Terkini Daerah
VIDEO: Penertiban Pembakaran Arang di Cilincing Diwarnai Tangis
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino
TRIBUN-VIDEO.COM, CILINCING - Para pemilik lapak pembakaran arang diimbau untuk benar-benar menghentikan operasional mereka pasca pembongkaran corong asap hari ini, Kamis (19/9/2019).
Kasatpol PP Jakarta Utara, Yusuf Madjid menegaskan, apabila mereka kembali beroperasi maka aparat akan bertindak lebih jauh, yakni dengan menyita alat pembakaran arang batok yang digunakan.
"Hari ini warga bongkar corong asapnya. Tapi kalau kembali membakar arang batok maka akan kita sita alatnya," kata Yusuf di Jalan Cakung Drain, RW 09 Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara.
Yusuf juga mengapresiasi para pemilik lapak yang telah patuh terhadap Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.
Hal itu dibuktikan dengan kesadaran tidak lagi berproduksi arang batok yang dapat menyebabkan polusi udara.
"Petugas kami hanya bersifat bantuan saat pemilik tidak sanggup membongkar corong asapnya sendiri," jelasnya.
Pembongkaran hari ini dilakukan secara mandiri oleh warga.
Cerobong asap di 23 lapak dibongkar dengan dibantu ratusan petugas dari Satpol PP Jakarta Utara, petugas PPSU, dan dikawal TNI-Polri.
"Penertiban hari ini hanya sebatas corongnya saja. Karena memang itu sebagai penyebab asap," kata Camat Cilincing, Muhammad Alwi.
Tangisan para pemilik usaha pecah saat pembongkaran lapak pembakaran arang di Jalan Cakung Drain, RW 09 Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, dilakukan pada Kamis (19/9/2019).
Para pemilik usaha ini tampak tegang dan raut wajah mereka berubah menjadi kesedihan saat ratusan petugas berbondong-bondong mendatangi lapak mereka.
Ketegangan itu akhirnya pecah saat para petugas Satpol PP Jakarta Utara memasuki lapak mereka satu per satu.
Haji Bahar yang tadinya meladeni petugas dengan senyuman mulai terbawa emosi.
Pemilik lapak yang telah membuka usahanya sejak 2003 ini lalu menangis.
Ia lalu memeluk Camat Cilincing, Muhammad Alwi, sambil memohon belas kasihan.
"Saya punya pekerja kan 75 orang, tapi kalau nggak kerja mau makan apa mereka," kata Bahar sambil menangis.
Bahar pun mengaku dirinya sudah mengikuti aturan yang diinstruksikan selama ini.
Ia juga mengaku tak pernah melawan terhadap pemerintah, salah satu contohnya ketika ia dipindahkan dari kawasan TPU Semper atau Budi Dharma menuju ke jalanan di RW 09 ini.
"Nggak pernah kita melawan di sini, nggak pernah. Jadi kita dulu dipindah ke sini di atas jalan ini, kan begitu 2003 kita pindah di sini," ucap dia.
Tangisan Khoriah (49) juga pecah saat pembongkaran sudah mulai berjalan. Ia kecewa dengan sikap salah satu petugas PPSU yang merobek terpal di lapaknya dengan kasar. (*)
ARTIKEL POPULER:
Baca: Polusi Udara di Jakarta Meningkat, Jokowi hingga Anies Digugat ke Pengadilan
Baca: Anies Baswedan Sebut Penyebab Pencemaran Udara di Jakarta
Baca: Viral Tanaman Lidah Mertua Disebut Bisa Tangkal Polusi, Stok Mulai Berkurang dan Harganya Mahal
TONTON JUGA:
Video Production: Bayu Romadi
Sumber: TribunJakarta
Terkini Daerah
Momen Satpol PP Tandai Ruko Nakal di Pluit Pakai Pilok, Penyerobot Bahun Jalan dan Saluran Air
Sabtu, 20 Mei 2023
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.