Selasa, 19 Mei 2026

Negosiasi AS-Iran Buntu, Wapres AS JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Biang Kerok

Senin, 13 April 2026 17:40 WIB
Tribunnews.com

TRIBUN-VIDEO.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, menyatakan bahwa perundingan dengan Iran yang berlangsung selama 21 jam sejak Sabtu (11/4/2026) gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri aksi saling serang.

Setelah lebih dari enam minggu konflik bersenjata, Amerika Serikat dan Iran akhirnya bersedia duduk bersama dalam perundingan penting, Sabtu (11/4/2026).

Pertemuan ini berlangsung di tengah jeda gencatan senjata sementara selama dua pekan.

Membuka peluang jalur diplomasi setelah konflik panjang yang menelan ribuan korban jiwa serta mengguncang stabilitas energi global akibat terganggunya distribusi minyak di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Negosisasi tersebut digelar di Islamabad, Pakistan.

Presiden AS Donald Trump mengirim tiga tokoh sebagai tim negosiasi (negosiator).

Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance, yang menandai tingkat representasi diplomatik yang sangat tinggi.

Ia didampingi oleh utusan khusus Steve Witkoff yang sebelumnya terlibat dalam sejumlah jalur komunikasi tidak langsung dengan Iran, serta penasihat senior Jared Kushner yang dikenal memiliki peran strategis dalam kebijakan luar negeri AS.

Sementara Iran mengirim 4  negosiator yakni Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebagai kepala delegasi, didampingi oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Selain itu, sejumlah pejabat dari sektor keamanan dan ekonomi juga turut hadir untuk memperkuat posisi negosiasi Teheran diantaranya Eks Gubernur Banka Sentral Iran Abdolnaser Hemmati.

Agenda utama dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad diperkirakan berfokus pada sejumlah isu strategis yang selama ini menjadi sumber ketegangan kedua negara.

Dari pihak Amerika Serikat, tuntutan utama diarahkan pada program nuklir Iran, khususnya terkait cadangan uranium yang diperkaya.

Washington mendorong Teheran untuk menyerahkan atau membatasi kepemilikan material tersebut sebagai bagian dari upaya menekan potensi pengembangan senjata nuklir.

Selain itu, AS juga meminta agar Iran membuka kembali jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik krusial dalam distribusi minyak dunia.

Sementara itu, Iran mengajukan sejumlah tuntutan balasan yang tidak kalah strategis. Teheran menginginkan kendali lebih besar atas Selat Hormuz, termasuk kemungkinan penerapan tarif bagi kapal-kapal yang melintas.

Lebih lanjut Iran juga menuntut penghentian operasi militer di kawasan serta pencabutan seluruh sanksi ekonomi yang selama ini membatasi aktivitas ekonominya di tingkat global.

Di luar isu utama tersebut, konflik di Lebanon turut menjadi perhatian penting dalam pembahasan. 

Iran menegaskan negosiasi tidak akan berjalan efektif tanpa adanya gencatan senjata di wilayah tersebut, terutama karena serangan Israel terhadap Hizbullah masih terus berlangsung.

Dengan kompleksitas isu yang dibahas, mulai dari nuklir, ekonomi, hingga konflik regional, negosiasi ini dipandang sebagai salah satu perundingan paling krusial yang dapat menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah ke depan.

Peran Pakistan di bawah pimpinan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dinilai sangat strategis, terutama karena posisinya yang mampu menjembatani kepentingan kedua pihak yang selama ini berseberangan.

Saksikan LIVE UPDATE selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!

 

Editor: Srihandriatmo Malau
Sumber: Tribunnews.com

Tags
   #Amerika Serikat   #Iran   #JD Vance   #nuklir

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved