Selasa, 14 April 2026

Local Experience

Tugu Pamandengan, Warisan Pakubuwono VI hingga Pakubuwono X

Selasa, 14 April 2026 09:02 WIB
TribunSolo.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Kota Solo, Jawa Tengah, memiliki banyak bangunan ikonik dan bersejarah.

Salah satunya adalah Tugu Pamandengan.

Tugu Pamandêngan merupakan salah satu monumen bersejarah yang terletak di pusat Kota Solo, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, di depan Balai Kota Solo.

Tugu yang juga dikenal sebagai titik nol kilometer Kota Solo ini tidak hanya menjadi simbol kota, tetapi juga menyimpan makna mendalam yang terkait dengan kosmologi, kebudayaan, dan sejarah kerajaan Kasunanan Surakarta.

Tugu Pamandengan memiliki desain yang khas dan sederhana namun penuh makna.

Dengan ketinggian sekitar tiga meter, tugu ini berbentuk segiempat yang mengerucut ke atas, dilengkapi dengan empat lentera yang menghadap ke berbagai arah.

Desain ini tidak hanya memberikan kesan estetis, tetapi juga menggambarkan keselarasan dengan nilai-nilai budaya dan filosofi yang berlaku pada masa itu.

Keberadaan lentera yang mengarah ke segala arah bisa dianggap sebagai simbol penerangan atau petunjuk arah, yang mengingatkan kita akan peran penting tugu ini sebagai titik pusat dalam kosmologi Kota Solo.

Mengenai asal-usul tugu ini, ada beberapa pendapat yang beredar.

Tugu Pamandengan diperkirakan merupakan peninggalan dari masa pemerintahan raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta, khususnya pada masa Pakubuwono VI hingga Pakubuwono X.

Namun, beberapa sejarawan juga berpendapat bahwa tugu ini dibangun bersamaan dengan perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono II.

Meskipun tidak ada data otentik yang menyebutkan tahun pasti pembangunannya, perkiraan yang paling kuat adalah bahwa tugu ini mulai dibangun pada masa Pakubuwono IV.

Salah satu fungsi utama Tugu Pamandengan pada masa lalu adalah sebagai titik pusat pandangan Sri Susuhunan (raja) saat bersemayam di Sitihinggil, area yang digunakan oleh raja untuk bermeditasi dan memerintah.

Ketika raja duduk di Pagelaran, pandangannya akan terarah langsung ke Tugu Pamandengan, yang menjadi titik fokus baik secara fisik maupun spiritual.(*)

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Asal-usul Tugu Pemandengan di Titik Nol Kilometer Solo, Dipercaya Poros Duniawi dan Spiritual.

Program : Local Experience
Editor: Untung Sofa Maulana

#localexperience #sejarah #shortvideo #tugupamandengan #solo #pakubuwono #surakarta #shorts #short #ikon #kotasolo #titiknol #spiritual

Editor: Sigit Ariyanto
Video Production: Untung SofaMaulana
Sumber: TribunSolo.com

Tags
   #Tugu   #warisan   #Pakubuwono X   #Keraton Surakarta

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved