TRIBUN-VIDEO.COM - Upacara tanggal 17 Agustus 1945 digelar dengan sangat sederhana.
Bagian terpenting dari upacara tersebut adalah pembacaan naskah Proklamasi sebagai bukti lepasnya Indonesia dari belenggu penjajahan negara lain.
Persiapan untuk menggelar upacara itu dilaksanakan dalam waktu yang sangat singkat.
Hal ini karena lokasi upacara mengalami pemindahan beberapa jam sebelum dimulai.
Awalnya upacara akan digelar di Lapangan Ikada, namun ternyata berita pembacaan naskah Proklamasi telah sampai ke telinga Jepang.
Sehingga 17 Agustus 1945 pagi Lapangan Ikada telah dipenuhi oleh tentara Jepang.
Untuk itu, lokasi pembacaan naskah Proklamasi segera dipindahkan ke Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Mikrofon atau pengeras suara memiliki peran penting.
Saat itu, Soekarno menceritakan, mikrofon yang ia gunakan saat membacakan teks proklamasi merupakan hasil curian dari stasiun radio milik Jepang.
Baca: Proklamasi Memiliki Makna yang Mendalam Bagi Rakyat Indonesia, Berikut Makna dan Tujuan Proklamasi
Namun hal itu dibantah oleh Sudiro tang merupakan mantan sekretaris pribadi Menteri Luar Negeri pertama RI, Achmad Soebardjo.
Dalam ceramahnya pada 6 September 1972 di Lembaga Pembinaan Jiwa ‘45 Jakarta, Sudiro menyinggung mikrofon yang dikatakan Soekarno hasil curian.
Sudiro mengatakan, mikrofon itu merupakan milik warga negara Indonsia bernama Gunawan yang kemudian menceritakannya.
Dua orang pemuda tampak berkendara berkeliling untuk mencari pinjaman mikrofon .
Mereka adalah Wilopo dan Njonoprawoto yang akhirnya bertemu dengan Gunawan yang bekerja di Radio Satriya.
Namun saat bertemu Gunawan, baik Wilopo dan Njonoprawoto tak sedikit pun mengungkap keperluan di balik peminjaman mikrofon itu.
Saat itu Gunawan langsung membuat mikrofon untuk Wilopo dan Njonoprawoto.
Gunawan amat lihai membuat corong serta verstekker dan band yang dibuat dari selubung rokok.
Semua hasil kecerdasan otak dan ketrampilan tangan Gunawan.
Gunawan pun mengakui bahwa mikrofon yang digunakan saat Proklamasi Kemerdekaan itu buatannya sendiri.
Saat itu mikrofon tersebut ia buat ala kadarnya lantaran kondisi saat itu yang memang serba sulit.
Baca: Biografi Achmad Soebardjo, Salah Satu Pahlawan yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Gunawan berbisnis menyewakan mikrofon dan amplifier serta perlengkapannya.
Namun saat panitia kemerdekaan akan meminjam mikrofon , semua telah habis disewa.
Kemudian karena Wilopo dan Njonoprawoto tak mengerti caranya memasang mikrofon , Gunawan kemudian meminta saudaranya yang bernama Sunarto untuk ikut saja.
Saat di dalam mobil Sunarto diberitahu mikrofon itu akan digunakan untuk membacakan proklamasi kemerdekaan.
Sunartolah yang memasang mikrofon tersebut di lokasi pembacaan naskah proklamasi .
Setelah upacara proklamasi tuntas, mikrofon dikembalikan kepada Gunawan.
Pasca upacara proklamasi , mikrofon bersejarah itu dibaca Gunawan pindah ke Solo pada awal 1946, kemudian dibawa lagi pindah ke Yogyakarta.
Sejak digunakan Soekarno , Gunawan menyimpan mikfrofon tersebut.
Ia tak pernah menggunakannya, apalagi meminjamkannya pada orang lain.
Sesekali ia pamerkan kepada teaman dan sahabat-sahabatnya.
Mikrofon tersebut beberapa kali ditawar oleh orang, namun Gunawan tak pernah mau menjualnya.
Tak tanggung-tanggung, ada orang India yang ingin menukar mikrofon tersebut dengan sebuah rumah.
Tapi Gunawan tetap bergeming tak mau menjual karena nilai sejarah yang tak ternilai di mikrofon tersebut.
Menurut Sudiro, pada 1960 Sekjen Kementerian Penerangan Harjoto meminta mikrofon beserta kakinya, tanpa versterker.
Harjoto melalui Darmosugondo akan menyerahkan mikrofon tersebut kepada Soekarno saat merayakan ulang tahunnya di Tokyo, Jepang.
Harjoto berharap Soekarno menyimpannya di Monumen Nasional.
Namun rencana itu tak terlaksana, sehingga keberadaan mikrofon tersebut masih menjadi misteri hingga saat ini. (Tribun-Video.com)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Video.com dengan judul Asal-usul Mikrofon yang Dipakai Soekarno saat Upacara 17 Agustus 1945, Dicuri dari Radio Jepang
# HUT ke-77 RI # mikrofon # Soekarno # proklamasi
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.