Tribunnews WIKI

Tradisi Tabot

Minggu, 1 September 2019 17:54 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Tradisi Tabot berasal dari Bengkulu yang diadakan untuk menyambut Tahun Baru Islam.

Tradisi Tabot ini dilaksanakan setiap tahunnya dimulai pada malam 1 Suro hingga 10 Suro dilaksanakan untuk mengenang kisah kepahlawanan cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein Bin Ali Abi Thalib yang gugur dalam peperangan pada 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

Tabot merupakan bahasa lokal Bengkulu yang dalam bahasa Indonesia disebut Tabut yang berasal dari istilah At-Tabut, secara harfiah berarti peti atau kotak kayu.

Tradisi Tabot di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada 1985.

Tradisi Tabot juga dijadikan sebagai agenda wisata tahunan oleh Pemerintah Bengkulu.

Tradisi Tabot di Bengkulu sama dengan tradisi Tabuik di Pariaman Sumatra Barat, namun tahapan pelaksanaannya berbeda.

Sejarah

Tradisi Tabot diduga berasal dari Jazirah Arab yang dibawa oleh orang India dari Punjab ke Bengkulu.

Para orang India tersebut didatangkan oleh Inggris pada abad ke-17 sebagai serdadu dan pekerja untuk membangun benteng Malborough di Bengkulu.

Menjelang datangnya bulan Muharram, para orang India tersebut melaksanakan tradisi Tabot selama 10 hari dengan puncaknya tanggal 10 Muharram.

Awalnya inti dari upacara Tabot adalah untuk mengenang upaya pemimpin Syi'ah dan kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamkannya di Padang Karbala.

Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harafiah berarti kotak kayu atau peti.

Dalam al-Quran kata Tabot dikenal sebagai sebuah peti yang berisikan kitab Taurat.

Bani Israil di masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka.

Sebaliknya mereka akan mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang.

Dalam perkembanganya, upacara Tabot cenderung bergeser menjadi pertunjukan budaya, banyak nilai-nilai kebijaksanaan bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat di dalam pelasanaan tradisi Tabot.

Rangkaian Acara Tradisi Tabot

Tradisi Tabot terdiri atas 9 rangkaian acara.

1. Pertama adalah mengambik tanah (mengambil tanah).

Tanah yang digunakan biasanya berasal dari tempat-tempat keramat sehingga dipercaya memiliki kekuatan magis.

2. Tahap kedua, Duduk Penja (mencuci jari-jari).

Penja adalah benda yang terbuat dari kuningan, perak atau tembaga yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya.

Karenanya penja ini disebut juga dengan jari-jari.

3. Tahap ketiga, Meradai (mengumpulkan dana) yang dilakukan oleh Jola (orang yang bertugas mengambil dana untuk kegiatan kemasyarakatan, biasanya terdiri dari anak-anak berusia 10—12 tahun.

Acara Meradai diadakan pada tanggal 6 Muharam.

4. Tahap keempat, Menjara artinya berkunjung atau mendatangi kelompok lain untuk beruji/bertanding dol, sejenis beduk yang terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya serta ditutupi dengan kulit lembu.

5. Tahap kelima adalah Arak Penja, yang mana penja diletakkan di dalam Tabot dan diarak di jalan-jalan utama Kota Bengkulu.

6. Tahap keenam merupakan acara mengarak penja yang ditambah dengan serban (sorban) putih dan diletakkan pada Tabot kecil.

7. Tahap ketujuh adalah Gam (tenang/berkabung), merupakan tahapan dalam upacara Tabot yang wajib ditaati.

Tahap Gam merupakan saat di mana tidak diperbolehkan mengadakan kegiatan apapun.

8. Tahap kedelapan merupakan arak gendang yang dilakukan pada tanggal 9 Muharam.

9. Tahap kesembilan sekaligus terakhir adalah Tabot Tebuang yang diadakan pada tanggal 10 Muharam.

(TRIBUNNEWSWIKI/Ami Heppy)

Artikel ini telah tayang di tribunnewswiki.com dengan judul: Tradisi Tabot

ARTIKEL POPULER:

Baca: 9 Camilan Tradisional Manis di Jepang yang Bisa Cicipi dan Jadi Oleh-oleh

Baca: Tas Noken Papua, Tas Tradisional Papua

Baca: Midsummer, Tradisi Bangsa Swedia

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved