Tribunnews WIKI

Pesawat IPTN N250, Pesawat Indonesia Buatan Industri Pesawat Terbang Nasional

Kamis, 12 September 2019 15:13 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - N250 merupakan pesawat buatan Indonesia yang dirancang oleh Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie, Presiden Republik ke-3 Indonesia.

Nama N250 berasal dari akronim N, yaitu berarti Nurtanio dan atau Nusantara yang merupakan nama industri pesawat tersebut.

Sedangkan angka 2 berarti pesawat tersebut menggunakan dua buah mesin, dan 50 berarti kapasitas pesawat ketika dirancang yaitu 50 penumpang.

BJ Habibie adalah seorang insinyur pesawat yang pernah menimba ilmu aeromodeling di Rhein Westfalen Aachen Technisce Hochschule (RWTH), Jerman pada 1955.

BJ Habibie kembali ke Indonesia setelah diberi perintah oleh Presiden Soeharto untuk membangun industri dirgantara di Indonesia pada 1974.

Dengan akronim yang sama, sebelum menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara, IPTN dibentuk oleh BJ Habibie pada 1976 dengan nama awal Industri Pesawat Terbang Nurtanio.

Program produksi N250 sebenarnya sudah dilakukan sejak 1987 namun informasi tersebut hanya untuk kalangan terbatas.

Setelah BJ Habibie menandatangani perjanjian kerjasama pemasaran dengan Presiden Aero Militair, Sergei Dassault dalam Pameran Kedirgantaraan di Le Bourget, Paris pada 1989, N250 mulai diumumkan secara luas.

Pada1991 BJ Habibie mengumumkan teknologi fly by wire (FBW) yaitu sistem pengontrolan pesawat yang sepenuhnya dilakukan oleh komputer.

FBW pada masa tersebut hanya dipakai oleh Boeing dan Airbus untuk jenis pesawat jet tertentu.

Pada Desember 1991 rancang bangun N250 sedikit diubah berdasarkan rekomendasi tim ilmuwan dari Puspitek, Serpong untuk optimalisasi kinerja pesawat.

Sayap ekor pesawat yang semula low-tail (di bawah) diubah menjadi T-tail (di atas).

Pada 1993 prototipe 1 (PA-1) yang sudah setengah jadi menjalani pengujian di Pusat Uji Penerbangan.

Pengujian dititik beratkan pada faktor aerodinamis, struktur, kontrol kemudi, proteksi terhadap kilat, sistem hidrolik dan landing gear atau roda pendarat.

Di tengah uji coba tersebut BJ Habibie menyatakan pesawat akan diperbesar kapasitasnya dari 50 menjadi 70 kursi agar lebih sesuai dengan pasar Asia Tenggara.

Dengan mengembangkan kapasitas pesawat, N250 bersaing dengan ATR-72 dan ATP buatan British Aerospace.

Spesifikasi

N250 memiliki dua varian yaitu Tipe N250 50 yang dinamakan N250 Gatotkaca, dan N250 100 yang diberi nama N250 Krincingwesi.

Keduanya memiliki spesifikasi sebagai berikut :

Tipe :

64/68 seat, turboprop regional airliner (pesawat perintis berkapasitas 64/68 penumpang, dan menggunakan turbin gas untuk menggerakkan baling-baling).

Tenaga Pembangkit :

Dua buah Allison AE 2100C turboprops bertenaga 2439kW yang menggerakkan enam baling-baling Dowty Rotol.

Performa :

Kecepatan jelajah maksimum : 610km/h (330kt)

Kecepatan jejah ekonomis : 555km/h (300kt)

Initial rate of climb : 1970ft/min

Service ceiling : 25,000ft

Rentang pesawat dengan 50 penumpang dan bahan bakar standar : 1480km (800nm)

Rentang pesawat dengan 50 penumpang dan bahan bakar penuh : 2040km (1100nm)

Berat :

Tipe N250 Gatotkaca

Berat tanpa penumpang : 13,665 kg (30,125lb

Berat maksimal take off : 22,000 kg (48,500lb)

Tipe N250 Krincingwesi

Berat tanpa penumpang : 15,700 kg (34,612lb

Berat maksimal take off : 24,800 kg (54,675lb)

Dimensi :

Tipe N250Gatotkaca

Rentang sayap : 28.00 m

Panjang : 26.30 m

Tinggi : 8.37 m

Area sayap : 65.0 meter persegi

Tipe N250Krincingwesi

Rentang sayap : 28.00 m

Panjang : 28.12 m

Tinggi : 8.78 m

Area sayap : 65.0 meter persegi

Kapasitas :

Dua awak pesawat

Tipe N250 Gatotkaca : 50-54 penumpang

Tipe N250 Krincingwesi : 62-64 penumpang

Produsen :

1976-1985 : Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN)

1985-2000 : Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)

2000-sekarang : PT. Dirgantara Indonesia

Tahun perakitan :

Prototipe : 1998

Perakitan Pesawat : 1992-1995

Perancang :

BJ Habibie

Tempat Perakitan :

Hanggar IPTN Lanud Husein Sastranegara. Bandung, Jawa Barat

Durasi Terbang

55 Menit

Penerbangan Perdana

N250 Terhenti

Proyek Pesawat N250 dilanjutkan oleh putra Bj Habibie, yaitu Ilham Akbar Habibie atau lebih dikenal dengan Ilham Habibie.

Ilham Habibie mengungkapkan bahwa pesawat N250 karya sang Ayah harus kembali dihidupkan kembali.

Ilham Habibie menyatakan bahwa N250 tidak gagal karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena kondisi politik.

Satu dari faktor yang menyebabkan proyek pembuatan N250 terhenti adalah adanya krisis moneter tahun 1998.

Penghentian tersebut membuat proses akhir pengkonvensionalan N250 seperti pengurusan ijin dan sertifikasi layak terbang menjadi terhambat.

Meskipun demikian Ilham Habibie tidak akan kembali menggunakan N250 melainkan mengembangkan jenis baru yang dinamakan R80.

Pembangunan R80 akan dilakukan melalui PT Ragio Aviasi Industri (RAI).

Prototipe Pesawat R80

Tangkap layar prototipe pesawat R80 yang menjadi penerus N250 rancangan BJ Habibie

Ketika berbaring di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, BJ Habibie masih membicarakan tentang pesawat N250 selama dua jam bersama sang keponakan, Rusli Habibie.

BJ Habibie dirawat di ruang Cerebro Intensive Care Unit (CICU) Paviliun Kartika RSPAD sejak 1 September 2019.

Pada Rabu 11 september 2019 pukul 18.05, BJ Habibie meninggal dunia di RSPAD, Jakarta.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)

Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul: Pesawat IPTN N250

ARTIKEL POPULER:

Baca: Pesawat N250 Gatotkaca Karya BJ Habibie

Baca: VIDEO: Pesawat Tempur TNI AU Beraksi di Langit Istana Negara Jakarta pada HUT ke-74 RI

Baca: Profil Ilham Akbar Habibie - Pengusaha dan Ahli Pesawat Terbang

TONTON JUGA:

Editor: Aprilia Saraswati
Video Production: Panji Anggoro Putro
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved