Jumat, 24 April 2026

Local Experience

Sebelum Siraman, Inilah Makna Pemasangan Bleketepe dalam Pernikahan Jawa

Selasa, 14 April 2026 09:35 WIB
TribunSolo.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Dalam rangkaian pernikahan adat Jawa, termasuk Solo, masih ada banyak simbol dan prosesi yang sarat akan makna filosofis.

Salah satu unsur yang kerap ditemui di pernikahan Solo Raya, Jawa Tengah, adalah bleketepe.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, bleketepe merupakan penanda penting dimulainya hajatan pernikahan.

Namun, tidak sedikit pula yang masih asing dengan istilah dan filosofi di balik pemasangannya.

Secara etimologis, istilah bleketepe berasal dari kata “bale katapi”.

Kata bale berarti tempat, sementara katapi berasal dari kata tapi yang bermakna memisahkan kotoran untuk dibuang.

Dari pengertian tersebut, bleketepe dapat dimaknai sebagai simbol pembuangan hal-hal kotor atau tidak suci, baik secara lahir maupun batin.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bleketepe adalah anyaman daun kelapa yang dipasang di depan rumah sebagai tanda adanya pesta pernikahan.

Dalam praktiknya, bleketepe juga sering digunakan sebagai atap sementara di halaman rumah.

Sementara itu, dalam jurnal “Tarub dan Perlengkapannya Sarat dengan Makna dan Filosofi” (Teknobuga Vol. 2 No. 1, 2015), bleketepe dijelaskan sebagai anyaman janur kuning yang dipasang di halaman rumah sebagai bagian dari perlengkapan tarub dalam pernikahan adat Jawa.

Bleketepe umumnya dibuat dari daun kelapa muda (janur) yang dianyam saling menyilang.

Anyaman ini biasanya dibuat dalam jumlah banyak dan disusun membentuk beberapa bidang persegi.

Secara tradisional, rangkaian bleketepe terdiri dari tujuh buah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 50 x 50 cm.

Selain bleketepe, dalam pemasangannya sering disertai dengan perlengkapan lain seperti pohon pisang, buah pisang raja, tebu, kelapa, dan daun beringin.

Namun seiring perkembangan zaman, pemasangan bleketepe kini sering dilakukan secara lebih sederhana dan simbolis, cukup dengan satu lembar bleketepe yang digantung di atas janur melengkung di depan rumah.

Selain bleketepe, dalam pemasangannya sering disertai dengan perlengkapan lain seperti pohon pisang, buah pisang raja, tebu, kelapa, dan daun beringin.

Namun seiring perkembangan zaman, pemasangan bleketepe kini sering dilakukan secara lebih sederhana dan simbolis, cukup dengan satu lembar bleketepe yang digantung di atas janur melengkung di depan rumah.

Pemasangan bleketepe menjadi bagian dari rangkaian pemasangan tarub, yakni atap sementara yang dipasang untuk keperluan upacara pernikahan.

Selain tarub dan bleketepe, biasanya juga dipasang tuwuhan atau tawuhan, yang masing-masing memiliki makna dan doa tersendiri bagi calon pengantin.(*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Makna Pemasangan Bleketepe dalam Pernikahan Adat di Solo, Dipercaya sebagai Tolak Bala.

Program : Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana

#localexperience #sejarah #bleketepe #pernikahan #adatjawa #shortvideo #tradisi #ritual #shorts #short

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Untung SofaMaulana
Sumber: TribunSolo.com

Tags
   #sejarah   #ritual   #adat Jawa   #Bleketepe   #pernikahan

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved