Tribunnews WIKI

Bukit Soeharto, Salah Satu Alternatif Ibu Kota Baru Indonesia

Rabu, 31 Juli 2019 20:13 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COMBukit Soeharto yang berada di dua kabupaten, Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur banyak diperbincangkan setelah dipilih menjadi salah satu alternatif ibu kota baru Indonesia.

Bukit Soeharto dikunjungi oleh Presiden Joko Widodo pada 7 Mei 2019 dalam rangka peninjauan awal terkait kelayakan calon ibu kota.

Dalam kunjungan tersebut, Joko Widodo menjelajah kawasan Bukit Soeharto yang berlokasi di Kawasan Hutan Raya (Tahura), Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Joko Widodo mengatakan bahwa Bukit Soeharto memiliki beberapa keunggulan seperti kelengkapan infrastruktur pendukung yang telah tersedia di sekitar kawasan.

Hal itu dinilai dapat menghemat biaya pembangunan.

Infrastruktur tersebut di antaranya adanya jalan tol Samarinda- Balikpapan, serta bandara baik di Samarinda maupun Balikpapan.

Kendati demikian, masih banyak aspek lain yang harus dikaji oleh pemerintah dan dikonsultasikan dengan sejumlah pihak terkait sebelum mengambil keputusan.

Sejarah

Nama Bukit Soeharto dilekatkan pada tempat itu lantara presiden kedua RI, Soeharto pernah melakukan perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda melalui bukit tersebut.

Soeharto juga yang menetapkan kawasan tersebut menjadi Hutan Lindung dengan luas 27.000 hektar pada 1982 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian.

22 tahun kemudian, status kawasan Bukit Soeharto diubah menjadi Taman Hutan Raya dengan luas 61.850 hektar pada 2004 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. SK.419/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004, tentang Perubahan fungsi Taman Wisata Alam menjadi Taman Hutan Raya.

Tujuannya untuk melindungi, menjaga kelestarian dan menjamin pemanfaatan potensi kawasan dan berfungsi sebagai wilayah atau koleksi tumbuhan dan satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli atau bukan asli yang dapat digunakan untuk kepentingan penelitian, pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya, pariwisata, juga rekreasi.

Sejarahnya, kawasan tersebut dulunya merupakan tambang-tambang batu bara yang berjaya.

Namun pada 1990-an, Soeharto menginstruksikan Departemen Kehutanan untuk melakukan reboisasi.

Soeharto juga melibatkan seluruh pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) di Kalimantan Timur dalam program reboisasi tersebut.

Namun karena merupakan bekas tambang batu bara, tanah di kawasan Bukit Soeharto menjadi cenderung mudah terbakar.

Saat musim kemarau, hutan Bukit Soeharto kerap terbakar, terlebih karena tanahnya yang merupakan jenis gambut.

Beberapa sumber bahkan menuliskan kalau bukit tersebut sudah ada dan digunakan sejak zaman penjajahan Jepang.

Bukit tersebut konon dijadikan tempat penyiksaan dan penguburan para Romusha pada masa penjajahan Jepang.

Namun sampai sekarang belum ditemukan literatur yang secara eksplisit menuliskan soal Romusha di Bukit Soeharto.

Spesifikasi

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa kawasan Bukit Soeharto atau populer juga dengan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto memiliki luas 61.850 hektar yang menempati dua kabupaten di Kalimantan Timur, yaitu Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara.

Kawasan Bukit Soeharto terdiri atas kawasan hutan lindung dan kawasan safari dengan luas 19.865 hektar, taman wisata 4.400 hektar, hutan pendidikan 1.500 hektar, Hutan Penelitian Pusat Rehabilitasi Hutan Tropis Unmul 22.183 hektar, Wanariset Samboja 3.504 hektar, serta area perkemahan pramuka seluas 2.700 hektar.

Kawasan Bukit Soeharto dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Samarinda atau 45 menit dari Balikpapan melalui jalur darat.

Sebagian kawasan Bukit Soeharto kini dilewati oleh ruas tol Balikpapan-Samarinda.

Tol senilai Rp 6,2 triliun itu melintas sepanjang 24 kilometer di dalam Tahura Bukit Soeharto yang merupakan area konservasi.

Sedikitnya ada tiga sungai besar yang bermuara ke Sungai Mahakam di daerah Bukit Soeharto.

Karena itu, keberadaan kawasan Bukit Soeharto dinilai bermanfaat untuk hajat hidup orang banyak.

Kawasan Bukit Soeharto juga digunakan sebagai etalase hutan hujan tropis basah di Kalimantan Timur, penyeimbang iklim makro, serta sebagai daerah resapan air.

Ekosistem

Ekosistem Tahura Bukit Soeharto terdiri atas hutan campuran Dipterocarpaceae dataran rendah, hutan kerangas, hutan pantai, semak belukar, dan alang-alang.

Flora

Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto saat ini telah berubah sebagai ekosistem hutan tanaman yang merupakan upaya rehabilitasi dengan berbagai jenis tanaman seperti Acasia (Acasia mangium), Sengon (Albasia sp.), Mahoni (Swietenia mahagoni spp).

Flora asli yang didominasi jenis Meranti (Shorea sp.) dan sebagian merupakan hutan penelitian berupa persemaian berbagai jenis flora seperti Mahang (Macaranga hypoleuca), Ulin (Eusideraxylon zwageri), Kayu arang (Diospyros sp.), dan Kempas (Koompassia malaccensis), Palaman (Iristania spp), Resak (Vatica spp), Bayur (Pterospermum spp), Gmelina (Gmelina arborea), Karet (Havea brasiliensis), Rotan (Calamus sp), Aren (Arenga catechu), serta Ketapang (Terminalia catappa).

Fauna

Terdapat berbagai fauna atau satwa yang hidup di kawasan Tahura Bukit Soeharto.

Satwa-satwa tersebut di antaranya Orang Utan (Pongo Pygmaeus), terdapat di Fasilitas rehabilitasi Pusat Reintroduksi Orang Utan Wanariset Samboja, Beruang Madu (Helarctros malayanus), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Landak (Hystrix brachyura), dan Owa-Owa (Hylobates muelleri)

Ada juga Burung Enggang (Buceros rhinoceros), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Trenggiling (Manis javanica), Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kuau Besar (Lophura sp), Biawak (Varanus salvator), Tupai (Tupaia sp), Musang (Cynogalesp), Babi Hutan (Sus sp), serta Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus).

Kontroversi

Banyak cerita dan kontroversi yang berkembang terkait Bukit Soeharto.

Beberapa tahun lalu, sekitar 2016 ke belakang, Taman Hitan Raya Bukit Soeharto masih layak di sebut sebagai area konservasi dan banyak satwa yang menghuni kawasan tersebut.

Kiri dan kanan jalan terlihat hijaunya hutan yang didominasi pohon akasia dan sungkai.

Namun saat ini pohn-pohon tersebut tampak kecokelatan bekas terbakar, beberapa pohon dengan diameter besar juga tumbang.

Agak masuk ke dalam hutan, terdapat lahan gundul seperti bekas kerukan.

Di sepanjang kanan dan kiri jalan juga terdapat bangunan semi permanen sebagai tempat tinggal, warung makan, juga toilet umum.

Padahal kawasan itu semestinya tidak boleh dijadikan pemukiman.

Pemerintah setempat kemudian menyediakan bangunan permanen untuk merelokasi warga di sana.

Namun ternyata pembangunan tersebut pun menyalahi aturan Kementerian Perhutanan, sehingga relokasi tidak jadi dilaksanakan.

Meski sudah berstatus sebagai Taman Hutan Raya, Bukit Soeharto tidak lepas dari aktivitas pertambangan.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim mencium aroma dugaan korupsi dalam proses perizinan perusahaan tambang yang beroperasi di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Hal ini dikemukakan Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang berdasarkan investigasi yang dilakukan sejak 2009, saat penetapan perubahan batas kawasan Tahura Bukit Soeharto.

Rupang, mengatakan ada 44 perusahaan batu bara yang beraktivitas di kawasan Tahura.

Aktivitas pertambangan batu bara di Tahura mulai menggeliat sejak keluarnya Surat Keputusan Kolaborasi oleh Kementerian Kehutanan melalui SK Menhut No 270/1991 dan SK Nomor 577/2009.

SK tersebut menetapkan bahwa sejumlah perusahaan bisa memanfaatkan jalur sepanjang Tahura Bukit Soeharto untuk jalan hauling.

Sempat kucing-kucingan dengan aparat, penambang illegal di Tahura Bukit Soeharto pun diringkus.

Operasi kegiatan illegal di Tahura, Tim Gabungan mengamankan empat orang dan satu unit eskavator.

Usulan Gubernur Isran Noor menjadikan Tahura Bukit Soeharto sebagai lokasi ibu kota baru juga menuai kritik dari Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang.

Ia mengatakan tidak kaget ketika Isran Noor mengusulkan Bukit Soeharto sebagai kandidat ibu kota negara.

Hal itu menurutnya wajar, karena visi Isran Noor menurut Rupang adalah merusak hutan, alih-alih melestarikan atau memulihkannya.

Berdasarkan catatan Jatam Kaltim, Isran juga memiliki rekam jejak buruk dalam hal pelestarian lingkungan hidup.

Ketika menjadi Bupati Kutim, Isran telah menerbitkan 161 izin usaha pertambangan dan 143 izin lokasi perkebunan sawit.

Dari rekam jejak tersebut, Jatam menilai usulan Bukit Soeharto oleh Isran untuk menjadi ibu kota negara merupakan bukti tidak adanya visi keberlanjutan lingkungan hidup.

Lebih lanjut, Rupang menyarankan agar Isran tidak asal bicara, sehingga tidak mengeluarkan pernyataan yang konyol.

Menurut Rupang, Bukit Soeharto selama ini telah menopang kehidupan tiga kota di Kalimantan Timur.

Munculnya wacana Bukit Soeharto sebagai alternatif ibu kota baru juga dinilai sebagai bentuk pengelolaan yang setengah hati.

Upaya konkret untuk menjaga ekosistem di Bukit Soeharto sebagai Taman Hutan Raya juga dinilai sebagian kalangan masih sangat minim.

Meski berstatus sebagai kawasan hutan lindung dan menjadi paru-paru dunia dalam mengurangi emisi gas karbon, nasib Tahura tetap terancam.

Alasannya, hingga kini tidak ada upaya konkret dari pemerintah untuk melindungi atau pun serius melakukan konservasi ekosistem di sana.

Alih-alih mengkampanyekan pelestarian, kerusakan justru terjadi di mana-mana.

Selain berbagai persoalan di atas, cerita mistis di Bukit Soeharto juga sangat kental.

Banyak orang yang mengaku pernah mengalami hal-hal mistis di luar nalar ketika berada di Bukit Soeharto.

Bukit Soeharto juga dipercaya memiliki hubungan erat dengan sisi kelam pemerintahan Soeharo.

Area hutan itu desebut-sebut menjadi tempat pembuangan mayat korban penembakan misterius atau petrus.

Karena itu, banyak cerita horor yang beredar mengenai Bukit Soeharto.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

ARTIKEL POPULER:

Baca: Dampak Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan, Jakarta Dikhawatirkan Sepi

Baca: Terkait Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan, Ketua MPR RI: Harus Dikaji secara Matang

Baca: Penetapan Ibu Kota Negara, Jokowi Tinjau Kalimantan Paling Strategis

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved