Tribunnews WIKI

Rambut Gimbal Dieng, Fenomena Tumbuhnya Rambut Gimbal

Rabu, 31 Juli 2019 16:43 WIB
TribunnewsWiki

TRIBUN-VIDEO.COM - Rambut Gimbal Dieng adalah fenomena tumbuhnya rambut gimbal secara misterius pada anak-anak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Belum ada riset ilmiah, mengapa Rambut Gimbal muncul pada anak-anak di Dataran Tinggi Dieng.

Lebih membuat kesan misterius lagi yakni di luar kawasan terdekat dari Dataran Tinggi Dieng, tidak ditemukan fenomena Rambut Gimbal demikian.

Selain belum ada riset ilmiah terhadap fenomena Rambut Gimbal, penjelasan logis juga sukar diformulasikan jika menjelaskan kenapa bisa muncul Rambut Gimbal pada anak-anak di Dieng.

Yang pasti jelas diketahui dari fenomena Rambut Gimbal adalah prosesi ruwatan dan pemotongan rambut.

Setelah menjalani ruwatan dan potong rambut itu, biasanya rambut anak-anak Dieng tersebut akan normal kembali.

Sejarah dan Mitos

Ada bermacam latar belakang dan informasi tentang fenomena Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Pertama, masyarakat Dieng menyebut anak-anak berambut gimbal dengan sebutan ‘anak gembel’.

Ini karena rambut gimbal sering dikaitkan dengan orang yang jarang mandi atau malas mengurus tubuh mereka.

Padahal, anak-anak berambut gimbal di Dieng merupakan anak-anak yang terawat.

Menurut masyarakat Dieng, anak-anak berambut gimbal merupakan titipan dari Kyai Kolo Dete.

Kyai Kolo Dete merupakan salah seorang punggawa pada masa Mataram Islam atau sekitar abad 14.

Bersama dengan Kyai Walid dan Kyai Karim, Kyai Kolo Dete ditugaskan oleh Kerajaan Mataram untuk mempersiapkan pemerintahan di daerah Wonosobo dan sekitarnya.

Kyai Walid dan Kyai Karim bertugas di daerah Wonosobo, sementara Kyai Kolo Dete bertugas di Dataran Tinggi Dieng.

Tiba di Dataran Tinggi Dieng, Kyai Kolo Dete dan istrinya (Nini Roro Rence) mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan.

Pasangan ini ditugaskan membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan.

Tolak ukur sejahteranya masyarakat Dieng akan ditandai dengan keberadaan anak-anak berambut gimbal.

Sejak itulah, muncul anak-anak berambut gimbal di kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Versi kedua, yakni pada zaman dahulu kala seorang putri cantik bernama Sinta Dewi memesona Pangeran Kidang Garungan.

Pangeran berniat mempersunting Sinta Dewi.

Gayung pun bersambut, Sinta Dewi menerima lamaran Pangeran Kidang. Padahal, Sinta Dewi belum pernah berjumpa dengan pangeran.

Ketika rombongan pangeran tiba di istana Sinta Dewi, terbelalaklah sang putri.

Pangeran Kidang bukan pangeran gagah perkasa dan tampan, melainkan seorang pangeran dengan kepala kijang.

Sinta Dewi yang telanjur menerima lamaran itu kecewa.

Kalau perempuan zaman modern meminta disediakan rumah dan mobil kepada calon suaminya, Sinta Dewi meminta Pangeran Kidang membuat sebuah sumur.

Alasannya, penduduk di kerajaan Sinta Dewi sulit mendapatkan air. Sumur itu harus selesai dalam satu malam saja. Pangeran Kidang pun menyanggupi permintaan tersebut. Dia lalu menggali sumur.

Kidang terus menggali dan menggali. Dari atas bibir sumur, pengawal dan dayang-dayang Sinta Dewi malahan menimbunnya.

Pangeran kesal dan marah.

Sebelum tewas, dia mengucapkan sumpah bahwa keturunan Sinta Dewi akan berambut gimbal.

Ketiga, dalam informasi dari buku Serat Pereden Dieng yang kini dipegang Santosa, Kepala Dusun Dieng Kulon, moyang dari penduduk Dieng dahulu kala memiliki rambut gimbal.

Setelah terjadi pralaya (bencana) dan kepergian umat Hindu dari Dieng ke bagian timur pulau Jawa dan Bali, ternyata orang yang datang dan mendiami Dataran Tinggi itu setelahnya adalah orang berambut gimbal.

Sosok pertama yang datang ke Dieng pada masa abad 16 adalah Ki Rewog.

Lalu disusul oleh Ki Dite dan Ki Citra.

Dari ketiga orang itu, Ki Rewog dan Ki Dite memiliki rambut panjang gimbal.

Setelah era peradaban Hindu, dimulailah era kearifan lokal dengan tokoh-tokoh tersebut dengan menjadi teladan adatnya.

Ruwatan dan Hal Unik

Munculnya Rambut Gimbal pada seorang anak akan ditandai dengan panas tubuh yang tinggi selama beberapa hari, sakit-sakitan atau beberapa kejanggalan tertentu.

Suhu tubuh anak tersebut akan normal dengan sendirinya pada pagi hari, bersamaan dengan munculnya Rambut Gimbal di kepala sang anak.

Tumbuhnya Rambut Gimbal bisa terjadi pada anak diantara usia enam bulan hingga empat tahun.

Baik anak laki-laki dan perempuan, semua bisa ditumbuhi Rambut Gimbal.

Tidak ada garis keturunan khusus dari anak yang berambut gimbal.

Siapapun, asal memiliki garis keturunan dari orang Dieng dan tinggal disana, memiliki kemungkinan untuk menjadi anak Rambut Gimbal.

Masyarakat Dieng menyebut anak-anak berambut gimbal dengan sebutan ‘anak gembel’.

Ini karena Rambut Gimbal sering dikaitkan dengan orang yang jarang mandi atau malas mengurus tubuh mereka.

Padahal, anak-anak dengan Rambut Gimbal di Dieng merupakan anak-anak yang terawat.

Rambut gimbal ini hanya akan dipotong dalam prosesi khusus yakni ruwatan.

Pengadaan ruwatan harus mengikuti aturan khusus dan memperhatikan juga hal-hal apa saja yang diinginkan si anak dengan Rambut Gimbal.

Biasanya, sebelum dilakukan prosesi ruwatan, si anak akan mengajukan suatu permintaan khusus.

Permintaan ini harus dituruti oleh orangtuanya.

Masyarakat sekitar meyakini, jika pemotongan dilakukan tanpa melalui upacara tertentu, atau bukan atas kemauan si anak, atau permintaannya tidak dikabulkan, rambut gimbal yang sudah dipotong akan tumbuh kembali.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang anak dengan Rambut Gimbal tidak berbeda dengan anak-anak lainnya.

Mereka bermain bersama dengan anak-anak lain.

Hanya saja, anak Rambut Gimbal biasanya cenderung lebih aktif dibanding anak-anak lain.

Pada saat-saat tertentu, emosi anak berambut gimbal pun menjadi tidak terkendali dan bisa tanpa sebab yang jelas.

Kecenderungan ini akan berkurang bahkan menghilang ketika Rambut Gimbal anak tersebut sudah dipotong.

Rangkaian ruwatan Rambut gimbal dimulai beberapa hari sebelum hari pelaksanaan.

Para tetua adat akan melakukan ziarah ke tempat-tempat yang dianggap suci dan mengambil air dari tujuh sumber mata air yang ada di Dataran Tinggi Dieng.

Tempat-tempat yang diziarahi berjumlah 21, termasuk tujuh sumber mata air.

Prosesi ini dapat dilakukan dalam satu hari atau beberapa hari.

Ziarah ini bertujuan meminta izin kepada para leluhur dan penguasa alam agar acara yang akan dilakukan dapat berjalan dengan lancar.

Selain itu, sekaligus berdoa agar acara ruwatan dapat membawa keberkahan bagi si anak, keluarga, maupun seluruh masyarakat Dataran Tinggi Dieng.

Pada hari pelaksanaan, rangkaian ritual akan dimulai pada pagi hari.

Anak-anak dengan Rambut Gimbal yang akan diruwat akan dikumpulkan di rumah tetua adat.

Setelah itu, para anak-anak berambut gimbal ini akan digiring dengan berjalan kaki mengelilingi kampung untuk menuju kompleks candi Arjuna.

Selain anak-anak rambut gimbal, di sini juga berkumpul wanita pengiring yang membawa berbagai makanan persembahan atau biasa disebut dengan nama domas.

Kelompok-kelompok adat, serta para tetua adat yang akan memimpin ritual.

Tempat pertama yang didatangi oleh rombongan sebelum ke kompleks Candi Arjuna adalah Sendang Sedayu.

Di sumber mata air ini, anak-anak dengan Rambut Gimbal akan melalui ritual pensucian atau dikenal dengan nama penjamasan.

Setelah itu, ke Dharmasala untuk merapikan pakaian mereka.

Acara lalu dilanjutkan ke salah satu candi yang ada di Kompleks Candi Arjuna.

Di candi ini, dilakukan pemotongan rambut gimbal.

Rambut gimbal yang telah dipotong selanjutnya akan dilarung di sumber air yang ada di Dieng.

Tempat yang biasanya dijadikan tempat pelarungan adalah Telaga Warna, Telaga Balai kambang, atau Sungai Serayu.

Setelah melalui prosesi ini, rambut gimbal pada anak tersebut tidak akan tumbuh kembali.

Ritual Ruwatan juga sering dikaitkan sebagai ritual proses kedewasaan dari anak-anak.

Wisata Budaya

Dengan adanya acara ritual ruwatan Rambut Gimal, selain sebagai sarana untuk upaya melestarikan kearifan lokal, juga mengundang potensi wisata yang signifikan.

Misalnya, prosesi atau ritual ruwatan Rambut Gimbal diserangkaikan dengan acara Dieng Culture Festival (DCF).

Dieng Culture Festival sendiri merupakan agenda tahunan berupa gabungan antara acara wisata kebudayaan, wisata alam dan pentas kesenian.

Prosesi ruwatan Rambut Gimbal sendiri merupakan salah satu inti acara dalam setiap pagelaran Dieng Culture Festival.

(TribunnewsWiki.com/Haris Chaebar)

ARTIKEL POPULER:

Baca: 11 Tempat Wisata Dekat Lokasi Acara Dieng Culture Festival 2019

Baca: Purwaceng, Tanaman Peningkat Vitalitas dari Dieng

Baca: Telaga Warna, Telaga di Dieng

TONTON JUGA:

Editor: Radifan Setiawan
Video Production: Panji Yudantama
Sumber: TribunnewsWiki
KOMENTAR

Video TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved