Kamis, 9 April 2026

Tribunnews WIKI

Profil Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono - Pahlawan Nasional

Jumat, 9 Agustus 2019 08:15 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - IJ Kasimo lahir sebagai anak keempat dari sebelas bersaudara.

Ayah dari IJ Kasimo adalah Ronosentiko dan ibunya bernama Dalikem,

Ayah IJ Kasimo bekerja sebagai prajurit Keraton Yogyakarta.

Sedangkan ibunya mengurus keperluan rumah tangga.

Sebagai seorang prajurit keraton, Ayah IJ Kasimo tidak diperbolehkan memiliki pekerjaan lain kecuali mengabdi pada sultan.

IJ Kasimo dilahirkan dalam kondisi sistem feodalisme yang menguat.

Segala sesuatu dipusatkan untuk kepentingan Sultan beserta keluarganya.

Hampir seluruh tanah di wilayah kesultanan dikuasai oleh Sultan dan dibagikan kepada para putra dan putrinya.

Sistem tersebut menjadikan Ayah IJ Kasimo tidak menerima gaji. Namun sebagai imbalang, ayahnya diberi sebidang tanah seluas 7096,50 meter persegi.

Setelah terbitnya aturan baru tahun 1918, ayah IJ Kasimo beru menerima uang sebesar 26 gelo.

Disini IJ Kasimo merasakan bahwa gaji ayahnya tidak cukup untuk kebutuhan.

Karena itu, ibunya harus memeras keringat dan membanting tulang untuk pekerjaan tambahan dengan menjadi Parealan atau tukang tukar uang di pasar serta membuat usaha pembatikan kecil-kecilan.

IJ Kasimo kerap membantu ibunya melayani pelanggan di warung, mengerok batik, menemaninya ke pasar, membuat teh untuk ayahnya, dan menimba air untuk mandi.

Selain feodalisme, IJ Kasimo dilahirkan di zaman kolonialisme dimana kebijakan pemerintah Hindia Belanda difungsikan untuk kemakmuran bangsa lain.

IJ Kasimo juga merupakan seseorang yang gemar membaca.

Ia sering meminjam buku-buku milik ayahnya yang bekerja di Keraton.

Setiap malam ia selalu membaca buku tentang Babad Ramayana.

Karena ia juga lancar bahasa belanda, maka kemampuan bacaan IJ Kasimo semakin luas.

Ia sering mempelajari buku bacaan dari bahasa Belanda yang berhubungan dengan pengetahuan ekonomi dan sosial.

Di daerah Muntilan, ia selalu membaca majalan Sworo Tomo, yaitu terbitan forum komunikasi alumni Kolese Xaverius Muntilan.

Di sekolahnya, IJ Kasimo ikut bergabung dalam klub diskusi pimpinan Mas Soejoet, Guru Bahasa Jawa.

Beberapa buku-buku yang memantik nasionalisme IJ Kasimo adalah seperti karangan de Bruijn yang berjudul Sociologische Beginselen / Prinsip-prinsip Sosiologi yang dalam salah satu bagian tulisannya mengatakan bahwa pemerintah terbaik sebaiknya berasal dari masyarakat itu sendiri.

Kemudian buku karangan seorang imam Karmelit, De. Llovera dan terjemahan Dr. Drieschen berjudul Katholieke Maatschappijleer atau Ajaran Sosial Katolik.

Selanjutnya tentu karangan-karangan dari Pastor van Lith.

Riwayat Pendidikan

Karena ayahnya merupakan seorang prajurit keraton, maka keluarganya memiliki status cukup terpandang.

Karena itu, IJ Kasimo berkesempatan untuk bersekolah di Tweede Inlandsche School atau yang kerap disebut Sekolah Ongko Loro di Kampung Gading, tidak jauh dari rumahnya.

Setamat dari Sekolah Ongko Loro, IJ Kasimo kemudian melanjutkan ke sekolah keguruan di Muntilan yang didirikan oleh Pastor van Lith.

Di sekolah inilah IJ Kasimo mulai mengenal nilai-nilai caritas.

Caritas atau cinta kasih tidak dipahami sebagai sikap manis, tetapi kasih yang terwujud dalam sikap berani berpihak pada mereka yang tertindas dan membela keadilan.

Kasimo yang ketika itu tinggal di asrama, pada akhirnya mulai tertarik untuk mendalami agama Katolik.

Tepat pada hari raya Paskah, April 1913, IJ Kasimo yang saat itu masih berusia 13 tahun dibaptis secara Katolik dan mendapat nama baptis Ignatius Joseph.

Setelah menamatkan pendidikannya di Muntilan, pada 1918 IJ Kasimo hijrah ke Bogor guna meneruskan pendidikannya di Sekolah Pertanian Menengah atau Middelbare Landbouw School (MLS).

Pertemuan dengan Pastor van Lith

Watak IJ Kasimo semakin terbentuk saat bertemu dengan Frans van Lith S. J. atau Pastor van Lith.

Pastor van Lith adalah seorang imam Jesuit dari Belanda yang meletakkan dasar Katolik di Jawa.

Ia disukai rakyat karena membela kalangan pribumi dibandingkan dengan pemerintahan kolonial.

Pastor van Lith juga sering menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan humanisme kepada IJ Kasimo.

Selain itu, ia juga memberikan pemahaman tentang kebudayaan Jawa, seperti bahasa Jawi Kuno dan aneka kebudayaan lainnya.

Pastor van Lith mengajari IJ Kasimo untuk bekerja keras, hidup sederhana, dan punya rasa kemunisaan.

Kemudian jujur, dan berani membela hak dan kepentingan rakyat tertindas.

Sifat-sifat perikemanusiaan, kerakyatan, kesederhanaan, kejujuran, dan keberanian serta toleransi yang dimiliki oleh IJ Kasimo sedikit banyak adalah cerminan dari ajaran Pastor van Lith.

Tidak seperti kebanyakan orang Eropa yang memiliki misi sekadar untuk membatis orang-orang Jawa.

Pastor van Lith memiliki tujuan lebih untuk memberikan pendidikan yang tinggi kepada pemuda-pemuda Jawa, hingga mereka dapat memperoleh kedudukan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Saking peduli dan cintanya Pastor van Lith kepada kaum pribumi, membuatnya mendapat julukan sebagai “Bapak orng Jawa” dan “Perintis misi Jawa”.

Ia juga sangat dihormati dan dicintai oleh masyarakat dan murid-muridnya, termasuk IJ Kasimo.

Pengaruh ajaran-ajaran Pastor van Lith juga cukup besar kepada IJ Kasimo.

Kasimo sangat terkesan dengan pribadi Pastor van Lith yang sangat menyelami jiwa Jawa, padahal dia adalah seorang Belanda.

Lebih jauh, Pastor van Lith juga seorang yang halus, sesuai kepribadian orang-orang Jawa.

Misalnya ketika menghadapi anak-anak yang nakal, ia hanya bisa melelehkan air mata.

Namun ternyata banyak murid-muridnya yang lebih memilih dipukuli ketimbang melihat Pastor van Lith menangis.

Hal ini karena murid-muridnya tahu, jika Pastor van Lith sampai menangis itu berarti ia sangat terluka hatinya.

Berkat ajaran Pastor van Lith, bibit-bibit nasionalisme yang dimiliki IJ Kasimo juga semakin tumbuh.

Ia mengajarkan kepada IJ Kasimo untuk bekerja keras, hidup sederhana, mempunyai rasa kemanusiaan, serta bersikap jujur dan berani membela hak dan kepentingan rakyat yang tertindas.

Lebih jauh, IJ Kasimo juga diajari tentang toleransi terhadap golongan lain yang bukan Katolik.

Pastor van Lith juga selalu menekankan kepada murid-muridnya termasuk IJ Kasimo, bahwa kedudukan pribumi dan Belanda itu setara.

Riwayat Karier

Setelah mengenyam pendidikan selama 3 tahun di MLS, pada pertengahan 1921 Kasimo ditarik menjadi pegawai perkebunan pemerintah (Aspirant Landbouw Consultant) di Kendal, Jawa Tengah

Bersama mandor-mandor lain, ia bertugas mengawasi para buruh penyadap karet.

Meski menjadi mandor, IJ Kasimo tidak pernah menebar kebencian, padahal saat itu banyak kecurigaan dari kaum pribumi kepada golongan Katolik.

IJ Kasimo begitu mengayomi para buruh, bahkan ketika ada seorang buruh dipecat, ia tetap menerimanya untuk dipekerjakan di bagian lain.

Akibatnya, IJ Kasimo dipanggil oleh pimpinan tertinggi perkebunan, ia dimaki-maki, dituduh merusak ketertiban umum dan merusak suasana kerja.

Akhirnya IJ Kasimo dipecat, ia rela kehilangan jabatannya demi seorang buruh.

Ia rela membela kaum kecil karena alasan kemanusiaan.

IJ Kasimo juga menolong rakyat kecil tanpa memandang latar belakang agamanya, yang ia pikirkan hanyalah menolong semua kaum pribumi tanpa terkecuali.

IJ Kasimo kemudian dipindahkan menjadi guru sekolah pertanian di Tegalgondo, Klaten.

Suatu hari, Kasimo membaca Katholieke Maatschappijleer (ajaran sosial katolik) karangan Imam Karmelit, Dr Llovera yang diterjemahkan oleh Dr Drieschen.

Dalam buku tersebut ada sebuah kutipan yang menyatakan: “Setiap bangsa memunyai hak untuk mencapai kemerdekaan dan persatuan.”

Buku hadiah Romo L. Von Rijkevorsel inilah yang memberi inspirasi besar bagi IJ Kasimo.

Ketika di Bogor, Kasimo bergabung dengan Tri Koro Darmo yang kemudian berganti menjadi Jong Java.

Selain itu, IJ Kasimo juga pernah menjadi ketua perkumpulan siswa MLS, Ceres.

Pada masa pergerakan nasional, IJ Kasimo juga aktif berpolitik.

Pada 1923, IJ Kasimo menjadi salah seorang pendiri partai politik, Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD).

Pada 1925 partai ini berganti nama menjadi Perkoempoelan Politik Katolik di Djawa (PPKD) dan pada 1933 berubah lagi menjadi Persatoean Politik Katolik Indonesia (PPKI).

Tahun 1931 sampai 1942, IJ Kasimo menjadi anggota Volksraad.

Selain itu, IJ Kasimo juga pernah menjadi anggota Komisi Sentral Petisi Soetarjo.

Selain ikut menandatangani petisi Soetardjo pada 15 Juli 1936 yang menginginkan kemerdekaan Hindia-Belanda, IJ Kasimo bersama beberapa tokoh PPKI juga ikut bergerak memobilisasi massa untuk mengadakan demonstrasi mendesak agar Petisi Soetarjo diterima oleh Ratu Belanda.

Setelah bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, IJ Kasimo diangkat menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat).

Menanggapi Maklumat Wakil Presiden Mohamad Hatta yang memberi peluang berdirinya partai-partai politik, IJ Kasimo mulai memprakarsai kerja sama seluruh partai Katolik Indonesia untuk bersatu menjadi Partai Katolik.

Upaya itu dimaksudkan IJ Kasimo untuk mengubah citra golongan Katolik sebagai unsur yang melekat dengan kolonialisme menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia.

IJ Kasimo mengaktifkan lagi PPKI yang dilarang pada masa penjajahan Jepang.

Tidak lama kemudian, PPKI pun bergabung menjadi anggota federasi partai-partai Indonesia atau GAPI (1939), yang terkenal dengan semboyan, "Indonesia Berparlemen".

Tujuan GAPI adalah mempersatukan semua partai politik yang ada di Indonesia.

Dasar aksinya adalah hak untuk mengatur diri sendiri, persatuan kebangsaan yang meliputi seluruh rakyat Indonesia, yang bersendikan demokrasi dalam hal politik menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia.

Keikutsertaan PPKI dalam GAPI ditempatkan dalam kerangka pemahaman bahwa umat Katolik tidak berjuang hanya untuk kepentingan agamanya, tetapi mereka mau berjuang demi bangsa, ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.

Setelah kongres di Surakarta, PPKI berubah nama menjadi Partai Katolik Republik Indonesia.

PKRI berpendapat bahwa Negara Indonesia hanya bisa maju dan tegak berdiri bila seluruh rakyat bersatu.

Dengan alasan ini, PKRI tidak ikut terlibat dalam Persatuan Perjuangan yang didirikan Tan Malaka di Purwokerto pada 6 Januari 1946, ataupun Konsentrasi Nasional dan Gerakan Benteng Republik Indonesia.

Demi menggalang kesatuan bangsa, PKRI terlibat dalam pembentukan Persatuan Pertahanan Rakyat dan Program Nasional disertai komitmen perjuangan yang memerhatikan pada usaha untuk memajukan penghidupan rakyat.

IJ Kasimo memandang bahwa perekonomian nasional seharusnya menguntungkan rakyat banyak, pertanian dan perkebunanlah yang menjadi perhatiannya.

Di bidang pendidikan PKRI bekerja sama dengan AMKRI (Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia) dengan mendirikan sekolah di Yogyakarta dan Solo.

IJ Kasimo juga ikut terlibat dalam aneka perjuangan diplomasi dalam rangka mendapat pengakuan secara de jure kemerdekaan RI.

Dia berpartisipasi di berbagai perundingan dengan pemerintah Belanda.

Ketika diadakan Konferensi di Linggarjati, November 1946, IJ Kasimo pun ikut sebagai anggota delegasi RI.

Awal kemerdekaan pada 1947 sampi 1949, IJ Kasimo duduk sebagai Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Kabinet Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo, ia juga menjabat sebagai menteri.

Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), IJ Kasimo duduk sebagai wakil Republik Indonesia.

Setelah RIS dilebur, dia menjadi anggota DPR.

Ketika duduk sebagai anggota dewan, IJ Kasimo turut memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Perjuangan lain yang ditunjukkan Kasimo adalah saat ia ikut merebut Irian Barat.

Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap ia menjabat sebagai Menteri Perekonomian.

Selama menduduki kursi pemerintahan di bidang perekonomian, IJ Kasimo menyatakan gagasannya untuk menyusun rencana produksi 5 tahun (Plan Kasimo), berisikan anjuran untuk memperbanyak kebun bibit unggul, pencegahan hewan pertanian untuk disembelih, penanaman kembali lahan kosong, dan perpindahan penduduk ke Sumatera.

Pada masa Orde Baru, Kasimo diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

Sepak terjang IJ Kasimo tidak berhenti sampai di sini, dalam banyak kesempatan is semakin aktif di bidang kenegaraan.

Sikap tegas IJ Kasimo dan Partai Katolik di satu sisi dikagumi banyak politisi, karena walaupun kelompok minoritas dan partai kecil namun berani bersikap jelas dan mengambil risiko demi prinsip yang diyakini.

Kasimo juga berani menolak konsepsi Presiden Soekarno tanggal 21 Februari 1957 tentang Demokrasi Terpimpin dan arahan politik Nasakom, Demokrasi Parlementer diubah menjadi Demokrasi Gotong-Royong serta dibentuknya Dewan Nasional yang anggotanya diangkat presiden dan berfungsi sebagai penasihat kabinet.

Presiden juga mengungkapkan rencana pembentukan kabinet empat kaki yang berintikan empat partai politik besar yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI.

Partai Katolik dan Masyumi menolak secara tegas konsepsi tersebut di hadapan presiden.

Alasannya bahwa keikutsertaan Komunis dalam pemerintahan akan membawa negara perlahan-lahan berubah menjadi komunis.

Kongres Partai Katolik saat itu pun menolak sistem Demokrasi Terpimpin Soekarno.

Partai Katolik tidak menyetujui tindakan-tindakan yang tidak demokratis dan melanggar UUD 1945, tindakan Presiden Soekarno dipandang mengandung bahaya karena bertentangan dengan prinsip demokrasi dan dikhawatirkan gerakan komunis akan meluas.

Kritik terhadap IJ Kasimo datang dari anggota Partai Katolik lainnya karena penolakan konsepsi presiden berarti Partai Katolik tidak dapat menempatkan wakilnya di pemerintahan.

Dalam kongres partai di Solo tahun 1958, IJ Kasimo mendapat banyak serangan dan pertanyaan mengenai kebijakannya.

Tanggapan IJ Kasimo sangat jelas, ia menantang segenap peserta kongres untuk memilih antara "politiek begiensel" (politik berdasarkan prinsip) atau "politiek opportuniteit" (politik oportunitas), dan yang disepakati kongres adalah sikap politik atas dasar prinsip.

Muncul pula keluhan lainnya akibat sikap Kasimo yang tidak memanfaatkan kedudukan menteri atau jabatan lainnya untuk memberi kemudahan fasilitas atau kesempatan bagi para anggota partai, sesuatu yang lazim terjadi dalam partai-partai lain.

IJ Kasimo menjawab bahwa kedudukan Partai Katolik yang dihormati banyak pihak, dicapai berkat ketabahan perjuangan bersama golongan lain dalam kesederhanaan dan ketekunan.

IJ Kasimo juga pernah dipilih sebagai juru bicara Liga Demokrasi pada 24 Maret 1960, yang dibentuk oleh beberapa politisi yang memperjuangkan agar demokrasi tetap dipertahankan.

Liga Demokrasi terbentuk sebagai respons atas pembubaran parlemen hasil pemilu dan pembentukan DPR Gotong Royong oleh Presiden Soekarno tahun 1960.

Partai Katolik sendiri memberikan memorandum kepada pemerintah untuk menghindari pembentukan parlemen dengan cara yang tidak demokratis.

Bahkan, diusulkan untuk segera melaksanakan pemilu serta kritik banyaknya jumlah anggota yang disediakan bagi PKI dalam parlemen.

Pada 1980, sebagai bentuk apresiasi atas perjuangannya, Paus Yohanes Paulus II menganugerahkan Kasimo penghargaan Bintang Ordo Gregorius Agung serta diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Ordo Gregorius Agung.

Tokoh politik religius ini wafat pada 1 Agustus 1986 di RS Saint Corolus, Jakarta, jenazahnya dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada IJ Kasimo berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 113/TK/2011 tanggal 7 November 2011.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono

ARTIKEL POPULER:

Baca: Profil Maskoen Soemadiredja - Pahlawan Nasional di Bidang Politik

Baca: Profil Prof. Dr. Ir. Herman Johannes - Pahlawan Nasional

Baca: Profil Siti Walidah - Pahlawan Nasional

TONTON JUGA:

Editor: Alfin Wahyu Yulianto
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved