Rabu, 20 Mei 2026

LIVE UPDATE

Menhan AS Hegseth Sindir NATO, Sebut Banyak Bicara Minim Tindakan saat AS Blokade Selat Hormuz

Jumat, 17 April 2026 17:01 WIB
Kompas.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Amerika Serikat kembali menyoroti sikap sekutu NATO.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, melontarkan kritik terbuka pada Kamis (16/4/2026).

Ia menilai sekutu hanya banyak bicara tanpa tindakan nyata.

Pernyataan itu disampaikan dalam konteks ketegangan dengan Iran.

Hegseth menyinggung pentingnya peran bersama dalam konflik ini.

Baca: Jenderal AS Bongkar Strategi Blokade Selat Hormuz, 12 Kapal Perang Dikerahkan, 13 Tanker Putar Balik

Menurutnya, beban tidak seharusnya ditanggung AS sendiri.

Ia menilai kontribusi sekutu masih jauh dari harapan Washington.

Hegseth juga menyoroti jalur strategis Selat Hormuz.

Ia mengatakan jalur itu tidak terlalu vital bagi AS.

Namun, kawasan itu sangat penting bagi negara lain.

Asia dan Eropa disebut sangat bergantung pada jalur tersebut.

Distribusi energi global banyak melewati Selat Hormuz.

Karena itu, dampak gangguan akan terasa luas.

Hegseth menegaskan sekutu perlu meningkatkan kemampuan militer.

Ia mendorong investasi lebih besar di sektor pertahanan.

Tujuannya agar sekutu mampu menjalankan tugas dasar keamanan.

Seperti menjaga dan mengamankan jalur laut internasional.

Menurutnya, hal itu penting dalam situasi krisis.

Meski begitu, AS tidak sepenuhnya bergantung pada sekutu.

Baca: Taktik Manipulasi Navigasi Kapal Iran Terungkap, Upaya Tembus Blokade AS di Selat Hormuz

Namun, dukungan nyata tetap diharapkan terjadi.

Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan Washington.

AS menilai dukungan militer sekutu masih minim.

Padahal, permintaan telah disampaikan berulang kali.

Presiden Donald Trump disebut aktif mendorong hal ini.

Namun respons sekutu dinilai belum memuaskan.

Sejumlah negara besar disebut memilih tidak terlibat.

Di antaranya Britania Raya, Prancis, Jerman, dan Italia.

Jepang juga termasuk yang belum ikut serta.

Mereka menolak terlibat dalam operasi militer langsung.

Termasuk dalam penegakan blokade maritim terhadap Iran.

Blokade di Selat Hormuz tetap dijalankan oleh AS.

Operasi ini menjadi bagian penting strategi Washington.

Targetnya adalah kapal yang terkait dengan Iran.

Namun kapal lain masih diizinkan melintas.

Baca: Iran Tantang Trump Invasi Darat, Ancam Sandera Ribuan Orang, Ejek AS Tak Berani Lewati Selat Hormuz

Langkah ini menjaga keseimbangan di jalur perdagangan.

Di sisi lain, tekanan terhadap Iran tetap berjalan.

Kebijakan ini berdampak pada arus energi global.

Terutama bagi negara yang bergantung pada impor energi.

Eropa dan Asia menjadi kawasan paling terdampak.

Situasi ini terus menjadi perhatian dunia internasional.

Editor: Agilio OktoViasta
Reporter: Yustina Kartika Gati
Videografer: Aditya Wisnu Wardana
Video Production: Agilio OktoViasta
Sumber: Kompas.com

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved