Kamis, 28 Mei 2026

Budidaya Paprika di Desa Deles Kacamatan Bawang Batang

Selasa, 28 Agustus 2018 16:26 WIB
Tribun Jateng

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUN-VIDEO.COM, BATANG - Dari kejauhan nampak beberapa petani memilah daun dari pohon paprika yang ditanam di sebuah bangunan berdinding plastik.

Bangunan tersebut merupakan green house untuk budidaya holtikultura yang terletak di Desa Deles Kecamatan Batang Kabupaten Batang.

Adapun di dalam green house para petani membudidayakan paprika yang hingga kini menjadi pemasok terbesar ke Singapura, Jepang, Bali, Bandung dan beberapa wilayah di Indonesia.

Walaupun terletak di desa yang notabene jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Batang. Namun para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Murni tersebut berhasil mengambangkan pertanian paprika hingga menjadi pemasok ke negara tetangga.

Adapun sistem pertanian yang diaplikasikan merupakan sistem pertanian modern, baik dari pengairan hingga cara penanganan hama.

Dijelaskan Nur Cholis ketua Gapoktan Tani Murni, pangsa pasar paprika masih terbuka lebar bagi masyarakat. Pasalnya permintaan paprika baik di Indonesia ataupun negara lain selalu meningkat.

"Memang permintaan tidak ada habisnya, kami saja baru bisa memenuhi permintaan sekitar 40 persen. Karena setiap daerah seperti Bali, Bandung dan daerah lainnya selalu meminta 4 ton perminggu, namun kami hanya bisa memenuhi 1 ton. Permintaan juga datang dari Singapura tapi kami tidak mengirim seluruhnya ke negara tersebut," katanya, Selasa (28/8/2018).

Memanfaatkan lahan seluas 1 hektar, para petani di Desa Deles yang tergabung di Gapoktan Tani Murni bisa dua kali panen paprika dalam kurun waktu satu tahun.

Baca: Prabowo Berperan dalam Panen Emas di Pencak Silat, Ruhut Sitompul: Ia Pelatih Terbaik Bukan Pemain

"Ada 5000 pohon dengan luasan lahan green house 1 hektar, dan kurun waktu satu tahun kami bisa panen dua kali dengan total sekitar panen 30 ton paprika. Karena pohon paprika bisa dipanen 3-4 hari," paparnya.

Ia menuturkan di Jateng kemungkinan hanya para petani di Deles yang berhasil mengembangkan paprika hingga tembus ke pasar dunia.

"Para petani takut membudidayakan paprika karena tidak tahu tata caranya, memang investasi cukup besar untuk luasan lahan 500 meter persegi membutuhkan sekitar Rp 250 juta. Namun jika dikelola secara baik akan mendapatkan omset sekitar Rp 370 juta, jika dikalkulasi modal akan kembali di tahun pertama. Selanjutnya akan terus mendapat untung hanya membutuhkan biayaya tanam Rp 75 juta untuk 2500 tanaman paprika," jelasnya.

Nur menambahkan, kesuksesan Gapoktan Tani Murni sejak tahun 2010 lalu sempat dilirik investor dari Malaysia. Dan dirinya pernah ditawakan untuk membuat 250 green house dengan luasan satu green house 1 hektar.

"Tawaran itu sangat menggiurrkan, karena setelah dihitung investor berani menanam modal hampir Rp 300 miliar. Namun saya tolak, karena pemaparan mereka jika paprika berkembang di negaranya, investor tersebut ingin menguasi pasar paprika dunia. Otomatis mereka juga mengincar pasar Indonesia dan dampaknya petani lokal akan kuwalahan, karena itu saya menolak bergabung," katanya.

Pihaknya menerangkan, kendala budidaya paprika pada benih. Karena benih masih mengandalkan dari negara kincir angin dan di dalam negeri sendiri belum ada yang bisa memasok benih dengan kualitas baik.

"Kami berharap ada kelompok-kelompok tani di daerah yang bisa membudidayakan paprika. Jika mereka meminta bantuan terkait penyuluhan atau bertukar ilmu kami sangat siap berbagi secara cuma-cuma. Kami juga ingin merubah paradigma tentang petani yang selalu kotor dan hidup di ekonomi rendah dan bisa menunjukan bahwa petani bisa berdasi, dan kinj terbukti paprika dari Desa Deles tembus ke pasar nasional bahkan negara tetangga ketergantungan dengan paprika kami," timpalnya. (TribunJateng.com/Budi Susanto)

Editor: Radifan Setiawan
Sumber: Tribun Jateng

Tags
   #paprika   #Kabupaten Batang

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved