Rabu, 8 April 2026

Nasional

Gedung Putih Gelar Rapat Tertutup Bahas Opsi Perang? AS Pertimbangkan Gulingkan Pemimpin Iran

Senin, 23 Februari 2026 22:12 WIB
Kompas.com

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru

TRIBUN-VIDEO.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer skala besar terhadap Iran apabila kesepakatan diplomatik gagal tercapai.

Langkah ini disebut-sebut bertujuan untuk menggulingkan kepemimpinan Teheran dari kursi kekuasaan.

Menurut orang-orang yang diberi informasi tentang pertimbangan internal pemerintahan, dikutip dari The New York Times, Minggu (22/2/2026), Trump cenderung akan melakukan serangan awal dalam waktu dekat untuk memberikan tekanan kepada Iran.

Sejumlah target potensial kini masuk dalam radar pertimbangan, mulai dari markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs nuklir strategis, hingga fasilitas program rudal balistik.

Jika tekanan tersebut tak membuahkan hasil, Trump mengisyaratkan akan membuka peluang operasi militer penuh pada akhir tahun ini dengan target utama menggulingkan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.

Meski demikian, internal pemerintahan AS sendiri masih meragukan apakah tujuan ambisius tersebut bisa dicapai hanya melalui serangan udara.

Baca: Khamenei Gertak Trump! Sebut Rudal Hipersonik Iran Mampu Tenggelamkan Kapal Induk Amerika

Baca: Rangkuman AS-Iran: Trump Galak! Serangan Terbatas Siap Gempur Markas IRGC, 40 Ribu Personel Siaga

Gelar pertemuan tertutup di Gedung Putih Rencana besar ini dikabarkan telah dibahas dalam pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih, Rabu (18/2/2026).  

Pertemuan tingkat tinggi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat teras, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.

Dalam forum tersebut, Trump mendesak Jenderal Caine dan Ratcliffe untuk memaparkan pandangan mereka terkait strategi luas terhadap Iran.  Namun, kedua pejabat tersebut dilaporkan bersikap hati-hati dan tidak memberikan rekomendasi kebijakan spesifik.

Jenderal Caine lebih fokus memaparkan kapabilitas militer dari sisi operasional. Sementara itu, Ratcliffe membedah situasi terkini di lapangan serta analisis dampak dari operasi yang diusulkan.

Berbeda dengan optimisme saat operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela bulan lalu, Jenderal Caine kali ini tidak memberikan jaminan keberhasilan yang sama.  

Hal ini dikarenakan Iran dinilai sebagai target yang jauh lebih kompleks dan sulit ditembus.

Di sisi lain, JD Vance tidak menyatakan penolakan. Namun, ia melontarkan serangkaian pertanyaan tajam mengenai risiko dan kerumitan pelaksanaan serangan tersebut.

(*)

Editor: Dimas HayyuAsa
Video Production: Elvera Kumalasari
Sumber: Kompas.com

Tags
   #Gedung Putih   #perang   #Iran   #Militer

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved