulai dengan merendam keris. Keris berkarat kita rendam dulu dengan air kelapa. Lamanya waktu ini tergantung dari karat yang ada. Kalau sedikit bisa tiga hari. Seminggu juga ada, dua minggu juga ada," paparnya.
Selama perendaman, keris terus dikontrol atau dilihat kondisinya.
Selanjutnya dikeringkan dan dilanjutkan proses berikutnya, yakni warangan.
"Selanjutnya proses warangan. Kalau tadi habis direndam putih doang, setelah diwarangin beda warnanya," katanya.
Kemudian dilanjut dengan membilas warangan. Lalu, keris dibilas kembali dengan jeruk nipis dan disikat dengan sabun.
"Walau disikat kadar besinya gak berkurang," ucap Nasib.
Baca: Beginilah Suasana Prosesi Jamasan Tombak Kyai Turun Sih di Rumah Dinas Bupati Sleman
Proses berikutnya dijamas atau dimandikan dengan air kembang, lalu dibilas dengan air bersih.
Kemudian dikeringkan dan terakhir diberi minyak.
"Untuk minyak tergantung, kalau di sini pakai minyak cendana," ujarnya.
Nasib menuturkan selama ini penjamasan ia melantunkan sejumlah doa, diantaranya kalimat syahadat dan doa selamat.
"Kalau dulu pakai bahasa sansekerta di zaman kakek saya. Kalau saya pakai doa aja, intinya kalimat syahadat dan doa selamat untuk yang punya keris juga," jelasnya.
Sejauh ini, Nasib tak pernah memiliki pantangan sebelum penjamasan meskipun keris kerap dihubungkan dengan hal magic.
"Saya enggak ada pantangan. Kalau keris disebutnya hasilnya tuah doa hasil si empu saat bikin keris. Tirakan dari si empu dan pastinya baik. Ya tapi memang ada yang diisikan dan kental dengan magic. Tapi kembali lagi ke kepercayaan masing-masing," jelasnya. (*)
Baca berita terkait lainnya
Sumber: Tribunnews.com
LIVE UPDATE
Tes Kejiwaan Pelaku Teror Pembakaran di Matraman Jaktim, Polisi Duga Depresi Jadi Pemicu Insiden
3 hari lalu
Terkini Daerah
Aksi Heroik Bocah di Rawa Bunga Jatinegara Pertahankan HP dari Jambret sampai Ikut Terseret Motor
4 hari lalu
Viral News
DETIK-DETIK Perlawanan Bocah pada Jambret Ponsel di Jatinegara, Pelaku sempat Terjatuh
4 hari lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.