Tribunnews WIKI

17 AGUSTUS - Serial Sejarah Nasional: Indische Partij

Selasa, 13 Agustus 2019 20:42 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Indische Partij merupakan organisasi di Indonesia yang pertama secara tegas menyatakan berpolitik.

Dengan demikian, Indische Partij bisa dikatakan sebagai partai politik pertama yang ada di Indonesia.

Indische Partij sendiri pada awalnya dibentuk untuk memperbaiki nasib kaum Indo yang pada saat itu menaruh dendam kepada belanda dan segala sesuatu yang bercorak Belanda.

Mereka merasa menjadi golongan yang dilupakan oleh bangsa Belanda.

Tokoh pendiri Indisce Partij adalah Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat yang kemudian dikenal sebagai tiga serangkai.

Indische Partij bersifat politik murni dengan semangat nasionalisme modern terhadap bangsa Indonesia.

Cita-cita Indische Partij di antaranya menyatukan semua golongan yang tersebar di Indonesia baik penduduk asli Indonesia maupun golongan lain seperti Indo, Cina, dan Arab.

Tujuan

Setidaknya ada sembilan tujuan Indische Partij ketika ia didirikan, di antaranya:

  1. Memberantas rasa kesombongan rasial dan keistimewaan ras.
  2. Memperkuat daya tahan rakyat Hindia dengan mengembangkan individu ke aktifitas yang lebih besar secara teknis dan memperkuat kekuatan batin dalam soal kesusilaan.
  3. Memelihara nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita-cita kesatuan kebangsaan semua Indiers, meluaskan pengetahuan umum tentang sejarah budaya Hindia, mengasosiasikan intelek secara bertingkat ke dalam suku dan antar suku yang masih hidup berdampingan pada masa ini, menghidupkan kesadaran diri dan kepercayaan kepada diri sendiri.
  4. Memberantas usaha untuk membangkitkan kebenciaan agama dan sektarisme.
  5. Memperbaiki keadaan ekonomi bangsa Hindia, terutama dengan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.
  6. Mengadakan unifikasi, perluasan, pendalaman, meng-Hindia-kan pengajaran, yang semua hal tersebut ditujukan kepada kepentingan ekonomi Hindia, dimana tidak diperbolehkan adanya perbedaan perlakuan karena ras, seks, atau kasta dan harus dilaksanakan sampai tingkat yang setingi-tingnya yang bisa di capai.
  7. Berusaha untuk mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Hindia.
  8. Memperkuat daya rakyat Hindia untuk mempertahankan tanah air dari serangan asing.
  9. Memperbesar pengaruh pro-Hindia di dalam pemerintahan.

Program Kerja

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka Indische Partij memiliki beberapa program kerja.

Program kerja tersebut di antaranya:

  1. Menyerap cita-cita nasional Hindia atau Indonesia
  2. Memberantas kesombongan sosial dalm pergaulan, baik pemerintah maupun masyarakat
  3. Memberantas usaha-usaha yang membangkitkan kebencian antara agama yang satu dengan agama yang lain
  4. Berusaha untuk memperoleh persamaan hak bagi semua orang Hindia.
  5. Memperbesar pengaruh pro-Hindia di lapangan pemerintahan
  6. Dalam hal pengajaran, kegunaannya harus ditujukan untuk kepentingan ekonomi Hindia dan memperkuat mereka yang ekonominya lemah.

Latar Belakang

Douwes Dekker yang merupakan seorang keturunan Indo mencoba untuk mempengaruhi Indische Bond.

Ia mengatakan bahwa sumber dari segala kesulitan yang dialami kaum Indo dikarenakan mereka terlalu tergantung pada pemerintah kolonial yang menyebabkan kaum Indo menderita dan dicampakkan.

Saat sidang Indische Bond di Jakarta pada 12 Desember 1911, Douwes Dekker berpidato tentang gabungan kulit putih dengan sawo matang.

Karena jumlahnya sangat sedikit, ia mengatakan bahwa kaum Indo harus bergabung dengan bangsa Indonesia agar kedudukan organisasinya makin kuat bisa memenangkan pertentangan dengan Belanda.

Namun gagasan itu bertentangan dengan Zaanberg, pemimpin Indische Bond yang ingin mengekalkan penjajahan Belanda di Indonesia.

Sejak 15 September sampai 3 Oktober 1912, Douwes Dekker kemudian melakukan perjalanan propaganda di Pulau Jawa sebagai persiapan pendirian Indische Partij.

Di Surabaya, ia kemudian bertemu dengan Tjipto Mangunkusumo yang bersedia membantu, sedangkan di Bandung bertemu Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara dan Abdul Muis yang juga bersedia menyokong perjuangannya.

Di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, oleh para pengurus Budi Utomo ia juga disambut baik.

Bersama Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker kemudian resmi mendirikan Indische Partij di Bandung pada 25 Desember 1912.

Ketiga orang itu kemudian dikenal sebagai tiga serangkai.

Indische Partij juga memiliki semboyan Hindia for Hindia yang bermakna Indonesia hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang menetap dan bertempat tinggal di Indonesia tanpa terkecuali.

Saat rapat pendirian Indische Partij, ditetapkan juga anggaran dasar mereka yang kemudian diberikan kepada pemerintah untuk mendapatkan pengesahan supaya berbadan hukum.

Sayangnya Gubernur Jenderal Idenberg menolak anggaran dasar Indische Partij karena organisasi itu berlandaskan politik dan mencam hendak merusak keamanan umum.

Oleh karena itu, pada 5 Maret 1913 mereka harus mengubah beberap pasal di dalam anggaran dasarnya supaya bisa memperoleh badan hukum.

Namun ketika diajukan, anggaran dasar yang telah direvisi itu masih saja ditolak oleh Idenberg.

Meski mereka mengadakan audiensi dengan Idenberg, namun pemerintah kolonial Belanda tetap pada pendiriannya untuk menolak anggaran dasar Indische Partij.

Walhasil mereka tetap berjalan sebagai partai terlarang sehingga membuat mereka tidak berumur panjang.

Meski usianya pendek, namun semangat dan jiwa Indische Partij mendapatkan tempat pada para pemimpin pergerakan saat itu.

Keanggotaan

Keanggotaan Indische Partij terbuka untuk semua golongan bangsa tanpa ada perbedaan tingkatan kelas atau kasta.

Adapun golongan-golongan yang menjadi anggota Indische Partij di antaranya golongan bumiputera, Indo, Cina, dan Arab.

Indische Partij tersebar menjadi 30 cabang dengan total anggota mencapai 7.300 orang yang sebagian besar merupaka golongan Indo.

Sedangkan untuk golongan bumiputera jumlahnya sekitar 1.500 orang.

Adapun beberapa cabang terbesar Indische Partij adalah cabang Semarang dengan 1.300 anggota, Surabaya 850 anggota, Bandung 700 anggota, serta Jakarta 654 anggota.

Jumlah anggota Indische Partij tentu jauh lebih kecil jika dibandingkan organisasi lain seperti Sarekat Islam atau Budi Utomo.

Hal itu karena kebanyakan masyarakat pada masa itu masih takut untuk masuk dalam sebuah perkumpulan politik.

Pergerakan Indische Partij

Bergerak sebagai organisasi terlarang membuat umur Indische Partij tidak panjang.

Ketika Belanda hendak merayakan 100 tahun bebasnya mereka dari jajahan Prancis pada 1813, rencana merayakan di Indonesia mendapat antipati dari para tokoh pergerakan dan rakyat Indonesia.

Untuk mengimbanginya, maka didirikan Komite Boemi Poetra di Bandung.

Adapun tujuan komite tersebut adalah untuk mengirimkan telegram kepada Ratu Belanda agar mencabut pasal 111 RR, membentuk majelis perwakilan rakyat sendiri, serta memperjuangkan kebebasan berpendapat di tanah jajahan.

Suwardi Suryaningrat yang juga menjadi pimpinan Komite Boemi Poetra kemudian menulis artikel berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang diterbitkan di Harian De Express.

Artikel itu berisi kritikan tajam kepada pemerintah Hindia Belanda yang berencana merayakan peringatan kemerdekaan mereka di tanah jajahannya.

Tulisan itu pun lantas memancing reaksi keras dari pemerintah kolonial Belanda.

Tiga Serangkai kemudian diperiksa secara intensif.

Dengan menggunakan Hak Luar Biasa atau Exorbitante rechten, Idenburg kemudian mengeluarkan keputusan untuk mengasingkan pimpinan Komite Boemi Poetra pada 18 Agustus 1913.

Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Kupang, Suwardi Suryaningrat ke Banda, dan Douwes Dekker dibuang ke Bengkulu.

Namun ketika mereka mau diasingkan ke luar Hindia Belanda, maka mereka bebas memilih tempat manapun.

Akhirnya mereka bertiga memilih untuk diasingkan ke Belanda.

Akhirnya pada 6 September 1913 mereka diberangkatkan ke Belanda.

Dengan demikian, otomatis membuat Indische Partij tidak lagi berperan dalam pergerakan nasional Indonesia.

Sebenarnya Indische Partij pernah didirikan lagi dengan nama Partai Insulinde yang kemudian pada 1919 berganti lagi menjadi National Indische Partij (NIP).

Namun dalam perkembangannya mereka tidak memiliki pengaruh terhadap rakyat, bahkan mereka hanya menjadi perkumpulan orang-orang terpelajar saja.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Artikel ini telah tayang di tribunnewswiki.com dengan judul 17 AGUSTUS – Serial Sejarah Nasional: Indische Partij

ARTIKEL POPULER:

Baca: 8 Tempat Bersejarah di Surabaya untuk Peringati Hari Kemerdekaan

Baca: Perang Diponegoro, Peristiwa Sejarah sebelum Perang Padri babak kedua

Baca: Pertama dalam Sejarah, Seorang Dokter Cabut 526 Gigi dari Mulut Bocah Berusia 7 tahun

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Fikri Febriyanto
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved