Tribunnews WIKI

Kerajaan Sriwijaya, Salah Satu Kerajaan Maritim di Indonesia

Jumat, 30 Agustus 2019 07:39 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Srivijaya atau sering disebut Kerajaan Sriwijaya adalah satu dari kerajaan maritim di Pulau Sumatera.

Karena merupakan kerajaan maritim, sebagian besar rakyat Kerajaan Sriwijaya hidup dari perdagangan dan pelayaran.

Kerajaan Sriwijaya pernah menguasai perairan barat Nusantara terutama Selat Malaka.

Kerajaan Sriwijaya memiliki hubungan perdagangan dengan Tiongkok, India, Persia, dan Arab.

Oleh karena itu, banyak catatan sejarah yang membahas Kerajaan Sriwijaya berasal dari bangsa atau negara tersebut.

Dalam Bahasa Sansekerta, sri berarti bercahaya atau gemilang, sedangkan wijaya memiliki arti kemenangan atau kejayaan.

Sehingga secara etimologi, Sriwijaya berarti kemenangan yang gemilang.

Kerajaan Sriwijaya memiliki peradaban dan wilayah kekuasaan yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara, India, Thailand dan Malaysia.

Kerajaan Sriwijaya menjadi ikon kebesaran Sumatera dan kerajaan besar Nusantara di Jawa Timur selain Majapahit.

Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi rujukan kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.

Lokasi

Arkeolog dan sejarawan asal Perancis, George Coedes menemukan berbagai nama Kerajaan Sriwijaya dalam beberapa catatan perjalanan pedagang Tiongkok.

Misalnya Sribhoja, San Fo Qi, Javadeh atau Yavadesh, Zabaj, bahkan Bangsa Khmer menyebut Kerajaan Sriwijaya sebagai Malayu.

Kerajaan Sriwijaya memiliki daerah kekuasaan membentang dari Nusantara seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, hingga Thailand, Kamboja, dan Semenanjung Malaya.

Lokasi Kerajaan Sriwijayai hampir sebagian besar dihubungkan dengan Palembang, Sumatra Selatan.

Berdasarkan prasasti maupun sisa permukiman dari Kota Kapur, Talang Tuo, Karang Berahi, Telagabatu, Kedukan Bukit, Boom Baru, Bungkuk, Kambang Purun, mengungkap lokasi Kerajaan Sriwijaya berada di wilayah Palembang termasuk Palas Pasemah di daerah Lampung.

Sedangkan menurut Kitab Sejarah Dinasti Song buku 489 (960- 1279 Masehi) menyebutkan “Raja San-bo-tsai (San Fo Qi atau Kerajaan Sriwijaya) bertempat tinggal di Chan-pi (Jambi), dan di negeri ini banyak nama orang yang dimulai dengan sebutan ‘Pu’.”

Pemindahan lokasi Kerajaan Sriwijaya ke Jambi diperkirakan disebabkan oleh serangan Kerajaan Cholamandala, yang dikisahkan pada Prasasti Tanjore 1031.

Prasasti tersebut menuliskan tentang Kerajaan Sriwijaya diserang di mana Palembang dihancurkan dan para raja di tangkap serta seluruh sumber kemakmuran dicuri.

Meskipun raja bertempat tinggal di Jambi, daerah Palembang masih berada di bawah pengawasan Kerajaan Sriwijaya.

Sebuah berita Tionghoa Yingyai Shenglan dari 1416 M menyebutkan, Chiu-kang nama kuno Kerajaan Sriwijaya berada di bawah kekuasaan Chao-wa (Jawa).

Pada masa tersebut, Kerajaan Sriwijaya melemah dan daerah Palembang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Meskipun lemah, Kerajaan Sriwijaya tetap memiliki hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di Tiongkok.

Oleh karena itu, Kerajaan Majapahit marah dan pada 1377 Kerajaan Sriwijaya dihancurkan tanpa sisa.

Raja

Berikut para raja terkenal dan membuat Kerajaan Sriwijaya mencapai masa kejayaan:

Raja Daputra Hyang atau Sri Jayanasa (671)

Raja Daputra Hyang membuat Kerajaan Sriwijaya melebarkan kekuasaan hingga daerah Jambi.

Kisah mengenai Raja Daputra Hyang ditemukan pada Prasasti Kedukan Bukit.

Raja Dharmasetu

Pada masa kekuasaan Raja Dharmasetu, Kerajaan Sriwijaya telah meluas hingga Semenanjung Malaya.

Hal tersebut membuat Kerajaan Sriwijaya membangun pangkalan di wilayah Ligor.

Selain itu, Raja Dharmasetu juga membuat Kerajaan Sriwijaya berhasil menjalin hubungan kerjasama dengan Tiongkok dan India.

Raja Balaputra Dewa (860)

Raja Balaputra Dewa adalah raja yang menjabat pada abad ke-9 dan mampu membuat Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan terbesar di Nusantara.

Kisah dari Raja Balaputra Dewa berasal dari Prasasti Nalanda.

Pada masa pemerintahan Raja Balaputra Dewa, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha terbesar di Asia Tenggara.

Berkat Raja Balaputra Dewa, Kerajaan Sriwijaya mampu bekerjasama dengan beberapa kerajaan India seperti Kerajaan Cola dan Nalanda.

Balaputra Dewa merupakan putra dari Raja Samaratungga dan Dewi Tara dari Dinasti Syailendra, Kerajaan Sriwijaya.

Raja Sri Sudamaniwarmadewa (1044)

Pada masa pemerintahan Raja Sri Sudamaniwarmadewa, Kerajaan Sriwijaya mendapatkan serangan dari Raja Darmawangsa dari Jawa Timur.

Raja Sanggrama Wijayattunggawarman

Pada masa kekuasaan Raja Sanggrama Wijayattunggawarman, ternyata Kerajaan Sriwijaya mendapat serangan dari Kerajaan Cholamandala yang dipimpin oleh Raja Rajendra Chola.

Tidak seperti serangan yang terjadi pada masa Raja Sri Sudamaniwarmadewa, Kerajaan Sriwijaya tidak mampu mengalahkan serangan dari Kerajaan Cholamandala.

Sosial Budaya

Agama Buddha berkembang di Kerajaan Sriwijaya misalnya terdapat ajaran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana.

Oleh karena itu, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pengajaran agama Buddha dan menarik peziarah maupun cendekiawan dari negara-negara di Asia.

Cendekiawan tersebut misalnya pendeta Tiongkok, I Tsing, dan cendekiawan asal Benggala benama Atisha.

Kerajaan Sriwijaya telah menggunkan koin emas dan perak sebagai alat tukar.

Karena menguasai Kepulauan Melayu pada abad 7-9 M, rakyat Kerajaan Sriwijaya juga telah menggunakan bahasa dan kebudayaan Melayu.

Sebagai pusat perdagangan Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya juga bekerja sama dengan para pedagang Timur Tengah.

Bahkan Raja Sri Indrawarman memeluk agama Islam pada tahun 718 karena banyak bangsa Arab yang datang ke Kerajaan Sriwijaya.

Hal tersebut menjadi cikal bakal berdirinya beberapa Kerajaan Islam di wilayah Sumatera setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya.

Perkembangan agama Islam di Kerajaan Sriwijaya tercatat dalam surat yang dikirimkan para raja ke khalifah Islam di Suriah, Umar bin Abdul Aziz pada 717- 720 M.

Perdagangan

Kerajaan Sriwijaya menguasai dan mengendalikan jalur perdagangan antara India dan Tiongkok dengan menguasai Selat Sunda dan Selat Malaka.

Bangsa Arab mencatat bahwa Kerajaan Sriwijaya memiliki berbagai macam komoditi seperti emas, timah, gading, pala, cengkeh, kapulaga, kapur barus, dan kayu gaharu.

Kekayaan yang dimiliki tersebut membuat Kerajaan Sriwijaya mendapatkan pengikut setia di wilayah Asia Tenggara.

Politik

Kerajaan Sriwijaya memperkuat kekuasaan wilayah di Asia Tenggara dengan melakukan hubungan diplomasi dengan kekaisaran Tiongkok.

Bahkan Kerajaan Sriwijaya dapat menguasai Kerajaan Khmer sejak pertama kali kerajaan tersebut berdiri.

Sehingga tidak mengherankan jika bentuk Pagoda Borom terpengaruh dengan gaya arsitektur Kerajaan Sriwijaya.

Selain itu, Kerajaan Sriwijaya juga memiliki hubungan baik dengan Dinasti Cholamandala di Selat India.

Hubungan antara Kerajaan Sriwijaya dengan dinasti tersebut tercatat dalam sebuah prasasti Leiden di mana telah didirikan Vihara Culamanivarmma.

Namun, ketika Rajendra Chola I naik tahta, hubungan antara Cholamandala dengan Kerajaan Sriwijaya menjadi buruk pada masa pemerintahan Balaputra Dewa.

Hubungan tersebut membaik pada masa pemerintahan Kulothunga Chola I, namun pada masa tersebut Kerajaan Sriwijaya dianggap sebagai bagian dari Dinasti Chola.

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: Kerajaan Sriwijaya

ARTIKEL POPULER:

Baca: KEBUT | Wisata Buku Pasar Kenari yang Viral di Twitter, Surganya Traveler Pecinta Buku Murah

Baca: 7 Menu Sarapan Enak di Jakarta yang Harus Traveler Coba

Baca: 8 Hutan di Jawa Timur, Wisata Alam yang Instagramable

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved