Tribunnews Wiki

Tari Hudoq Pekayang, Tarian Khas Dayak Kalimantan Timur

Kamis, 31 Oktober 2019 21:20 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM – Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu Kalimantan Timur, sukses menyelenggarakan event tahunan yakni Festival Hudoq Pekayang.

Festival Hudoq Pekayang diagendakan setiap setahun sekali, sebagai bagian dari budaya Mahakam Ulu atau Mahulu.

Masyarakat Dayak Kalimantan Timur masih menyimpan tradisi dan adat yang luar biasa, satu di antaranya tradisi Hudoq Pakayang.

Tradisi Hudoq Pakayang tidak dilaksanakan kapanpun, namun berdasar musim tanam padi.

Suku Dayak Bahau Busaang, Bahau Long Gelaat, Dayak Kayaan, dan sub suku Dayak Bahau Saq masih mempertahankan tradisi Hudoq Pakayang hingga saat ini.

Kabupaten Mahulu Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Tenggarong dan Kutai Barat, dengan pelabuhan tering sebagai pintu masuk ke Kabupaten Mahulu.

Sungai Mahakam dengan muara selat Makasar, merupakan satu-satunya akses menuju Kabupaten Mahulu.

Di sepanjang sungai Mahakam, hidup sub suku Dayak yang hidup berdampingan dengan alam.

Memasuki Mahulu, tersajikan dinding tebing kapur bernama dinding tebing Mahakam.

Konon di sepanjang dinding tebing Mahakam, hidup sekelompok suku Longwai.

Suku Longwai dahulunya memiliki kebiasaan membajak perahu di sungai Mahakam, hingga akhirnya mereka dicari seluruh kelompok suku Dayak dan melarikan diri masuk ke gua tebing.

Ujoh Bilang merupakan Ibukota Kabupaten Mahakam Hulu Kecamatan Longbagun, pusat kegiatan bongkar muat barang dan jasa untuk menuju pelosok daerah dan hulu sungai Mahakam.

Memasuki kampung Ujoh Bilang suasana masyarakat Dayak mulai terasa, dengan pakaian adat yang dikenakan setiap orang dan adat yang masih melekat kuat.

Untuk menuju ke pusat Kalimantan dari Ujoh Bilang harus melalui sungai Mahakam.

Sejarah Tarian Hudoq

Lembah Mahakam Hulu atau Mahalu didominasi masyarakat adat Dayak, yang telah lama hidup berdampingan dengan alam.

Bekerja sebagai petani tradisional membuat masyarakat Dayak Mahalu, harus bijak dalam mengelola perkebunanya hingga dikenal nugal atau ritual penanaman padi.

Ritual nugal dilakukan untuk memberitahukan kepada leluhur dan dewa di kayangan, apabila warga suku Dayak akan memulai penanaman padi.

Prosesi awal penanaman dimulai dengan laki-laki di baris terdepan menancapkan bambu yang sudah diruncingkan ujungnya ke tanah, diikuti perempuan menggenggam benih.

Masyarakat suku Dayak untuk mengharapkan keberkahan leluhur, tidak cukup hanya tradisi Nugal.

Masyarakat Dayak Mahulu juga melakukan prosesi Hudoq yang didapat secara turun temurun.

Biasanya, setiap rumah berhiaskan topeng Hudoq dalam menyambut pesta rakyat.

Topeng Hudoq terbuat dari kayu jelutung berhias daun pisang segar, untuk memberikan pesan dewa memberkati kehidupan alam.

Masyarakat Dayak Mahulu percaya topeng Hudoq ciptaan roh leluhur, bernama Jelewantok Hudoq.

Jelewan dalam suku Dayak berarti ular cobra dan toq berarti roh. Jelewantoq Hudoq memiliki arti topeng roh ular cobra.

Hudoq biasa mewakili wajah burung sebagai perwakilan dewa hun, sang pembawa keberkahan.

Tetapi berbeda dengan adat Dayak, disesuaikan dengan desa dan adat istiadat masing-masing ketua adat desa.

Topeng hudoq kemudian digunakan menari sesuai dengan desa dan adat masing-masing secara turun temurun.

Namun kini Hudoq Pakayang setahun sekali masyarakat Dayak Mahalu Kecamatan Lumpahagai, mengadakan Hudoq Pakayang dan dihadiri 13 desa.

Seperti adat desa lainnya Lungtuyoq harus mempersiapkan pawang dan seluruh penari, untuk berlayar menuju tuan rumah.

Hudoq Pakayang dimulai pukul 07.00 WIB di desa Lumpaka Mahakam Ulu.

Hudoq Pakayang merupakan tradisi penghornatan masyarakat Dayak, kepada bumi dan alam. Mereka percaya restu leluhur merupakan keutamaan bagi tanah yang subur.

Hudoq memiliki arti topeng, dan Pakayang memiliki arti saling mengunjungi.

Sebanyak 13 desa adat Dayak berkumpul, dan menari bersama sebagai wujud syukur atas masa tanam.

Lebih dari 500 penari mengiringi prosesi Hudoq Pakayang, dengan topeng bermahkota bulu enggang sebagai pemimpin para Hudoq Pakayang menuju halaman kantor desa.

Tari Hudoq Pakayang diinisiasi oleh suku Dayak Bahao, dan menyebar ke seluruh pulau Kalimantan.

Tarian Hudoq merupakan tarian sakral dan hanya dilakukan setelah masa tanam, selama 3 hari 2 malam.

Dengan harapan kedatangan leluhur dan dewa-dewi kayangan turun ke bumi.

Tarian ini dilakukan dalam dua formasi, yakni penari Hudoq Pakayang berada di tengah barisan dan penari pendamping berada di samping hudoq.

Makna dibalik tarian tersebut dewa-dewa sedang merasuki para penari Hudoq, dan manusia ikut menari bersama dengan para dewa disampingnya.

Masyarakat Mahalu percaya keberadaan dewa-dewa dan leluhur berada disamping mereka, dengan upacara tersebut.

Penari Hudoq merupakan orang pilihan, dengan harapan dapat berharmonisasi dengan tokoh yang mereka mainkan.

Selain Hudoq Pakayang masyarakat Mahalu juga membuat teatrikal sesuai kampung mereka.

Tarian Hudoq Pakayang diiringi dengan alat musik tufun, gong, dan sape.

Alat musik ini digunakan untuk mengiringi tarian khas Dayak pada perayaan kesenian dan pengiring proses penobatan kepala suku.

Alat musik bernama sapei ciri khas tarian adat Kalimantan, terbuat dari kayu adau memiliki dawai empat hingga enam. Sapei berdawai dua merupakan alat pengiring kesenian tari dengan gerakan hentakan.

1. Hudoq nyam’ake perlambangan pemuda yang gagah berani dan bertugas sebagai prajurit.

2. Hudoq Urung Pakau dikenakan oleh yang dituakan di kampong, sekaligus pemimpin kelas menengah komandan prajurit.

3. Hudoq Ba’kap dikenakan oleh pemimpin adat sekaligus pemimpin tarian Hudoq.

Yang menarik pada Hudoq dari desa Telivaq yaitu pemegang adat tertinggi Hudoq adalah perempuan. Pemegang adat Hudoq yang pertama kali dan menjadi raja Hudoq adalah perempuan.

Sehingga sampai kini yang memimpin ritual Hudoq adalah perempuan. Ini sekaligus cermin dari prinsip dualisme yang
memisahkan antara laki-laki dengan perempuan pada orang Dayak Bahau.

(TribunnewsWiki.com/Ibnu Rustamaji)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: Tari Hudog Pekayang.

ARTIKEL POPULER:

Baca: Gubernur Kalsel Resmikan Balai Temu Rakyat Dayak Pitap

Baca: Gelar Budaya Mesiwah Pare Gumboh Dayak Deah Liyu

Baca: Warga Dayak Dukung Pemindahan Ibu Kota RI ke Pulau Borneo

TONTON JUGA:

Editor: Teta Dian Wijayanto
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved