Selasa, 12 Mei 2026

Nasional

Sakit Hati Anak Penjual Es Gabus Terungkap, Ngaku Sedih Ayah Dihujat dan Dicap Pembohong

Senin, 2 Februari 2026 21:11 WIB
TribunJakarta

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.

TRIBUN-VIDEO.COM - Anak dari Suderajat, Andi, akhirnya buka suara soal polemik yang menimpa ayahnya setelah wawancaranya viral bersama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Andi mengaku sakit hati melihat sang ayah diserang warganet.

Namun, ia legowo dan berusaha memahami kondisi Suderajat saat itu.

"Sakit hati juga sih, tapi kita kagak bisa berkata-kata lagi emang salah bapak. Mungkin Kelelahan belum tidur. Intinya belum tidur selama dua hari. Enggak ada niatan jelek dari Suderajat," katanya seperti dikutip dari Insertlive yang tayang pada Senin (2/2/2026).

Menurut Andi, kondisi fisik ayahnya memang sedang tidak dalam keadaan sehat saat bertemu dengan Dedi Mulyadi.

Suderajat disebut kelelahan, mengantuk dan pusing.

Hal senada juga disampaikan oleh Suderajat.

"Pas sama Pak Deddy diwawancarai capek mata saya, ngantuk. Habis bagaimana ngantuk, pusing," kata Suderajat.

Ia pun menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas ucapannya yang dinilai tidak konsisten.

"Minta maaf ya kepada netizen semuanya," kata Suderajat.

Sementara itu, Ketua RW di wilayah tempat Suderajat tinggal, Boim, menjelaskan bahwa kondisi Suderajat memang belum tidur sejak malam sebelumnya.

"Posisi saat hari itu, dia sama saya belum tidur. Sampai pagi belum tidur. Waktu itu minta didampingi sama warga sekitar karena omonganya emang rada plin plan," jelasnya.

Kepala Dusun setempat, Rastono juga meminta publik untuk memaklumi kondisi Suderajat.

Ia menyebut Suderajat memiliki keterbatasan dalam menyampaikan sesuatu.

"Harap maklum ya, karena orangnya kayak semacam ada kekurangan lah. Kalau ngomong ada yang salah mohon dimaklumi," tambahnya.

Baca: Dedi Mulyadi Tindaklanjuti Perintah Prabowo soal Genteng hingga Sampah, Ingin Jawa Barat Lebih Indah

Baca: Dikaitkan Isu Selingkuhan Eks Menpora, Davina Karamoy Bongkar Sosok Pria Idaman: Enak Dilihat

Senada dengan pihak kecamatan

Pihak Kecamatan Bojonggede, wilayah tempat tinggal Suderajat pun juga mengatakan hal yang sama.

Pihak Kecamatan Bojonggede mengungkapkan pembelaannya di balik ketidakjujuran Suderajat.

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menjelaskan mengenai fakta hasil asesmen lintas instansi yang menyebut adanya indikasi disabilitas mental terhadap diri Suderajat dan istrinya.

Perilaku Suderajat yang kerap memberikan jawaban berubah-ubah saat ditanya, termasuk saat berbincang dengan Dedi Mulyadi, bukan semata-mata karena bohong.

Menurut pihak kecamatan, ada dugaan gangguan mental pascatrauma yang memengaruhi kemampuan komunikasi verbal Suderajat dan istri.

"Terkait banyak rumor tentang Pak Suderajat, mungkin jawabannya ketika ditanya (Dedi Mulyadi dalam video YouTube) selalu berubah-ubah dan terkesan seperti berbohong. Hasil dari asesmen kami, itu terdapat indikasi disabilitas, baik pada Pak Suderajat maupun istrinya," katanya seperti dikutip dari Kompas.com Jumat (30/1/2026).

Kondisi tersebut membuat Suderajat kesulitan menyampaikan informasi secara runtut dan konsisten.

Bahkan, menurut keterangan RT dan RW setempat, tampak tanda-tanda keterbelakangan secara psikologis dan mental sejak lama.

Kemudian kondisi itu diperparah dari tekanan setelah peristiwa yang menimpanya.

"Apalagi kondisi istrinya bahkan terlihat lebih parah," ungkapnya.

Tenny melanjutkan keterangan dari Ketua RT dan RW setempat juga menguatkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat.

Kondisi tersebut diduga sudah ada sebelumnya, lalu diperparah oleh tekanan trauma setelah kejadian viral.

"Kami baru bicara indikasi, ya. Tapi yang terlihat jelas itu istrinya," katanya.

Bahkan Suderajat pun ketika diajak komunikasi oleh ketua RT dan RW di lingkungan sekitarnya terindikasi ada keterbelakangan secara psikologis dan mental.

"Jadi Pak Suderajat itu memiliki disabilitas dan memerlukan perhatian khusus memang. Serta tekanan setelah kejadian (trauma) dan banyaknya orang datang ke rumah saat itu (gak terbiasa ketemu orang banyak)," bebernya.

Pemerintah kecamatan berharap penjelasan tersebut dapat menghentikan spekulasi publik dan mengembalikan persoalan Suderajat pada konteks yang sebenarnya, yakni upaya penanganan warga kurang mampu melalui program perbaikan rumah yang sedang berlangsung.

Duduk perkara

Sebagai informasi, dugaan penjualan es gabus berbahan spons di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, mencuat setelah adanya laporan warga.

Warga bernama M. Arief Fadillah (43), seorang wiraswasta yang tinggal di Utan Panjang III, Kemayoran, melaporkan dugaan tersebut melalui call center 110 pada Sabtu (24/1/2026).

Pedagang yang dilaporkan adalah Suderajat (49), warga Kampung Panjang, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia diketahui menjual es kue, es gabus, agar-agar, coklat meses, serta sisa kue yang sempat dibeli pelapor.

Dalam laporan tersebut, es yang dijual disebut mengandung Polyurethane Foam (PU Foam), material yang biasa digunakan sebagai busa kasur atau spons pencuci.

Menindaklanjuti laporan itu, tim piket Reskrim Polsek Kemayoran mendatangi lokasi di Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Hasil pemeriksaan Laboratorium Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya kemudian memeriksa seluruh barang dagangan milik Suderajat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, seluruh sampel es kue, es gabus, agar-agar, dan coklat meses dipastikan aman dan layak dikonsumsi.

"Tim Dokkes telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas: Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya," jelas Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra dalam keterangan tertulis, Minggu (25/1/2026).

"Namun untuk menjamin ketenangan publik dan memastikan hasil yang lebih pasti dan ilmiah, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri," lanjutnya.

Roby menambahkan, hasil resmi dari kedua instansi tersebut masih menunggu proses uji selesai.

Selain itu, polisi juga menelusuri lokasi pembuatan es di wilayah Depok untuk memastikan proses produksi tidak menggunakan bahan berbahaya, termasuk spons.

Sementara, anggota Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan yang diduga menganiaya Suderajat, pedagang es gabus, dijatuhi sanksi internal berupa pembinaan.

Pasalnya, Ikhwan dinyatakan tidak bersalah karena tak terbukti menganiaya Suderajat.

"(Pembinaan) bagaimana dia bisa menyampaikan komunikasi yang baik kepada masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Kapolda Metro Jaya; ‘Jangan sakiti hati masyarakat'," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto saat ditemui wartawan, Senin (2/2/2026).

Budi mengatakan, tidak ditemukannya unsur pidana dalam kasus ini berdasarkan pemeriksaan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam).

"Untuk pemeriksaan terkait tentang anggota Polri, bahwa kami sampaikan dalam proses pemeriksaan terkait tentang seorang Bhabinkamtibmas tidak terbukti melakukan tindakan kekerasan penganiayaan," kata Budi.

(*)

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Pengakuan Menyentuh Anak Pedagang Es Gabus: Sakit Hati Lihat Ayahnya Dihujat Pembohong, tapi Legowo

 

Editor: Dimas HayyuAsa
Video Production: Lulu Adzizah F
Sumber: TribunJakarta

Tags
   #es gabus   #pembohong   #Bogor   #Dedi Mulyadi

Video TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved