Geliat Penangkar Perkutut di Banjarmasin, Berburu Bibit hingga ke Thailand

Sabtu, 31 Agustus 2019 16:41 WIB
Banjarmasin Post

TRIBUN-VIDEO.COM - Penghobi burung perkutut atau yang dikenal dengan istilah Kungmania di Banua terbilang cukup ramai. Bahkan tak jarang setiap kali dilaksanakan lomba pesertanya pun begitu banyak.

Tidak hanya memelihara dan mengikutkan lomba saja, Kungmania di Banua pun sudah sampai menernak sendiri burung yang konon menjadi peliharaan para raja tersebut.

Sebut saja Dedi Happyanto yang menernakkan perkutut berupa Sumo BF di rumahnya yang terletak di Kompleks Banjar Indah, Jalan Kayu Balau, No 47, Banjarmasin. Ada sekitar 12 sangkar burung perkutut yang menghiasi halaman rumahnya. Ada yang sedang dikawinkan, sedang mengeram bahkan adapula yang sudah berupa piyik atau anak.

Guna menghasilkan burung yang berkualitas dan bisa diikutkan dalam lomba, tentunya bisa dengan cara menernakkan perkutut dari trah unggulan. Atau misalkan memiliki trah atau keturunan juara.

Hal ini pula dilakukan oleh Dedi, yang bahkan sampai mengimpor bibit perkutut dengan membelinya langsung ke Thailand.
Tidak tanggung-tanggung, Dedi yang baru kembali aktif di dunia Kungmania ini merogoh kocek cukup dalam untuk mendatangkan trah dari Thailand.

"Saya beli sembilan ekor langsung dari Thailand, harganya sekitar Rp 100 juta totalnya dan saya tertarik karena mendengar suaranya, selain memang dari trah yang bagus," ujar dia.

Namun sayangnya, dari total sembilan burung yang dibelinya di Thailand tersebut hanya tiga yang bisa sampai ke Banjarmasin dengan keadaan masih hidup.

"Dari sembilan ekor yang saya beli, hanya tiga yang hidup dan sampai. Sisanya mati semua, tidak tahu apa penyebabnya. Saya beli trah dari Thailand tentunya agar bisa menghasilkan bibit perkutut yang bagus," katanya.

Meskipun sudah memiliki banyak bibit perkutut, namun Dedi mengaku masih belum ada menjual bibit perkutut yang diternakkannya tersebut.

"Belum ada, karena belum ketahuan bagaimana kualitasnya, bagaimana suaranya dan sebagainya. Kalau sudah tahu kualitas dan bunyinya, misalnya menang lomba baru bisa ditawarkan," katanya.

Untuk memelihara serta menernak perkutut ini, Dedi pun tidaklah sendirian melainkan dibantu oleh beberapa orang pegawainya. Baik itu memberi makan, sampai penanganan apabila ada yang sedang sakit.

Dedi sendiri bisa dibilang pemain lama di Kungmania, hanya saja sempat istirahat dan baru awal 2019 kembali menekuni hobinya tersebut. Kali ini bisa dibilang lebih total, karena selain aktif mengikuti beragam lomba burung bahkan di tingkat nasional dia pun juga mulai menernakkannya.

Beberapa waktu lalu bahkan Dedi berhasil menyabet gelar juara pada ajang LPI Siliwangi Cup pada April 2019 lalu melalui perkutut yang bernama Paradise.

Paradise ini dipelihara bukan di Banjarmasin, tapi di Jakarta karena pertimbangan lebih mudah untuk dibawa apabila mengikuti lomba di Pulau Jawa.

Paradise sendiri baru di-take over oleh Dedi dari sang pemilik di daerah Cilacap, Jawa Tengah dan saat itu dia pun membelinya sekitar Rp 90 juta dan langsung diikutkan lomba kemudian menang.

Disinggung mengenai harga, Dedi pun mengatakan sangatkah variatif karena bosa bernilai dari ratusan hingga puluhan juta rupiah. "Kalau harga relatif, bisa berdasar bunyi kemudian orangnya suka tidaknya dengn irama dan suaranya. Dan kalau audah moncer, biasanya harganya tinggi," jelas dia.

Mengenai alasannya lebih suka memelihara perkutut, Dedi menerangkan karena suka dengan suaranya. "Kayaknua perkutut ini lebih enjoy didengar. Iramanya juga sangat enak, apalagi kalau benar-benar bagus," pungkas dia.(TIM)

Editor: Novri Eka Putra
Video Production: Novri Eka Putra
Sumber: Banjarmasin Post
Tags
   #burung perkutut   #Banjarmasin   #Thailand
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved