Tribunwiki
Craniosynostosis, Cacat Ubun-ubun yang Menutup Lebih Cepat, Akibatkan Kepala Bayi Tidak Normal
TRIBUN-VIDEO.COM - Craniosynostosis adalah kondisi cacat lahir dimana ubun-ubun menutup lebih cepat, mengakibatkan kepala bayi berkembang tidak normal sehingga bentuk kepala bayi tampak tidak sempurna.
Pada mulanya, tulang tengkorak bukan satu tulang utuh yang berdiri sendiri, melainkan gabungan dari beberapa tulang yang dihubungkan oleh ubun-ubun.
Ubun-ubun akan tetap terbuka hingga bayi berusia 2 tahun, agar otak bayi bisa berkembang. Kemudian, ubun-ubun akan menutup dan membentuk tulang tengkorak yang padat.
Pada bayi dengan craniosynostosis, ubun-ubun menutup lebih cepat sebelum otak bayi terbentuk sempurna.
Kondisi ini membuat otak mendorong tulang tengkorak, sehingga bentuk kepala bayi menjadi tidak proporsional.
Bila tidak ditangani, craniosynostosis dapat menyebabkan perubahan bentuk kepala dan wajah secara permanen.
Tekanan di dalam rongga kepala dapat meningkat dan memicu kondisi yang serius, seperti kebutaan hingga kematian.
Jenis
Terdapat beberapa jenis craniosynostosis, yang paling sering dijumpai yaitu penyatuan dari satu sutura.
Sementara tipe yang lebih kompleks akan melibatkan penyatuan lebih dari satu sutura.
Sebagian besar kasus dari craniosynostosis kompleks berhubungan dengan sindroma genetik atau juga dikenal dengan istilah syndromic craniosynostosis. Berikut jenis lain dari craniosynostosis:
Sagittal (scaphocephaly)
Pada jenis ini, terdapat penutupan dini dari sutura sagitalis.
Sutura ini membentang dari tengkorak depan ke belakang, serta menyebabkan bentuk kepala menjadi panjang dan sempit.
Coronal
Terjadi penutupan dini dari salah satu sutura coronal, yang terdapat di masing-masing telinga ke bagian atas tengkorak.
Kondisi ini dapat mengakibatkan dahi bayi menjadi rata di area yang terkena, dan memicu tonjolan.
Metopic
Sutura metopic terdapat di bagian atas pangkal hidung, sampai ke garis tengah dahi hingga ubun-ubun anterior, atau titik lemah dan sutura sagitalis.
Dahi akan tampak seperti segitiga, dan melebar di bagian belakang kepala.
Lambdoid
Lambdoid synostosis termasuk jenis craniosynostosis langka, yang melibatkan sutura lambdoid pada bagian belakang kepala.
Kondisi ini mengakibatkan satu sisi kepala bayi tampak rata, satu sisi telinga terlihat lebih tinggi dari telinga satunya, dan bagian atas kepala yang miring ke satu sisi.
Gejala
Gejala craniosynostosis biasanya sudah tampak saat bayi lahir, dan semakin terlihat jelas setelah beberapa bulan.
Tanda-tanda tersebut, yaitu:
• Ubun-ubun atau bagian lunak di kepala bayi tidak terasa.
• Dahi terlihat seperti segitiga, dengan bagian belakang kepala yang lebar.
• Bentuk dahi yang sebagian rata dan sebagian lagi tampak menonjol.
• Posisi salah satu telinga lebih tinggi dari telinga yang lain.
• Bentuk kepala bayi yang lebih kecil daripada bayi seusianya.
• Bentuk kepala tidak normal, misalnya memanjang dan pipih, atau terlihat datar di salah satu sisi.
Penyebab
Penyebab penyakit craniosynostosis sering tidak diketahui.
Akan tetapi, kondisi ini terkadang berhubungan dengan kelainan genetik.
Craniosynostosis nonsyndromic merupakan tipe yang paling umum terjadi, dan penyebabnya belum bisa diketahui.
Kondisi ini sering berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan kondisi lingkungan.
Sementara craniosynostosis syndromic disebabkan oleh beberapa sindrom genetik, seperti sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, atau sindrom Crouzon.
Kondisi-kondisi berikut dapat memengaruhi perkembangan tengkorak bayi.
Pengobatan
Craniosynostosis dengan tingkat keparahan ringan atau sedang tidak membutuhkan pengobatan khusus.
Dokter akan menyarankan pasien untuk menggunakan helm khusus, guna memperbaiki bentuk tengkorak dan membantu perkembangan otak.
Tetapi, kebanyakan kasus craniosynostosis yang serius ditangani dengan operasi.
Operasi craniosynostosis dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan craniosynostosis dan apakah terdapat kelainan genetik yang mendasarinya.
Tujuan operasi ini untuk mengurangi dan mencegah munculnya tekanan pada otak, membuat ruang di tengkorak agar otak dapat berkembang, serta memperbaiki bentuk tengkorak.
Terdapat dua jenis operasi yang bisa dilakukan dalam menangani craniosynostosis, di antaranya:
• Bedah endoskopi
Operasi ini dilakukan pada bayi pada usia di bawah 6 bulan. Prosedur ini hanya memerlukan satu hari rawat inap dan tidak memerlukan transfusi darah.
Setelah prosedur ini, terapi dengan helm khusus dapat dilakukan untuk memperbaiki bentuk tengkorak.
• Bedah terbuka
Operasi ini dilakukan pada bayi berusia di atas 6 bulan. Bedah terbuka memerlukan tiga hingga empat hari rawat inap dan transfusi darah.
(TribunnewsWiki.com/Septiarani)
Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: Craniosynostosis
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
Terkini Nasional
Roy Suryo Nilai SP3 Eggi dan Damai Cacat Hukum, Siap Adukan Polda Metro Jaya ke Propam Polri
Sabtu, 17 Januari 2026
TRIBUNNEWS UPDTAE
KUHP Dianggap Produk Cacat Legislasi, Ini Daftar Pasal-pasal Kontroversial di Tengah Masyarakat
Jumat, 2 Januari 2026
Live Update
Satpol PP Gerebek Pengemis Pura-pura Cacat di Padang, Aksinya Bikin Geleng Kepala
Jumat, 25 Juli 2025
viral news
TPUA Sebut Penghentian Penyelidikan Ijazah Jokowi Cacat Hukum, Minta Polisi Gelar Perkara Khusus
Senin, 26 Mei 2025
Tribun Video Update
Buntut Perang Gaza, 78 Ribu Pasukan Israel Cacat dan Terluka, IDF Krisis Prajurit?
Senin, 10 Maret 2025
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.