Terkini Nasional
Bloomberg Ungkit Mundurnya Sri Mulyani, Investor Mulai Cemas
TRIBUN-VIDEO.COM - Dulu banyak pertanyaan muncul mengapa Sri Mulyani Indrawati dipilih oleh tiga presiden sebagai Menteri Keuangan RI.Di era Presiden SBY, Sri Mulyani menjabat Menteri Keuangan dari 2005 hingga 2010, era Presiden Jokowi, dia menjabat Menteri Keuangan selama dua periode berturut-turut yaitu 2014–2019 dan 2019–2024, dan era Presiden Prabowo, lagi-lagi Sri Mulyani kembali dipercaya menjadi menteri keuangan.
Namun Sri Mulyani tidak menjabat lama di Era Prabowo karena dia mengundurkan di pada September 2025 lalu.
"Tidak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna. Pasti dalam menjalankan amanah ada kekurangan, ada kekhilafan...," demikian Sri Mulyani dalam sambutannya pada Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (9/9/2025).
Jabatan Menteri Keuangan RI kemudian diserahkan kepada Purbaya Yudhi Sadewa yang menjabat hingga saat ini.Pengunduran diri Sri Mulyani diungkit
Kemarin, Bloomberg salah satu perusahaan penyedia data keuangan, analitik, dan media ekonomi global terkemuka yang bermarkas di New York City, Amerika Serikat, menurunkan ulasan mengenai jatuhnya indeks saham dan nilai tukar rupiah.
Bagi banyak investor, menurut media itu, pengunduran diri Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tahun lalu menjadi titik balik. Ia dikenal sebagai penjamin disiplin fiskal yang meyakinkan pasar bahwa Indonesia akan mempertahankan pengelolaan anggaran konservatif, yang sebelumnya membantu mendapatkan peringkat kredit investasi dan menarik modal asing jangka panjang. Kini, investor mulai meragukan komitmen tersebut.
“Ketidakpastian politik domestik adalah risiko tipikal di pasar berkembang dan investor global cenderung menunggu sampai ada prediktabilitas kembali,” kata Yuxuan Tang, kepala strategi suku bunga dan valuta asing Asia di JPMorgan Private Bank, Hong Kong.
Rupiah menjadi ekspresi paling jelas dari kekhawatiran pasar, jatuh sekitar 14 persen sejak Prabowo menjabat dan menjadi mata uang terlemah di Asia tahun ini.
Konflik Timur Tengah dan harga energi yang tinggi memperburuk posisi eksternal Indonesia, mengingat negara ini masih menjadi pengimpor minyak bersih.Rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar minggu ini.
Pasar memperkirakan kemungkinan penurunan lebih lanjut 45% menuju Rp 19.000 per Desember dan 28% hingga Rp 20.000 dalam setahun.Tekanan juga meluas ke pasar obligasi. Investor asing telah mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp86 triliun (US$ 4,8 miliar), sekitar 9%, sejak Agustus lalu.
Obligasi tersebut telah merugi lebih dari 8?gi investor berbasis dolar tahun ini, dibandingkan dengan kenaikan 1,6% untuk obligasi pasar berkembang secara keseluruhan, meski Bank Indonesia beberapa kali melakukan intervensi.
Kekhawatiran lain muncul dari kepemilikan Bank Indonesia yang terus meningkat terhadap obligasi pemerintah, kini sekitar 27%, angka yang tinggi untuk ekonomi berkembang. Kekhawatiran investor dipicu oleh agenda populis dan intervensi pemerintah yang terus meningkat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang selama ini dipandang lebih ramah terhadap investor asing.Penurunan juga menghantam pasar saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 30% tahun ini, dengan kekhawatiran akan penurunan peringkat kredit negara.
MSCI bahkan sempat memperingatkan kemungkinan menurunkan status Indonesia dari pasar berkembang ke frontier market, memicu salah satu penurunan saham terburuk dalam beberapa dekade.Investor mempertanyakan implementasi kebijakan pemerintah, mulai dari kontrol ekspor komoditas, program belanja negara, hingga upaya pemberantasan korupsi.
Kekhawatiran bukan hanya pada konsep kebijakan, tetapi pada ketidakjelasan pelaksanaannya.“Jika saya tidak bisa mempercayai ‘plumbing’-nya, saya tidak ingin menjadi yang terakhir keluar,” ujar Ana Isabel Gonzalez Encinas, Chief Investment Officer di Farringdon Asset Management, Singapura.
Meski begitu, sebagian investor tetap percaya pada prospek jangka panjang Indonesia.Ekonomi masih tumbuh lebih dari 5%, utang pemerintah relatif rendah, dan Indonesia tetap menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global, khususnya sebagai produsen nikel terbesar dunia.
Populasi yang besar dan muda juga menambah potensi pertumbuhan konsumsi domestik.Yang dibutuhkan pasar saat ini adalah kepastian fiskal, independensi bank sentral, transparansi peran Danantara, dan kejelasan arah kebijakan ekonomi. Kemampuan Indonesia mengembalikan prediktabilitas akan menentukan seberapa cepat modal asing kembali masuk.
Baca: Gebrakan Nanik S Deyang! Dapur MBG Dievaluasi Total, Penambahan Dapur Baru Langsung Dihentikan
Baca: Rupiah Tertekan! Dasco DPR Kumpulkan Menkeu & Gubernur BI Susun Strategi Selamatkan Ekonomi
(Tribunnews/Nitis Hawaroh)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sri Mulyani Menteri Keuangan 3 Presiden dan Melemahnya Rupiah
Editor Video:Dwi Sulistyo Wati
Sumber: Tribunnews.com
Terkini Nasional
Dasco Kumpulkan Menkeu dan Gubernur BI untuk Redam Gejolak Ekonomi dan Stabilkan Rupiah
17 jam lalu
TRIBUNNEWS UPDATE
Raymond-Joaquin Tembus Semifinal Indonesia Open 2026, Servis Gacor Jadi Kunci Kemenangan Dramatis
21 jam lalu
TRIBUNNEWS UPDATE
Duel Merah Putih di Semifinal Polytron Indonesia Open 2026, Sabar/Reza Antisipasi Kebangkitan Junior
22 jam lalu
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.