Kamis, 16 April 2026

HOT TOPIC

Dampak Dikudeta Moeldoko, Kerek Elektabilitas AHY pada Bursa Capres 2024 dan Bayangi Prabowo

Minggu, 14 Maret 2021 22:20 WIB
Tribun Video

TRIBUN-VIDEO.COM - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko membuat geger publik perpolitikan tanah air dengan manuver pengambil alihan Partai Demokrat lewat KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang, Sumatera Utara, (5/3/2021)

Kisruh dan dualisme partai di Indonesia memang bukan barang baru, tetapi posisi Moeldoko yang dekat dengan kekuasaan saat ini agaknya menjadikan Kasus Kudeta Partai Demokrat ini banyak mendapat sorotan.

Secara kekuatan, Kudeta yang dilakukan oleh Sang Mantan Panglima TNI ini terlihat nekat.

Jika dilihat dari pendukung yang pro KLB dan peserta KLB adalah hanya segelintir dari Partai Demokrat secara nasional.

Tetapi meski didukung oleh sebagian kecil kekuatan, kemungkinan untuk mendongkel Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Ketua Umum yang sah saat ini tetap terbuka secara hukum.

Menkopolhukam Mahfud MD mengungkapkan tidak bisa melarang KLB yang memutuskan Moeldoko menjadi Ketum Demokrat ini karena merupakan sebagian dari kemerdekaan untuk berserikat dan berkumpul.

Dengan adanya KLB ini, kepemimpinan AHY yang ibaratnya baru seumut jagung pun dalam ujian.

Persatuan dan kesatuan partai dipertaruhkan.

Jika salah langkah bukan tidak mungkin kedudukannya akan terancam tergantikan.

Elektabilitas AHY Melesat

Di sisi lain, drama internal Partai Demokrat malah melambungkan nama AHY.

Berdasarkan survei yang diselenggarakan oleh IndEX Research tanggal 25 Februari sampai dengan 5 Maret 2021 Sang Pangeran Cikeas melejit tembus 4 besar Capres 2024.

Dengan kata lain berdasarkan survei tersebut AHY berhasil mengkudeta Anies Baswedan dari posisi empat besar.

Hal yang menarik, AHY dari awalnya hanya 1-2 persen, dalam waktu cepat menggeser sejumlah nama, kini elektabilitasnya mencapai 7,0 persen.

Menurut Survei terbaru IndEX, Prabowo masih menempatkan diri sebagai Capres 2024 terkuat dengan elektabilitas 20,4 persen.

Sementara itu pada urutan kedua ditempati oleh Ridwan Kamil dengan elektabilitas 14,1 persen.

Pada urutan ketiga ada Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 13,5 persen.

Dan AHY berada pada urutan ke empat dengan elektabilitas 7 persen.

Baca: Polemik Demokrat Makin Panas, Kubu AHY dan Moeldoko Sama-sama Tempuh Jalur Hukum

Populer Saja Tak Cukup

Meningkatnya popularitas Demokrat dan AHY wajar, sebab, isu itu tersebut sedang 'happening' sehingga menjadi perhatian publik.

Hal itu diungkapkan oleh analis politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno.

"Dalam seminggu ini porsi pemberitaan soal AHY dan Demokrat berlimpah karena isu kudeta," ujar Adi.

Namun, Adi mengingatkan partai berlambang mercy itu untuk tak berpuas diri melihat popularitasnya meningkat.

Karena, menurutnya populer saja tak cukup dalam dunia politik.

Semua akan sia-sia, kata Adi, jika Demokrat tak bisa mengkonversi popularitas itu menjadi elektabilitas.

"Dalam politik, populer saja tak cukup, tapi harus bisa dikonversi jadi elektabilitas. Di situlah Demokrat harus fokus ke depan. Setelah jadi konsumsi pemberitaan, lalu apa?" ungkapnya.

Terlebih lagi, Adi menilai masyarakat saat ini masih belum dapat dipastikan menanggapi isu kudeta Demokrat secara positif ataupun negatif.

"Saat ini publik terbelah dalam menyikapi isu kudeta demokrat. Terjadi tauran opini, jadi belum ketahuan siapa yang lebih kuat. Harus ada alat ukur yang objektif," tandasnya.

Simpati pada Pihak yang Terdzalimi

Hal senada diungkap oleh peneliti InDEX Research, Hendri Kurniawan.

Menurutnya popularitas itu hal yang wajar, AHY tampaknya mendapat simpati dari publik karena dianggap sebagai pihak yang terdzalimi.

Kondisi itu mengingatkan kita kepada apa yang terjadi pada SBY saat sekitar pencapresannya yang pertama kurang lebih tujuh belas tahun yang lalu.

Saat itu pernyataan Taufik Kiemas yang menganggapnya sebagai anak kecil.

Hal ini berkaitan dengan hubungan SBY sebagai menteri dengan Megawati sebagai presiden malah melambungkan namanya.

Akhirnya hal itu sedikit banyak mempengaruhi keberhasilan SBY menjadi Presiden pada Pilpres 2004 lalu.

Baca: Mahfud MD Beberkan Reaksi Jokowi saat Tahu Moeldoko Terlibat Kudeta Demokrat: Dia Kaget Betul

Elektabilitas Moeldoko Cuma 0,4 Persen

Dalam hasil survei yang sama, elektabilitas Moeldoko justru tertinggal jauh dari AHY.

Padahal Kepala Kantor Staf Presiden tersebut digadang-gadang akan dicalonkan menjadi calon presiden seusai didapuk menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa Deli Serdang, Sumatera Utara.

Sekretaris Majelis Tinggi DPP Demokrat Andi Mallarangeng sebelumnya juga menyebut Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko berambisi ingin menjadi calon presiden 2024.

Menurut Andi, mantan Panglima TNI itu lantas berupaya merebut PD demi memuluskan ambisinya tersebut.

Andi mengaku telah menerima laporan dari para kader Demokrat yang lebih dahulu bertemu Moeldoko di Hotel Aston, Kuningan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan itu, kata Andi, lulusan Akademi Militer (Akmil) 1981 tersebut menyampaikan keinginannya menjadi ketua umum PD agar bisa  berkontestasi pada Pilpres 2024.

Meski demikian, dalam survei terbaru Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research tentang sosok yang berpeluang maju sebagai calon presiden 2024, Moeldoko berada pada urutan bawah dengan elektabilitas hanya 0,4 persen atau di bawah 1 persen.

Sementara, sebaliknya, elektabilitas AHY melejit menempati urutan keempat dengan mengantongi elektabilitas sekitar 7 persen.

Manuver Moeldoko ingin rebut kekuasaan di Partai Demokrat tengah hangat diperbincangkan.

Posisinya yang dekat dengan kekuasaan jadikan kudeti ini banyak mendapat sorotan.

Dengan adanya kudeta, kepemimpinan AHY yang ibaratnya baru seumut jagung pun dalam ujian.

Di sisi lain, drama internal partainya justru membuat nama AHY melesat daam survei bursa calon Presiden.

Tampaknya AHY dapat simpati dari publik karena dianggap sebagai pihak yang terdzalimi.

Seperti dejavu, akankah sejarah bakal berulang kembali? (*)

Editor: Sigit Ariyanto
Reporter: Nila
Sumber: Tribun Video

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved