Tribunnews Wiki

Kamera & Fotografer, Pernak-Pernik Proklamasi

Rabu, 14 Agustus 2019 08:57 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Kamera menjadi benda bersejarah atas lahirnya Republik Indonesia saat semua rakyat Indonesia hingga saat ini bisa melihat foto Soekarno saat sedang membacakan teks proklamasi.

Selain kamera, tentu sang pengambil foto atau fotografer menjadi figur yang berpengaruh dalam pengambilan foto saat Soekarno sedang membacakan proklamasi kemerdekaan.

Persoalan kamera yang menjadi benda bersejarah dalam proses terjadinya foto momen proklamasi ini menjadi diskursus sejarah yang menarik.

Demikian juga fotografer, yang karena jasanya dalam mengabadikan momentum terjadinya proklamasi ini menjadi penting untuk dituliskan dalam sejarah pernak-pernik proklamasi.

Dikutip Tribunnewswiki.com dari Historia.id, (14/8/2019), dalam artikel yang ditulis Rahadian Rundjan berjudul "Peran fotografer dalam Mengabadikan Proklamasi Kemerdekaan", dijelaskan singkat mengenai apa jenis kamera yang digunakan, siapa yang melakukan pengambilan foto, serta kisah seputar foto-foto proklamasi.

Kamera

Pada sekitar pukul 05.00 WIB, beberapa orang di Batavia dilaporkan penuh dengan kecemasan sekaligus antusiasme yang tinggi.

Saat itu, terdapat desas-desus Soekarno (Bung Karno) akan membacakan suatu proklamasi.

Kabar akan dibacakannya proklamasi ini telah beredar dengan cepat dari mulut ke mulut.

Pihak Jepang sendiri pun telah mengendusnya.

Pukul 10.00 WIB, proklamasi pun dimulai.

Soekarno terlebih dahulu memberikan sambutan sebelum membacakan proklamasi.

Setelah proklamasi dibacakan, Soekarno juga menutupnya dengan beberapa patah kata dan kalimat.

Saat momen pembacaan proklamasi, seseorang dengan kamera pinjaman bergegas pergi ke Jl. Pegangsaan Timur, No. 56.

Kamera yang ia gunakan adalah kamera Leica dan satu rol film.

Kamera yang dipakai adalah kamera pinjaman dari kantor Djawa Shimbun Sha.

Fotografer

Seseorang yang mengabadikan momen bersejarah tersebut adalah bernama Frans Mendur dan Alex Mendur.

Frans Mendur adalah adik dari Alex Mendur.

Frans Mendur menggunakan jenis kamera Leica dan satu rol film yang dipinjam dari kantor Djawa Shimbun Sha.

Setelah itu, ia kemudian bergegas menuju kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No 56.

Di tempat lain, kakaknya, Alex Mendur, juga ikut bergegas ke tempat yang sama.

Mendur Bersaudara ini tidak ingin melepas momen bersejarah tersebut untuk diabadikan.

Mereka kemudian berhasil mengambil foto saat Soekarno sedang membacakan proklamasi.

Detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia akhirnya terekam dalam foto dan menjadi bukti peristiwa bersejarah.

Nasib Foto-foto Proklamasi

Namun demikian, keinginan untuk menyebarluaskan foto-foto tersebut kepada koran-koran nasionalis sempat mengalami hambatan.

Hal itu disebabkan karena serdadu militer Jepang berusaha mendapatkan foto tersebut.

Karena ketakutan akan rampasan Jepang, Frans menanam fotonya di bawah pohon di halaman kantor harian Asia Raya.

Sedangkan hasil foto yang didapatkan dari Alex Mendur, dirampas dan dihancurkan oleh serdadu militer Jepang.

Dengan demikian, foto-foto yang tersisa hanyalah milik dari Frans Mendur yang sampai saat ini bisa disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Foto-foto milik Frans Mendur ini baru tersebar beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 17 Februari 1946 dalam penerbitan khusus “Nomor Peringatan Enam Bulan Republik” yang diterbitkan harian Merdeka.

Beberapa bulan setelah proklamasi adalah tantangan bagi Mendur bersaudara, karena dengan menggunakan lensa kamera yang mereka punya, mereka melakukan perjuangan dengan cara mereka sendiri, yaitu mendirikan kantor berita foto yang profesional dan independen.

Beberapa wartawan mancanegara yang membutuhkan foto tersebut untuk dokumentasi mereka pun menyebut mereka (kantor berita milik Mendur bersaudara) sebagai Indonesia Press Photo, ungkap Yudhi Soerjoatmodjo (mantan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara kepada Historia.id yang dikutip Tribunnewswiki.com.

“Dari situlah mereka kembangkan namanya menjadi Indonesian Press Photo Service (IPPHOS).” kata Yudhi

Selain Frans dan Alex Mendur, IPPHOS juga diprakarsai oleh kakak-beradik Justus K. Umbas dan Frans “Nyong” Umbas, Alex Mamusung, serta Oscar Ganda.

Peresmian IPPHOS, yang dihadiri banyak wartawan, diselenggarakan pada 1 Oktober 1946.

IPPHOS berkantor di Jalan Molenvlit Oost No 30 –kini, Jalan Hayam Wuruk.

IPPHOS adalah kantor berita foto nasional pertama yang menjadi tempat untuk menampung idealisme dan profesionalisme jurnalistik serta semangat kemerdekaan.

Foto mereka (Mendur bersaudara) memang abadi hingga hari ini.

Namun demikian, IPPHOS sendiri mati.

IPPHOS pernah mencoba bertahan di kawasan Kampung Melayu, di ruang kantor yang sempit, pengap, lembap, dan kerap terendam banjir.

Pada tahun 2004, koleksi penting IPPHOS secara resmi dikelola kantor berita Antara.

Foto-foto Frans Mendur yang Tribunnewswiki.com dapatkan berasal dari unggahan bbc.com.

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data dan sumber baru serta usulan perubahan untuk memperkaya informasi.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki dengan judul: 17 AGUSTUS - Pernak-Pernik Proklamasi: Kamera & Fotografer

Editor: Tri Hantoro
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved